Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Bagong Yoyok

Garuda yang sedang belajar mengepakkan sayapnya, suatu hari nanti dia pasti bisa mengelilingi buana dengan selengkapnya

Islam Jawa (Bag 2)

OPINI | 22 June 2011 | 14:22 Dibaca: 761   Komentar: 9   2

1308752425788211933Niat menjadi rukun salat yang pertama karena melandasi tujuan ibadah itu sendiri, niat adalah ruh amal ibadah, sehingga jika tidak benar niatnya maka akan sia-sia amal ibadah seseoranga. Untuk itulah Sastrawijaya menekankan arti pentingnya niat salat, niat (usalli) yang bermula dari kaidah fikih ditafsirkan secara falsafi untuk memperoleh makna terdalam (hakekat) dari kata-kata (lafal) niat sendiri. Untuk mencapai pemahaman yang benar tentang salat, seseorang harus betul-betul mengetahui ilmu dan cara mengamalkan salat yang benar, sehingga tujuan dari salat itu dapat diraih.

Sastrawijaya yang menekankan arti pentingnya niat dalam salat, karena dia mengetahui bahwa inti dari salat itu tergantung dari niatnya. Oleh sebab itu niat dalam salat harus menjadi ngelmu dan laku, sesuatu yang harus dilandaskan pada ilmu pengetahuan (yaitu ilmu hakikat atau ilmu batin), dan harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (dijalani dengan mujahadah atau laku spiritual).

Arti pentingnya niat dalam salat yang sangat ditekankan oleh Sastrawijaya dapat dicermati dari uraian Suluk Sajatining Salat bait 1 dan 2 sebagai berikut : (1) “Kawruhana sira kang sayekti, Rarasane sira dipun-awas, Ngarep wruha wiwitane, Usali kurupipun, Pan sakawan kathahe nenggih, Alip dadi wiwitan, Iya wekasipun, Kekalih dadi wasitah, Esat elam kumpule kawan prakawis”; (2) “Insan kamil jenengira iki, pan kinaryan gentining dattolah, Miwah sipatollah mangke, lan kinarya sireku, kenyatahan sipating Widdhi, tinunggal rasa sira, lan rasa Hyang Ngagung, puniku murading ngiya, Sad puniku tinunggal rupa sireki, lan rupaning Pangeran”. Artinya : (1) “Ketahuilah olehmu dengan sungguh-sungguh, berhati-hatilah dalam pembicaraanmu, pertama ketahuilah permulaannya, usali hurufnya, ada empat jumlahnya, Alif yang menjadi permulaannya, dan juga yang terakhir, Keduanya menjadi wasitah, sat lam menjadi tempat berkumpulnya empat perkara”; (2) “Insan Kamil namanya, yang dijadikan sebagai gantinya datollah, dan kemudian sifatollah, dan dijadikan dirimu itu, sebagai kenyataan sifatnya Tuhan yang menjadi satu dengan hakekatmu, dan hakekat Tuhan Yang Maha Agung, itu maksudnya penjabaran dari ‘iya, sedangkan huruf sad itu menjadi wujud atau jasmanimu, dan demikian juga wujud Tuhan”. Untuk mencapai persatuan dengan Tuhan harus memiliki ilmu, memahami segala apa yang akan diamalkan.

Ilmu bukan hanya dalam pembicaraan, tetapi harus dipahami makna dan niat yang yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana niat dalam salat yang dimulai dengan kata Usalli, niat itu bukan hanya sekedar ucapan belaka atau bacaan niat yang tidak memiliki arti apa-apa. Lebih dari itu, niat merupakan langkah awal dan hal yang sangat fundamen untuk mencapai tujuan salat itu sendiri. Kata Usalli sebagai lafal niyat salat, terdiri dari empat huruf (alif, sad, lam, dan ya atau alif layinah), oleh Sastrawijaya diartikan bahwa huruf Alif yang pertama merupakan perumpamaan manusia, dan huruf alif kedua merupakan perumpamaan Tuhan, yang menghimpit sifat dan dat Tuhan (huruf Sad dan Lam).

Sifat dan Dat Tuhan sebenarnya telah ada dan meyatu dalam diri manusia, sebagai sosok insan kamil. Insan kamil merupakan refleksi sifat-sifat ketuhanan, pengejawantahan Tuhan dalam diri manusia (Insan kamil jenengira iki, pan kinaryan gentining dattolah, Miwah sipatollah mangke). Oleh sebab itu, bagi orang yang betul-betul menghayati salatnya maka dia akan merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya, bahkan ruhnya bersatu dengan Dia. Persatuan hamba dengan Tuhan bukan hanya dalam ruh saja, tetapi juga dalam perilaku atau perbuatan dan dalam sifat-sifatnya (lan kinarya sireku, kenyatahan sipating Widdhi, tinunggal rasa sira, lan rasa Hyang Ngagung). Demikian makna dari huruf ya dari lafal niyat salat (usalli). Adapaun makna dari huruf sad dari lafal niyat salat (usalli), adalah persatuan hamba dengan Tuhan dalam wajah (Sad puniku tinunggal rupa sireki, lan rupaning Pangeran), artinya bahwa wujud manusia itu pada hakekatnya adalah wujud Tuhan itu sendiri. Konsep ini seperti proses penciptaan Nabi Adam A.S (‘ala suratihi), yang dijabarkan oleh Al Jilli menjadi konsep Insan Kamil, bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT dari gambaran-Nya. Kemudian berkembang pula pemikiran Jabir Ibn Hayyan (seorang pakar kimia pada abad ke-28), yang menyatakan bahwa al Kawn al Shagir (alam kecil; micro cosmos) merupakan pancaran atau refleksi dari al Kawn al Kabir (alam besar; makro kosmos). Dengan demikian, penggunaan kata Insan Kamil ini sebenarnya berasal dari bahasa Arab, bahkan dari pemikiran-pemikiran sufi jauh sebelum Sastrawijaya. Pada bait ketiga dijelaskan, bahwa makna huruf lam itu menunjukkan adanya hamba (manusia) yang bersama Allah, maka segala tingkah laku dan gerak-geriknya adalah dalam kuasa atau kendali-Nya, karena sukma (ruh) Allah telah masuk ke dalam sukma hamba-Nya. “Murade lam puniku pan singgih, pan binareng ananing kawula, lawan anane gustine, miwah ing osikipun, lawan nenge kawula iki, agenti lawan sukma, Ing sapolahipun, pangucap parlan den-awas, kurupipun den kena sira nampani, anane dhewekira” Artinya : Maksud lam itu sebenarnya, bersamaan dengan adanya kawula, dan adanya Gusti, serta segala gerak-geriknya, dan diamnya kawula ini, berganti dengan jiwa, dalam segala tingkah lakunya, ucapan parlan dihati-hati, hurufnya boleh kamu terima, adanya dirinya. Kata parlan (Arab: fardhan) dalam niyat salat harus kita cermati, diyakini sebagai bentuk pernyataan seorang hamba yang menerima taklif (beban hukum), karena salat itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.

Salat merupakan sarana seseorang untuk memperbaiki diri, membaguskan budi pekerti sesuai dengan akhlak Allah (takhalaqu bikhalqilllah). Hal ini hanya dapat terjadi ketika manusia sebagai mikro kosmos menyadari asal-usul kejadiannya yang diciptakan dalam rupa Tuhan (‘ala suratihi). Dengan demikian, salat merupakan media atau laku dalam mencapai persatuan hamba dengan Tuhan, tetap merupakan kewajiban yang harus dikerjakan oleh setiap muslim. Makna huruf lam juga berarti bahwa manusia yang telah mencapai persatuan dengan Tuhan melalui salatnya, maka akan memiliki kehendak dan keinginan yang sama dengan kehendak Tuhan. Kehendak manusia yang terlahir melalui segala aktifitas kehidupannya merupakan kehendak Tuhan, karena kehendak Tuhan telah bersatu dengan kehendak hamba, tidak kurang tidak lebih. Pendapat demikian dapat kita lihat pada Suluk Sajatining Salat bait keempat berikut : “Murade lam puniku augi, pan pinadha karsaning kawula, lawan karsane gusti, pan padha karsanipun, dennya lahir kawula iki, tan genti lawan sukma Ing, sakarsanipun tan ana karsa kaliyan, dahad sugih kawula kalawan gusti, tan wuwuh nora kurang”. Artinya : “Maksud lam itu juga, laksana keinginan hamba dan kehendak Tuhannya yang menyatu, meskipun sama keinginannya, wujud lahirnya seorang hamba, tidak berubah menjadi wujud Tuhan, meskipun dalam segala kehendak tidak ada kehendak lain, maka seorang hamba merasa kaya dengan Tuhannya, tidak lebih dan tidak kurang”. Dengan menjadikan usalli sebagai ngelmu dan laku, memahami hakekat niat bukan membaca niat, dan menjadikannya sebagai laku spritual dalam setiap amal perbuatan maka seseorang akan benar-benar merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya. Jika Allah telah hadir dalam hidupnya, ruhnya telah dikuasai oleh ruh Ilahi, maka tidak ada kehendak dan perbuatannya, melainkan kehendak dan perbuatan Tuhan itu sendiri. Karena pada hakekatnya, seorang hamba yang telah mencapai kesucian ruhani akan dapat menyatu dengan Tuhan (manunggaling kawula-Gusti) dalam sisi sifat, zat dan af’alnya. 2. Ngelmu dan Laku Muhamad Lafal niat salat (Usalli) yang terdiri dari empat huruf tersebut (alif, sad, lam dan ya) menyebabkan adanya Muhamad. Artinya, jika seseorang telah mampu melakukan salat dengan benar, sesuai dengan hakekat salat tersebut (berdasarkan makna usalli) maka dia akan menjadi “Muhammad”. Makna Muhammad disini bukan berarti Nabi Muhammad Saw, tetapi Muhammad dalam arti hakekat (ruhani), yaitu sifat, zat dan af’alnya yang telah manunggal dengan Allah Swt. Hakekat ke-Muhamad-an dapat dicapai oleh siapa saja yang mampu menembus hakekat salat, karena pada dasarnya setiap muslim itu adalah “nabi-nabi” kecil (meminjam istilahnya Ulil Abshar Abdala dalam Sukardi, 2001) yang membawa kabar dari langit via Nabi Muhamad untuk disampaikan kepada orang lain. Muhammad adalah nama yang disandang oleh Nabi, terdiri dari empat huruf (mim, ha, mim, dan dal). Hal ini bukan hanya kebetulan, tetapi lebih jauh dari itu, Allah telah memberikan makna yang sangat dalam yang harus dipahami oleh seorang muslim (ngelmu). Kedua lafal tersebut (usalli dan muahamad) mempunyai makna yang linear, tentang adanya kesatuan seorang hamba dengan Sang Khalik. Sebagaimana disebutkan dalam Suluk Sajatining Salat bait kelima berikut: “Ingkang sami kurupe den-yekti, awasena sakawan punika, metu Muhkamad asale, murade emim iku, kang kakekat maring ing ngilmi, iku ati kang mulya, tan pisah puniku, tegese tan kena pejah, ati iku ing-aran ati nurani, iku ati kang mulya. Artinya : Yang hurufnya sama perhatikanlah dengan sungguh-sungguh, perhatikanlah keempat hal tersebut, asal mula Muhammad, maksudnya mim itu, adalah hakekat ilmu, yaitu hati yang mulia, yang tidak dapat dipisahkan, artinya tidak dapat mati, hati itu disebut dengan hati nurani, yaitu hati yang mulia. Berdasarkan lafal Muhkamad dalam Suluk Sajatining Salat (yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW), menurut Sastrawijaya, maka Muhamad itu hanya sosok manusia biasa yang membawa ajaran Islam. Dia hanya sanepan (I’tibar) bagi umat manusia dalam mengamalkan ajaran Islam.

Muhammad yang diyakini bukan hanya sebatas sosoknya secara lahiriah sebagai nabi dan rasul, tetapi lebih menekankan pada simbol-simbol inheren yang dibawa oleh Muhammad itu sendiri. Nama Muhammad (terdiri dari huruf mim, ha, mim, dan dal), nama tersebut bukan sekedar nama biasa atau nama yang secara kebetulan dan tidak mengandung arti apa-apa, tapi memiliki makna hakikat dari diri nabi sebagai seorang utusan Allah yang telah membawa Islam untuk semua umat manusia. Muhamad sebagai seorang nabi dan rasul utusan Allah, tentu telah mengenal hakekat Tuhan dengan segala rahasia-Nya. Berangkat dari keyakinan seperti inilah yang dicoba untuk dipahami oleh Sastrawijaya, bahwa Muhamad itu adalah simbol-simbol rahasia Ilahi yang mengejawantah kedunia. Oleh sebab itu untuk memahami hakekat Ilahi kita harus memahami hakekat Muhammad itu sendiri.

Cara memahami hakekat Muhammad adalah dengan menginterpretasikan segala atribut yang disandangnya, salah satunya adalah lafal atau nama Muhamad itu sendiri. Lafal Muhamad yang terdiri dari huruf mim, ha, mim, dan dal, berpusat maknanya pada huruf mim itu sendiri. Jadi huruf mim itu merupakan intisari dari lafal Muhamad, yang berarti hakekat ilmu. Huruf mim ini keluar dari bersatunya antara hamba dan Tuhan, dalam usalli, karena ketika seseorang telah memahami ngelmu dan laku usalli, maka dia telah bersatu sifat dan zatnya dengan Allah.

Hakekat ilmu itu ada di dalam hati, yaitu hati yang mulia yang tidak pernah mati, tidak terpisah dari Tuhan oleh kematian, hati inilah yang dinamakan dengan hati nurani. Hati nurani ini adalah hati yang mulia, pada hakekaktnya merupakan pancaran dari ruh Ilahi. Oleh sebab itu tidak pernah mati, tidak pernah berpisah dengan Allah. Dengan demikian, nama Muhammad itu menunjukkan adanya ilmu (batin/hakekat) yang yang harus dipahami dan diamalkan oleh manusia. Sebagaimana disebutkan pada bait berikut : “awasena sakawan punika, metu Muhkamad asale, murade emim iku, kang kakekat maring ing ngilmi, iku ati kang mulya”. Muhamad bukan sekedar sosok manusia yang terlahir di Makah dan mencapai kejayaan kenabiannya di Madinah, tetapi dia merupakan warana (media) ilmu dari Allah SWT. “iku ati kang mulya, tan pisah puniku, tegese tan kena pejah, ati iku ing-aran ati nurani, iku ati kang mulya”, di dalam diri Muhamad mengalir lautan ilmu yang tidak bertepi, ilmu yang bersumber dari Sang Pencipta dengan segala rahasianya. Ilmu tersebut hanya dapat dipahami dan diakses oleh orang-orang yang mendalami olah rasa (batin). Rasa yang bersumber pada hati merupakan tempat keluarnya ilmu hakekat, ilmu yang diakses langsung dari Allah SWT. Hati merupakan tempat bersemayamnya ruh, ruh merupakan pancaraan Dzat Ilahi yang menyebabkan manusia hidup. Karena hati merupakan pancaran Dzat Ilahi, maka ia bersifat langgeng, tidak pernah mati, dan jika sudah meninggalkan badan wadag manusia maka akan kembali kepada sumber asalnya, yaitu Allah Azza Wajalla.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Di Kabupaten Ini, Seluruh Desanya Wajib …

Khairunnas Djabo | | 01 August 2014 | 15:34

Peran Kita untuk Menghindari Jebakan Negara …

Apung Sumengkar | | 01 August 2014 | 15:26

Empat Cincin Jantungnya Masuk Lewat Pembuluh …

Posma Siahaan | | 01 August 2014 | 13:46

Gua-gua Bekas Penggalian Batu Kapur di Desa …

Mas Ukik | | 01 August 2014 | 15:11

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 5 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 11 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 12 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: