Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Katedrarajawen

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis" ______________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan selengkapnya

Toleransi Beragama Sejati

OPINI | 12 June 2011 | 15:41 Dibaca: 326   Komentar: 21   1

Dibutuhkan setetes air kearifan untuk membasahi kekeringan hati untuk memahami makna toleransi beragama yang tertulis di dalam kitab suci-kitab suci.

*

Saling menghargai dan menghormati adalah bahasa sederhana untuk yang bernama toleransi. Toleransi beragama berarti saling menghargai dan menghormati diantara pemeluk agama yang berbeda.

Apa yang dihargai dan dihormati agar tercipta saling pengertian dan pemahaman?

Selama ini saya yakin, banyak diantara kita yang sudah mempraktikkan toleransi beragama dalam kehidupan nyata. Tetapi tak dipungkiri juga masih ada diantara kita yang anti toleransi.

Kita hidup dalam keeklusifan agama yang kita peluk. Membentengi diri untuk tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. Karena menyakini bahwa hanya agama kita yang paling benar sehingga tidak perlu menghargai dan menghormati pemeluk agama lain.

Kembali ke pertanyaan, sebenarnya apa yang kita hargai dan hormati dalam toleran beragama?

Kita harus berani jujur mengakui, bahwa memang ada perbedaan yang sangat mendasar antara agama yang satu dengan agama lainnya. Kita hargai hal itu tanpa perlu memaksakan agar menjadi sama, karena memang berbeda dan kita tidak berhak untuk harus menghormati.

Tetapi kita juga harus berani mengakui, bahwa di ngajarkan untuk saling mengasahi. Mengajarkan   untuk berbuat baik dan tidak berbuat jahat.

Kesamaan inilah yang sepatutnya untuk sama-sama kita hormati. Saat kita menunjukkan rasa toleransi terhadap pemeluk agama lain, seharusnya hal itulah yang menjadi pedoman.

Kita memang tidak perlu menghormati perbedaan yang terdapat pada agama yang kita peluk dengan agama lain. Tetapi kita bisa menunjukkan penghormatan itu pada persamaan yang terdapat dalam setiap agama.

Saat kita memberikan penghormatan kepada sosok yang dihormati oleh pemeluk agama lain dan kegiatan keagamaannya, semata-mata karena teladan kebajikan dan makna dibalik kegiatan tersebut.

Sikap toleransi seorang pemeluk agama sejati adalah selalu menjunjung tinggi dan menyakini sepenuh hati agama yang dipeluknya. Tetapi ia tidak pernah sekalipun mencoba untuk merendahkan dan tidak akan membandingkan agamanya dengan agama lain.

Mungkin kita sudah bosan membaca teori-teori tentang toleran beragama yang ditulis oleh penulis semacam saya yang sudah basi. Karena sesungguhnya dalam setiap kitab suci-kitab suci sudah sangat jelas menuliskan hal ini. Cuma entah karena kepintaran atang kebodohan kita, sehingga tidak dapat memahaminya.

Sepertinya hanya butuh setetes air kearifan untuk membasahi kekeringan hati kita untuk memahami makna toleransi beragama sejatinya. Sayangnya, stok air yang saya miliki saat ini hanyalah airmata buaya!
Duuuuuh…..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 9 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 9 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Axtea 99 | 10 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 10 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: