Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Apa Arti Bekerja bagi Manusia…?

OPINI | 06 May 2011 | 12:32 Dibaca: 960   Komentar: 1   1

Yang bekerja nampak Diam, yang tidak bekerja Nampak Sibuk.

Manusia terdiri dari dua bahagian yaitu,.. Jasmani dan rohani,..

Kegiatan jasmani nampak jelas, kesibukan melakukan pekerjaan routine dari pagi sampai sore bahkan lembur sampai malam..

Merka melakukan pekerjaan itu atas dorongan pikiran, perasaan, naluri yang dikendalikan oleh program, sama dengan sebuah robot. Umum menyebutkan routinitas seharian,…

Pada saat melakukan pekerjaan routine itu, “Ego” manusianya tidak melakukan apapun, sama seperti seorang yang naik kapal atau naik kereta api, mereka hanya diam, apapun yang dilakukan dengan pikirannya tidak akan merubah jalannya kereta..

Pada waktu rotinitas diam, barulah ego berperan, apa yang harus dilakukan, barulah dia ingat siapa dirinya, kemana dia harus pergi.

Pada waktu manusia nampaknya diam secara fisik, barulah kesadaran bekerja, barulah manusia itu disebut bekerja, yaitu berjalan menuju arah datangnya sinar illahi. .

Jika dalam kondisi diam, mmanusia hanya melamun, memikirkan pekerjaan dan urusan2 duniawi, itupun termasuk bekerja secara fisik, karena dikendalikan oleh program kehidupan. Pekerjaan fikiran ini menyebabkan manusia stres, lebih berat dari pekerjaan fisik..

Berbeda jika unsur kesadaran yang bekerja, semua unsur fisk baik badan maupun fikiran diam,. Fisik lahir bathin diam, oleh karena itu bisa menimbulkan rara bahagia, rasa bebas dari beban kehidupan.

Pada waktu ini, kesadaranlah yang bekerja, yaitu mengikuti datangnya sinae illahi , orang sering menyebutkan mendapat pencerahan, yaitu bobolnya sebahagian kecil dari kotoran bathin.

Pada waktu orang sembah yang, atau zikiran, atau meditasi, dengan kondisi fikiran yang kacau, masih dibawah kendali program kehidupan, itupun masih termasuk pekerjaan duniawi, sama dengan orang yang mencari kekuatan bathin melalui doa2 dan matra2.

Kesimpulan,…

Unsur kesadaran akan bekerja pada waktu aktifitas jasmanai maupun fikiran manusia diam,.

Pada manusia nampaknya sibuk, jadwal kehidupan penuh dengan routinitas, walaupun hidup seribu tahun, sesunguhnya dia tidak bekerja apapun, seperti deburnya ombak di laut.

Orang yang nampaknya tidak mempunyai pekerjaan atau prestasi duniawi, tetapi kesadarannya bekerja terus. Kemungkinan umurnya tidak panjang, karena dia telah menyelesaikan programnya lebih cepat, dengan cara banyak bekerja.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 9 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 13 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 14 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 17 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: