Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Haidar Barong

Penghuni cafe TIM Tembang luruh dalam tidur Puisi pecah di gelas Mana tembang, mana puisi tidak peduli Aku sudah sembuh selengkapnya

Senandung Malam (Dunia Tanpa Kata)

OPINI | 31 May 2011 | 00:10 Dibaca: 692   Komentar: 4   1

Senandung malam, mengisahkan seorang hamba berdua-dua dengan Kekasihnya dimana waktu sudah tenggelam jauh, orang-orang lelap dalam tidur. Tetapi pencinta tidak pernah tidur, karena tidur bagi pecinta adalah kebodohan. Tanpa kata tanpa suara dalam bulan madu malam-malam yang penuh berkah. Inilah peristiwa indah bagi pecinta yang tidak memerlukan kata dan bahasa. Sekali lagi, “tanpa kata tanpa suara.”

Anda akan bertanya bagaimana mungkin tanpa kata, tanpa bahasa, bukankah kata-kata itu penting? Memang benar bahwa kata-kata itu penting, sehingga seorang sastrawan kawakan menulis; “Jangan remehkan kata-kata. Engkau terlahir dari kata-kata. Ingatlah ketika ayahmu berkata pada ibumu, ‘Aku cinta kepadamu’ dan itu membawa mereka ke pelaminan, maka lahirlah engkau” Sejauh itu kata-kata menjangkau.

Kata-kata juga yang membuat kita berselisih dengan kawan lama, tapi kemudian dengan kata-kata pula perselisihan itu kini sudah di damaikan. Ini Cuma contoh. Jangan kawan, jangan berselisih apalagi berseteru.

Ada wejangan indah yang akan aku sampaikan dari seorang arif, yang bisa Anda pegang teguh, begini: “Jika engkau berseteru dengan orang yang lebih lemah dari dirimu, engkau tidak tahu malu. Jika engkau berseteru dengan orang yang lebih kuat darimu, engkau tidak tahu diri. Dan jika engkau berseteru dengan orang yang setara denganmu, sungguh, engkau tidak memiliki budi pekerti yang baik” Sudah pasti Anda senang dengan kata-kata ini. Sesungguhnya tidak hanya menyenangkan, tetapi menyembunyikan ataupun menyiratkan bahwa ada kesulitan menerapkannya tanpa kebugaran ruhani.

Baiklah, tanpa bermaksud melakukan kritik pada siapapun, kali ini saya ingin merujuk pada Zen, untuk menjelaskan bahwa kata-kata bukanlah kebenaran. Kata-kata diibaratkan dengan“telunjuk” dan Kebenaran adalah “Bulan” . Telunjuk bisa menunjuk kearah Bulan, tetapi mengatakan bahwa telunjuk adalah Bulan adalah suatu ketololan.

Nah begitu juga kata-kata, dia bukan kebenaran, tetapi dapat menunjuk pada arah yang benar atau Kebenaran. Maka itu hati-hati dengan kata-kata, Jaga dan pelihara. Karena jika ia bisa menunjuk arah yang benar, maka ia bisa juga menyesatkan. Kalau kata-kata terlontar untuk berbicara tentang kebenaran, itu hanya bersifat pendahuluan-pendahuluan selama kita tidak peduli pada maksud-maksudnya yang tersembunyi. Dia hanya mencoba memaknai melalui gambaran-gambaran, symbol-simbol, Kebenarannya tersimpan ditempat yang lain. Karya-karya tersimpan dalam batin, yang terbaca hanyalah penampakkanya. Lampu adalah gejala listrik, tetapi listriknya baru Anda alami saat disengat setrum.

Dalam kehidupan dunia ini, kata-kata, menurut Zen dalam bahasa Smith, mempunyai posisi yang mendua. Bahwa memang kata-kata sangat berguna dalam kehidupan manusiawi kita, karena jika tanpa kata-kata kita akan meraung bagaikan binatang. Dengan demikian kata-kata menyebabkan kita menjadi manusia, kita beranggapan bahwa kata-kata itu memberikan sumbangan yang positif. Okelah.

Namun, dari segi yang negative, kata-kata dapat membuat semacam dunia pengganti, yang memperlemah kekuatan pengalaman secara langsung, yaitu suatu dunia yang dibesar-besarkan, kalau bukan dipalsukan. Seseorang dapat memberikan keterangan yang benar mengenai sebuah lukisan tanpa sedikitpun memiliki pengalaman estetik. Seorang ibu seakan-akan menipu dirinya sendiri, jika beranggapan bahwa ia mencintai anaknya, hanya karena ia berkata kepada anaknya itu dengan kata-kata yang lemah lembut. Suatu bangsa dapat beranggapan bahwa dengan menambahkan kata-kata “dengan rahmat Tuhan” dalam kalimat sumpah yang harus diucapkan para warga negaranya, para warga negaranya itu sudah terbukti benar-benar telah percaya kepada Tuhan. Padahal apa yang telah dibuktikan dengan itu hanyalah bahwa mereka percaya kepada “kepercayaan akan Tuhan”. Iya toch?

Walaupun sumbangannya besar, kata-kata tersebut mempunyai tiga keterbatasan; Pertama, paling buruknya, kata-kata menciptakan suatu dunia palsu, dimana orang lain diturunkan martabatnya menjadi stereotip-stereotip dan perasaan kita yang sesungguhnya ditutup-tutupi dengan gelar-gelar yang bagus. Kedua, bahkan jika pengalaman kita pada umumnya dijelaskan dengan kata-kata secara tepat, hal itu tidak pernah memadai. Kata-kata selalu menyebabkan intensitas pengalaman langsung menjadi hambar, bahkan jika kata-kata itu tidak merusak pengalaman tersebut. Ketiga, dan ini pokoknya yang paling penting, bahwa seluruh bentuk pengalaman kita yang paling luhur berada di luar jangkauan kata-kata.

Setiap agama yang telah mengembangkan bahasa yang canggih sampai taraf tertentu mengakui bahwa kata-kata dan akal manusia tidak dapat mencapai kenyataan yang sesungguhnya. Wow, kenyataan ini tentu akan membingungkan kaum intelektual ataupun penganut paham utilitarianisme. Ingatlah, pengalaman yang mengatasi akal tetap merupakan paradox dan darah yang memberi kehidupan agama, seperti halnya juga dengan seni yang kreatif. Pengalaman ini adalah pengalaman berdua-dua dengan Kekasih di penghujung malam. Mau coba? Tanya kepada para pecinta, lalu sekalian, jadilah pecinta.

Ohoo tengah berceloteh apa gerangan saya? Membingungkan!. Tidak ah, sederhana saja, sebetulnya hanya ingin menunjukkan adanya suatu dunia tanpa kata-kata, tanpa bahasa; Keheningan di atas setiap bunyi, sebagai sesuatu yang paling agung. Kita bisa ada dalam keheningan ini sebagaimana orang-orang tertentu telah juga sampai disana; lenyap, musnah, lebur dalam samudra. “Dunia Keheningan” yang tidak membutuhkan indera. Hanya tinggal memerlukan untuk menyebut nama-Nya secara batin. Karena dengan menyebut’ nama Kekasih secara batin maka semua memory dapat dibangkitkan. Ini adalah sebuah bentuk pemusatan pikiran pada kehadiran Kekasih. Kau menyebut nama-Nya, maka Dia akan menyebut namamu, kata Al Qur’an. (QS2:152).

Mungkin ini serpihan kecil dari rahasia “Alif Lam Mim” (Alif adalah Allah, Mim adalah Muhammad, dan Lam adalah rahasia cinta= Ada rahasia cinta antara Keduanya). Bukankah paling berkesan ketika kita menyebut nama seseorang yang kita kasihi? Inilah bentuk menyebut yang paling tinggi yang tidak lebih kurang dari mengetahui (identifikasi) firman Tuhan yang merupakan Pola Dasar dari semua pola dasar (rumusnya: kosmos adalah refleksi dari Nama dan Sifat-sifat-Nya dan, kosmos, yang dilambangkan oleh “Yin” (Jamaliah/Keindahan/feminim) dan “Yang” (Jalaliah/Keagungan/maskulin), misalnya jelas berbentuk polar). Hanya bagi pecinta dan Kekasih saja semua rahasia yang saling diungkap tanpa bahasa. Bahkan, Anda harus tahu, konon malaikatpun heran saat menyaksikan sang pecinta duduk tafakur:”Sedang apa engkau wahai fulan?” Keheranan malaikat ini muncul karena tidak melihat Sang Kekasih ataupun tali rahasia yang menghubungkan pecinta dengan Kekasihnya.

Nah, Pecinta itu berkata pada saya yang sejauh ini hanya mengenal kenikmatan-kenikmatan duniawi, dan melulu bercerita; “Mengapa bercerita terus, mengapa tidak menjadi dia yang diceritakan?” Tentu saja untuk menutupi rasa malu saya menjawab:”Saya seorang Bodhisatva, seorang Bodhisatwa harus menunjukkan jalan, walau dengan cerita-cerita”. “Engkau berdalih”, tukasnya, “Bilamana engkau belum sampai di tempat tujuan, bagaimana bisa bercerita tentang tempat itu, engkau hanya seorang calo di terminal, yang sampai ke tempat tujuan hanyalah supir dan para penumpang”. Wuihhh saya bergetar, tapi lantas sadar dan merenung, kalau begitu betapa kehidupan kita dikelilingi oleh calo yang mengumbar kata-kata.Jangan-jangan para……..sebagian besar adalah calo. Ah jangan…jangan berprasangka yang tidak baik, maksud saya jangan diungkap dengan kata-kata hehe.

Untunglah sang pecinta melihat gelagat kegelisahan ini, lantas ia langsung menyambung bahwa semua orang bisa menjadi pecinta dan dicinta sekaligus, karena Kekasih sejati tidak pernah menutup pintu. Dan setiap malam Kekasih Mengulurkan Kedua Belah Tangan-Nya agar engkau meraihnya. Tetapi, ya salaam, bagaimana mungkin engkau meraihNya, engkau tengah tertidur. Sekalipun Dia bersamamu disetiap saat dan keadaan, tiada gunanya jika engkau tertidur kawan. Jangan sombong dengan mengutip kalimat: “Tuhan bersama kita”, karena tidak ada manfaatnya selama kita tidak terjaga.

Kawan, kita bisa melotot semalaman, tetapi hati tertidur, karena perilaku yang tidak karu-karuan dan lalai. Sementara Pecinta berjaga dengan hati tetap terjaga, dan mata terpejam sebagai simbol menutup diri dari semua kesibukan duniawi. Orang inggris menyebutnya “Tawajuh”. Sejuta indahnya. Sudah pernah tawajuh? Saya hanya baru dengar-dengar cerita tentang tawajauh. Selangit bro.

Melalui malam berdua-dua dengan Kekasih, kita akan memiliki banyak cerita, dimana semua peristiwa bergelora di dalam dada. Mungkin jadi puisi, mungkin menemukan ungkapan-ungkapan indah penuh hikmah, mungkin nasehat-nasehat yang baik, kecemerlangan akal, kehalusan budi pekerti, mungkin juga kedamaian dan kepastian ataupun kekuatan untuk terus bertahan hidup, bahkan hidup tanpa pernah mati. Karya sastra yang mendunia dan hidup, yang bertahan berabad-abad, sebagaimana banyak dikutip dan diperbincangkan, telah dimulai penciptaannya melalui senandung malam berdua-duaan. Senandung malam adalah sebuah upaya pencarian diri. Kita harus punya kisah sendiri, kisah yang indah dengan malam-malam kita sendiri. Karena ini menyangkut perluasan hati, dan kita harus memahami apa yang telah dikatakan Imam Ja’far bahwa ilmu ditempatkan di dalam hati. Hati yang telah dipoles oleh lumuran cinta Kekasih. ***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: