Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Katedrarajawen

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis" ______________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan selengkapnya

Toleransi Beragama Sejati

OPINI | 12 June 2011 | 15:41 Dibaca: 328   Komentar: 21   1

Dibutuhkan setetes air kearifan untuk membasahi kekeringan hati untuk memahami makna toleransi beragama yang tertulis di dalam kitab suci-kitab suci.

*

Saling menghargai dan menghormati adalah bahasa sederhana untuk yang bernama toleransi. Toleransi beragama berarti saling menghargai dan menghormati diantara pemeluk agama yang berbeda.

Apa yang dihargai dan dihormati agar tercipta saling pengertian dan pemahaman?

Selama ini saya yakin, banyak diantara kita yang sudah mempraktikkan toleransi beragama dalam kehidupan nyata. Tetapi tak dipungkiri juga masih ada diantara kita yang anti toleransi.

Kita hidup dalam keeklusifan agama yang kita peluk. Membentengi diri untuk tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. Karena menyakini bahwa hanya agama kita yang paling benar sehingga tidak perlu menghargai dan menghormati pemeluk agama lain.

Kembali ke pertanyaan, sebenarnya apa yang kita hargai dan hormati dalam toleran beragama?

Kita harus berani jujur mengakui, bahwa memang ada perbedaan yang sangat mendasar antara agama yang satu dengan agama lainnya. Kita hargai hal itu tanpa perlu memaksakan agar menjadi sama, karena memang berbeda dan kita tidak berhak untuk harus menghormati.

Tetapi kita juga harus berani mengakui, bahwa di ngajarkan untuk saling mengasahi. Mengajarkan   untuk berbuat baik dan tidak berbuat jahat.

Kesamaan inilah yang sepatutnya untuk sama-sama kita hormati. Saat kita menunjukkan rasa toleransi terhadap pemeluk agama lain, seharusnya hal itulah yang menjadi pedoman.

Kita memang tidak perlu menghormati perbedaan yang terdapat pada agama yang kita peluk dengan agama lain. Tetapi kita bisa menunjukkan penghormatan itu pada persamaan yang terdapat dalam setiap agama.

Saat kita memberikan penghormatan kepada sosok yang dihormati oleh pemeluk agama lain dan kegiatan keagamaannya, semata-mata karena teladan kebajikan dan makna dibalik kegiatan tersebut.

Sikap toleransi seorang pemeluk agama sejati adalah selalu menjunjung tinggi dan menyakini sepenuh hati agama yang dipeluknya. Tetapi ia tidak pernah sekalipun mencoba untuk merendahkan dan tidak akan membandingkan agamanya dengan agama lain.

Mungkin kita sudah bosan membaca teori-teori tentang toleran beragama yang ditulis oleh penulis semacam saya yang sudah basi. Karena sesungguhnya dalam setiap kitab suci-kitab suci sudah sangat jelas menuliskan hal ini. Cuma entah karena kepintaran atang kebodohan kita, sehingga tidak dapat memahaminya.

Sepertinya hanya butuh setetes air kearifan untuk membasahi kekeringan hati kita untuk memahami makna toleransi beragama sejatinya. Sayangnya, stok air yang saya miliki saat ini hanyalah airmata buaya!
Duuuuuh…..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jebakan Betmen di Museum Antonio Blanco …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 06:17

Bu Dokter, Anak Saya Kena Bangka Babi …

Avis | | 22 December 2014 | 07:05

Refleksi Hari Ibu; Dilema Peran Ibu di Era …

Agus Purwadi Umm | | 22 December 2014 | 02:24

Perbaiki Sikap Berkendaraan agar Hemat BBM …

Fajr Muchtar | | 22 December 2014 | 06:22

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Dear, Bapak Jonru… …

Wagiman Rahardjo | 11 jam lalu

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 15 jam lalu

Sensasi Singkong Rebus Menteri Yuddy …

Andi Harianto | 16 jam lalu

Ketika Tulisanmu Dihargai Jutaan Rupiah …

Wijaya Kusumah | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: