Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Aridha Prassetya

Pemerhati Masalah Ketidakbahagiaan

Tujuan Hidup

OPINI | 07 May 2011 | 02:07 Dibaca: 243   Komentar: 19   0

Untuk memenuhi permintaan seorang kawan yang baru saja menyatakan bersedia menjalani vasektomi, pagi ini saya ingin berbagi tentang hal lain. Tentang tujuan hidup. Seorang “guru” mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah bertumbuh menjadi lebih baik dan mencapai yang terbaik. (seperti pernah saya tulis)

Nah, sekarang. Larilah ke kebun belakang atau depan rumah anda. Perhatikan apa yang tumbuh di sana. Biji jeruk yang anda lempar ke dalam pot tanah itu, sedang menyeruakkan sehelai batang daun hijau dan indah, keluar dari bijinya yang terbelah. Ia sedang bertumbuh. Sebentar lagi kulit biji itu akan terlepas.

Lalu perhatikan apa yang terjadi di sekitar rumpun pohon bambu yang ada depan rumah anda, belakang rumah anda, atau rumah tetangga anda. Ada sesuatu yang menyembul dari dalam tanah. Ada yang bertumbuh di sana. Saya tidak tahu mengapa saya sering dapat dapat mengenali bau khas jika pohon bambu saya sedang “beranak”. (anda pasti tersenyum membaca ini, tetapi ini tak penting). Perhatikan sajalah beberapa anak bambu sedang mengalami pertumbuhan. Mereka harus mendorong dan menerobos sang bumi, demi memenuhi panggilan pertumbuhannya.

Nah sekarang, beralihlah pada bunga mawar dengan aneka warna yang anda sayangi itu. Mereka sedang memperlihatkan kuntumnya. Sebentar lagi mereka akan mekar. Mereka akan menyeruak mekar dan bersamaan dengan itu lapisan kelopak kuntumnya juga mekar dan perlahan pasti akan jatuh ke bumi. Sekali lagi, harus ada yang dilepas untuk tumbuh. Harus ada pengorbanan untuk memenuhi panggilan bertumbuh.

Ada sebuah pesan yang sangat indah dari pemikir/filsuf klasik yang pernah saya baca. Saya ingin membaginya, agar dapat kita renungi kedalaman maknanya. Ini adalah jawaban atas sebuah pertanyaan penting “ apakah yang harus saya perbuat dengan hidup saya?”

“Kebahagiaan manusia adalah bergerak menuju tempat yang lebih tinggi, mengembangkan bakat-bakatnya yang lebih tinggi,memperoleh pengetahuan tentang hal ikhwal yang lebih tinggi dan yang tertinggi, dan bila mungkin, bertemu dengan Tuhan. Bila manusia tak mengerjakan tugas-tugas ini, maka berarti ia bergerak menuju kepada yang lebih rendah, dan hanya mengembangkan bakat-bakatnya yang lebih rendah, sehingga ia pun menjadikan dirinyas sendiri tak bahagia, bahkan mungkin putus asa.”

Hari ini, saya bermimpi setiap kita memahami bahwa tujuan hidup sesungguhnya adalah bertumbuh menjadi yang terbaik. Sehingga setiap hari berusaha melakukan hal yang lebih baik. Sehingga (nya lagi), pada saat nanti kembali bertemu dengan Sang Empunya Karya, kita dalam keadaan menjadi KaryaNya yang terbaik. KaryaNya yang terindah. Memang, harus dimengerti terbih dahulu, apa itu tujuan hidup. Supaya tidak keliru menilai dan salah menyimpulkan apa maksud Sang Khaliq meminta kita melepaskan sesuatu.

Seperti mawar melepas kelopak kuncupnya, seperti biji jeruk yang harus terbelah, seperti tanah bumi yang terdesak oleh tumbuhnya anak-anak bambu. ada yang harus berkorban dan mengorbankan diri, ada yang harus bersedia dilepas dan terlepas, ketika disisi lain ada yang sedang bertumbuh.

Bertumbuh adalah mengalami perubahan. Perubahan tak dapat dielakkan. Hanya ada dua pilihan. Bersedia lentur menerima pertumbuhan ataukah  ”dipaksa” bertumbuh.

Salam bahagia

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Terima Kasih Sunyi …

Syndi Nur Septian | | 25 July 2014 | 01:45

Rahasia Kecantikan Wanita Dayak Kalimantan …

Ayu Sintha | | 24 July 2014 | 20:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: