Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Samdy Saragih

"Menjadi pintar dapat dilakukan dengan 2 cara. Pertama, membaca.Kedua berkumpul bersama orang - orang pintar." selengkapnya

Pancasila Universal

OPINI | 01 June 2011 | 13:12 Dibaca: 5107   Komentar: 3   0

Hari-hari belakangan, kita kembali sering membicarakan Pancasila. Kita disadarkan bahwa Pancasila bukanlah milik “Orde Baru”. Sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah membuat “alergi” karena dianggap semata-mata sebagai alat rezim diktator tersebut.

Pancasila bukanlah milik sekelompok orang. Pancasila kita yakini menjadi milik kita lagi tatkala sebagian orang tercuci otaknya oleh sebuah organisasi bernama NII. NKRI dianggap berada dalam ancaman karena kelompok bawah tanah itu. Karenanya, Pancasila dapat menjadi tameng dalam menghadapinya.

Tapi, kita mungkin lupa, Pancasila adalah ideologi universal. Pidato Bung Karno berikut dapat menunjukkannya:

Akan tetapi saya sungguh-sungguh percaya bahwa Pancasila mengandung lebih banyak daripada arti nasional saja. Pancasila mempunyai arti universal dan dapat digunakan secara internasional…Saya percaya, bahwa ada jalan keluar daripada konfrontasi ideologi-ideologi ini. Saya percaya bahwa jalan keluar itu terletak pada dipakainya Pancasila secara universil! ( To Build the World A New-Pidato Bung Karno di muka Sidang Umum PBB ke-XV, 1960)

Keyakinan diri Bung Karno mungkin sudah kita ketahui seperti apa. Tapi, apakah benar Pancasila itu universal? Kalau merujuk dari sila-silanya dan penjelasan Bung Karno dalam pidato di PBB, benarlah adanya. Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi musyawarah, dan keadilan sosial merupakan keyakinan universal yang tidak bisa dibatasi hanya dalam negara bernama Indonesia.

Tapi, saya tertarik dengan kolom seorang pengurus Mejelis Mujahiddin dalam majalah Gatra edisi 17-23 Mei 2011 berjudul “Pancasila dalam Talmud” beberapa hari yang lalu. Menurutnya, kelima sila Pancasila (monoteisme, humanisme, nasionalisme, demokrasi, sosialisme) sebenarnya sama persis dengan isi Khams Qanun dalam kitab Talmud. Sang penulis itu lantas berspekulasi bahwa Pancasila terpengaruh dengan doktin Yahudi. Ia mau mengatakan, Pancasila bukan bersumber dari “rahim” Indonesia sendiri.

Saya tidak tahu apakah sang penulis itu punya tujuan propaganda supaya bangsa Indonesia meragukan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsakarena diambil dari kitab Yahudi. Yang jelas, organisasi seperti Majelis Mujahiddin menghendaki agar negara Indonesia ini menjadi negara berdasar agama, paling tidak sesuai dengan Piagam Jakarta. Kalaulah benar sila Pancasila itu terinspirasi dari luar, apakah dengan sendirinya kita tidak bangga punya Pancasila? Saya pikir, kita justru menjadi semakin yakin Pancasila adalah universal. Nilai Pancasila adalah hasil upaya pencarian Weltanschauung bangsa yang dapat diterima oleh semua. Bukankah apa yang universal itu harus diterima oleh semua?

Seperti halnya agama yang mengajarkan nilai-nilai universal seperti kejujuran, keikhlasan, toleransi kepada siapapun tanpa pandang bulu, Pancasila demikian pula. Mungkin sebagai sebuah “kata”, apalagi diambil dari kitab Negara Kartagama, Pancasila adalah milik Indonesia seperti Islam itu agamanya seorang Muslim. Namun menyangkut ajaran universal, apa yang diajarkan di dalam Islam otomatis menjadi ajarannya seorang Kristiani, Hindu, dan Budha. Artinya, apa yang disebut universal bisa datang dari mana saja, bahkan kalau “pancasila” bersumber dalam Talmud, tidaklah mengurangi kepercayaan kita pada ideologi negara. Pancasila justru membuat kita yakin, bahwa inilah satu-satunya jalan tengah dari kebhinekaan bangsa.

Penerapan Pancasila

Pancasila sebagai nilai universal mau tak mau harus mampu diejawantahkan. Tapi, mungkin inilah juga kelemahan dari apa yang universal. Dalam kehidupan kita, justru nilai universallah yang paling sulit untuk diterapkan. Mengapa masih ada kelaparan jika kita percaya bahwa manusia itu punya hak untuk hidup? Apa sebab rumah ibadah kelompok minoritas dirusak padahal tahu hak berkeyakinan itu paling asasi? Itulah yang belum mampu kita tuntaskan dalam negeri tercinta ini.

Oleh karena itu, Pancasila tidak pantas di-indoktrinasi ala rezim terdahulu. Pancasila yang universal itu menjadi rendah nilainya apabila menjadi dogma yang harus ditafsirkan oleh sekelompok para pengajar. Sesungguhnya, nilai-nilai universal itu sudah kita datapkan dari ajaran agama manapun. Lagipula, Pancasila yang diyakini secara umum bersumber dari “kearifan” bangsa yang digali oleh seorang Soekarno. Bukankah berarti sudah didapat juga pemahaman itu sedari kecil?

Mungkin, bukan Pancasila yang ditinggalkan oleh bangsa ini. Pancasila hanyalah penamaan dari nilai universalterlepas dari ada kata “Indonesia” dalam dua sila. Dengan begitu, Pancasila yang katanya kita tinggalkan adalah wujud dari abainya bangsa ini pada nilai-nilai universasal itu. Siapapun, dari pemerintah hingga orang kecil, yang dalam hidupnya lebih menaruh perhatian pada kelompoknya, partainya, atau dirinya sendiri secara tidak langsung meninggalkan Pancasila.

Saya pikir, kembali pada Pancasila bukanlah dengan cuap-cuap di gedung MPR sana. Pengamalan pada Pancasila adalah dalam praktek, bukan slogan. Tanpa menyebut Pancasila pun seorang itu sudah Pancasilais apabila ia sudah menerapkan nilai-nilai universalyang bersumber dari manapundengan sepenuh hati!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: