Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ramayana: Kisah Perjuangan yang Mustahil!!

OPINI | 19 May 2011 | 05:28 Dibaca: 255   Komentar: 0   0

Entah kenapa penulis epos Ramayana yaitu resi Walmiki, menuangkan ide2 nya yang luar biasa dalam mengangkat suatu kisah perjuangan yang begitu indah, sentimentil dan terkadang tidak masuk akal. Perjuangan antara kecebaran melawan kejahatan, kekayaan melawan kemiskinan, kepandaian melawan kejujuran. Sebenarnya kisah ini adalah kisah yang tak masuk akal, tetapi kalau diamati dan diresapi lebih dalam dengan hati nurani tentu akan timbul hal yang berbeda dalam hasilnya. Lihat saja bagaimana bingungnya penonton menyaksikan kehebatan Alengka dengan pasukan raksasanya dan yang tak kalah bingung si pemegang peran yaitu Sri Rama.

Sebagai pemeran utama dalam cerita ini Sri rama, raja muda dari Ayodya sangat bingung hatinya ketika ia dihadapkan sesuatu yang diluar kemampuannya. Istrinya diculik oleh Raja raksasa yang sakti mandraguna bernama Rahwana. “Mana bisa orang ini dikalahkan”, keluhnya.  Bayangan Sri Rama terpaku pada kedahsyatan sang Rahwana yang memang dikenal punya kekuasaan politik begitu kuat, semua rakyat takut padanya, rekeningnya yang begitu gendut di Bank-bank ternama, demikian juga ajian panjang numurnya yang sudah terkenal.  Belum lagi kekuatan pasukan perang alengka yang begitu lengkap, panji2, genderang maupun senjata yang mengkilap. Mereka adalah pasukan yang berpngalaman tempur tingkat tinggi.

Karena dihadapkan pada masalah yang harus dipecahkan dengan segera, maka Sri rama seorang raja muda yang dibuang ke hutan dandaka itu harus memutuskan segalanya dengan segera. Hasilnya, semuanya harus dilawan, semuanya harus diuhadapi dengan jiwa yang tenang.  Sri Rama pernah dengar pesan tukang gembala istana yang namanya sabar, katanya  ”orang sabar, banyak sapinya”, terbukti pak sabar yang banyak sapi meskipun punya orang istana.

Persiapan perang sudah dimulai pasukan Alengka mulai menabuh genderang perang, tentara sudah mulai dibariskan dengan tertib, gajah-gajah perang mulai mengerang minta darah lawannya. wah, pokoknya betapa hebat persiapan pasukan maha besar ini. Dilain sisi pasukan Guakiskendanya Sri Rama myang terdiri dari pasukan kera, tidak ada genderang yang ditabuh, kalaupun ada yang bawa genderang itupun hasil ngutang sama tetangga atau kreditan yang belum lunas, Patih Anila yang badanya kekar aja itu bukan karena hasil latihan perang, tapi itu karena kebanyakan makan indomi, Kapi Jembawan apalagi yang badannya kurus dan bajunya lusush tampaknya ia maju ke medan perang gak pake mandi lo. Pokoknya maju perangnya tentara guakiskenda ini dengan segudang permasalahan yang mengiringinya, mulai dari kreditan yang belum lunas, sampai pada Kapi Menda yang ribut sama istrinya karena gak punya uang belanja. Yang menjadi kelebihan dari pasukan ini cuma satu, yaitu usia mereka rata-rata masih muda.

Sebagai penonton aku tertegun. Apakah mungkin Alengka yang begitu Kaya bisa dikalahkan oleh tentara kera muda yang punya problem segunung ini?. Tapi hal yang tak disangka-sangka pun terjadi. Tiba2 ketika pasuka mau brangkat, Ki dalang utomo ini pingsan mendadak. Penabuh gamelan bingung karena gak ada yang bisa dalang, mau manggil Bu Dalang rumahnya diluar kota, penonton apalagi mau bubar sayang karena cerita yang seru mau dimulai, mau terus nonton juga tifak ada harapan karena kondisi Ki dalang yang sudah di bawa ke Puskesma untuk perawatan.

Dalam kondisi kebingungan itu aku yang berada tepat dibelakang Ki dalang duduknya terpakda mengambil kendali keadaan. Aku ambil blangkon Ki Dalang yang tadi ketinggalan, aku pinjam keris pada si pebanabuh gendang supaya kelihatan lebih sempurna penampilan. Dalam pikiranku bergolak. Bagaima mungkin Si Miskin menang lawan si Kaya, Si Rakyat menang sama penguasa. Tapi tiba-tiba ingatanku kembali ke jaman mahasiswa dulu. Aku kemudian mengambil pengeras suara…..”Bumi gonjang-ganjing, bumi kelap-kelap katon”, wah hebat juga aku tiba sekarang, pikrku. Setelah beberapa saat kemudian Sri Rama keluar dan  berkata “beri aku 5 pemuda niscaya kupindah gunung Himalaya”. Wah seperti Bung Karno pikirku. Tapi tak apalah, namanya juga dalang dadakan. Setelah berkata seperti itu tidak disangka, pasukan kera muda guakiskenda timbul semangat, mereka berperang dengan semangat tionggi dan pantang menyerah. Setelah itu apa yang terjadipun dapat di tebak. ternyata Dalang dadakan ini tidak mengambil lakon atau cerita dari kisah Ramayana, tetapi malah cerita dari “sejarah pergerakan indonesia”  yang tentu saja berpihak pada hal yang berbau kerkayatan dan keterpinggiran. Wah rupanya Kidalang yang satu ini agak aneh ya…..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Live Streaming dan Selfie Berhadiah di …

Yayat | | 21 November 2014 | 20:43

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 13 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 13 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 15 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta yang Perlu Kamu Ketahui Mengenai Batu …

Ragil Wk | 8 jam lalu

Keputusan Wanita …

Ulum Sugarwo | 8 jam lalu

Lewat Tulisan, Guru Berbagi, Guru Memberi …

Meliya Indri | 8 jam lalu

Dicari Guru yang Bisa Menulis …

Dana Permana | 8 jam lalu

Sinergi BI – Koperasi, Kuatkan Stabilisasi …

Karina Lin | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: