Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ws-thok

Lahir di Jawa-Timur, besar di Jawa-Tengah, kuliah di DI Yogyakarta, berkeluarga dan tinggal di Jawa-Barat, selengkapnya

Filosofi Gunungan Wayang Kulit

OPINI | 19 June 2011 | 01:23 Dibaca: 5494   Komentar: 32   3

1308446223656858167

Gunungan Gapuran

Sebagai penggemar wayang saya minta tolong, barangkali bisa menjelaskan atau kasih referensi tentang filosofi ‘gunungan’ yang selalu dipakai untuk mengawali dan mengakhiri pementasan.

Saya tahu persis teman saya yang minta tolong kepada saya di atas, karena kami bertahun-tahun pernah bekerja bersama di sebuah perusahaan, sebelum kami berdua pindah ke tempat kerja yang berbeda. Sekarang ia telah menemukan perusahaan yang cocok untuk berkarya (karena statusnya adalah ‘karyawan’). Teman saya ini asli Solo yang akrab dengan wayang dan pertunjukannya. Tentang wayang, sebetulnya ia lebih banyak tahu ketimbang saya. Saya mengenal wayang hanya karena pernah ‘terdampar’ di Yogyakarta saat kuliah, beda dengan teman saya yang mengenal wayang sejak kecil dan sudah menjadi kesehariannya.

Permintaannya yaitu tentang filosofi ‘gunungan’/’kayon’ atau referensinya itu tidak serta merta bisa terpenuhi, karena saya sendiri juga tidak tahu. Namun, saya berterima kasih, karena selanjutnya menjadi keingin-tahuan saya juga. Ya, saya jadi penasaran untuk mencari tahu tentang filosofi gunungan wayang kulit itu.

Sekitar dua tahun yang lalu, teman saya ini pernah membeli ‘wayang gunungan’ ber-prada emas yang lumayan tinggi harganya (saya tidak menyebut mahal, karena sifatnya relatif), yaitu Rp 2,5 juta. Harga itu dari waktu ke waktu selalu naik, entah berapa sekarang. Demikian juga harga wayang lainnya. Terhadap gunungan itu, saya hanya bisa memandangi saja di galeri penjualnya. Saya hanya membeli wayang lainnya yang lebih terjangkau kantong saya. Wajar jika teman saya ingin lebih mengetahui tentang filosofi gunungan yang dimilikinya itu.

Harga itu sepertinya sepadan dengan keindahan tatahan dan sunggingan (pewarnaan) gunungan itu. Gunungan teman saya memperlihatkan tatahan dan sunggingan berupa gapura sebuah istana yang dijaga dua penjaga (Cingkoro Bolo dan Bolo Upoto) yang memegang tameng dan godho di kiri dan kanan, dengan latar belakang seekor harimau dan banteng, juga berbagai jenis fauna yang ‘bertengger’ di pohon besar dan rindang. Jenis gunungan yang dimilikinya adalah Gunungan Gapuran, yang sering juga disebut Gunungan Lanang (lelaki).

Apa yang diketahui teman samalah dengan yang saya ketahui. Gunungan biasa dimainkan setiap sang dalang akan memulai dan mengakhiri pertunjukan wayang (tancep kayon). Gunungan bisa dimainkan untuk menandai setiap babak yang dimainkan. Bisa pula dimainkan untuk menggambarkan/mengasosiasikan sesuatu, seperti: gunung, pohon besar, ombak samodra, angin ribut, api berkobar hebat, gua, dll.

Fungsi gunungan selain untuk mengasosiasikan seperti yang disebut di atas, juga sebagai tanda aba-aba dalang kepada penabuh gamelan, terutama pengendang dan pengendernya.

Kecuali wayang klitik atau wayang tengul, semua wayang (wayang kulit purwa, wayang golek menak, wayang golek purwa, wayang suluh, wayang wahyu, wayang sadat, dll) menggunakan gunungan. Gunungan pada Wayang Klitik menggunakan kayu dan bulu-bulu ekor merak (dadak merak). Gunungan bisa berbeda bentuknya tergantung wayang yang dimainkan, seniman pembuatnya, daerah dan jaman yang berbeda.

Dari browsing di internet, banyak pendapat yang memaknai gunungan. Tidak ada yang salah dari berbagai pendapat itu, selain saling memperkuat. Ada yang berpendapat bahwa gunungan melambangkan bentuk gunung, sebagai tempat yang tinggi, sejuk, tempat orang beristirahat mencari kedamaian dan permenungan/kontemplasi. Bentuk meruncing gunungan menggambarkan tujuan manusia menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ada yang berpendapat lukisan flora dan fauna di dalamnya sebagai gambaran bumi dan kehidupan di dalamnya, dll.

Menurut Ensiklopedi Wayang Indonesia, gunungan melambangkan pohon kehidupan. Kalpataru yang bercabang delapan, sebagai lambang awal dan akhir. Karenanya gunungan wayang juga melambangkan konsep mitos Jawa: sangkan paraning dumadi. Pohon yang tergambar adalah pohon nagasari, yang selain indah bentuknya, juga kuat dan dianggap membawa pengaruh baik bagi orang di sekitarnya. Namun, sebagai perlambang, pohon pada gunungan melukiskan pohon yang hanya ada di kahyangan, yaitu pohon Dewandaru yang dianggap membawa pengaruh keabadian atau kelanggengan. [1]

Gunungan juga melambangkan jalan hidup manusia. Masa kanak-kanak yg belum mengerti kebenaran, (selama bagian patet nem) dilambangkan dengan letak gunungan miring ke kiri. Masa dewasa yang sudah mempunyai kesadaran berbuat benar dan salah, (selama bagian patet sanga) dilambangkan letak gunungan tegak di tengah. Sedangkan masa tua yang mempunyai kemauan kuat untuk bertindak benar, (selama bagian patet manyura) dilambangkan letak gunungan miring ke kanan. [2]

Itulah hasil pencarian (pencurian) saya tentang filosofi gunungan wayang kulit yang terbatas dalam  pengetahuan, waktu dan sumber referensinya. Terima kasih atas masukannya untuk lebih lengkapnya tulisan ini. (Depok, 19 Juni 2011)

——————

Catatan:

Sumber Ilustrasi: http://bambuwulung.wordpress.com/2011/02/16/arti-gunungan-dalam-wayang-kullit/

[1] SENA WANGI, Ensiklopedi Wayang Indonesia, PT Sakanindo Printama, Jakarta, 1999.

[2] Dr. Hazim Amir, M.A., Nilai-nilai Etis dalam Wayang, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1991.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 12 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 12 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 13 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Donor Darah di Perancis …

Bayu Teguh | 10 jam lalu

Magnus Carlsen Tetap Juara Dunia 2014! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 11 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: