Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Apa Arti Bekerja bagi Manusia…?

OPINI | 06 May 2011 | 12:32 Dibaca: 963   Komentar: 1   1

Yang bekerja nampak Diam, yang tidak bekerja Nampak Sibuk.

Manusia terdiri dari dua bahagian yaitu,.. Jasmani dan rohani,..

Kegiatan jasmani nampak jelas, kesibukan melakukan pekerjaan routine dari pagi sampai sore bahkan lembur sampai malam..

Merka melakukan pekerjaan itu atas dorongan pikiran, perasaan, naluri yang dikendalikan oleh program, sama dengan sebuah robot. Umum menyebutkan routinitas seharian,…

Pada saat melakukan pekerjaan routine itu, “Ego” manusianya tidak melakukan apapun, sama seperti seorang yang naik kapal atau naik kereta api, mereka hanya diam, apapun yang dilakukan dengan pikirannya tidak akan merubah jalannya kereta..

Pada waktu rotinitas diam, barulah ego berperan, apa yang harus dilakukan, barulah dia ingat siapa dirinya, kemana dia harus pergi.

Pada waktu manusia nampaknya diam secara fisik, barulah kesadaran bekerja, barulah manusia itu disebut bekerja, yaitu berjalan menuju arah datangnya sinar illahi. .

Jika dalam kondisi diam, mmanusia hanya melamun, memikirkan pekerjaan dan urusan2 duniawi, itupun termasuk bekerja secara fisik, karena dikendalikan oleh program kehidupan. Pekerjaan fikiran ini menyebabkan manusia stres, lebih berat dari pekerjaan fisik..

Berbeda jika unsur kesadaran yang bekerja, semua unsur fisk baik badan maupun fikiran diam,. Fisik lahir bathin diam, oleh karena itu bisa menimbulkan rara bahagia, rasa bebas dari beban kehidupan.

Pada waktu ini, kesadaranlah yang bekerja, yaitu mengikuti datangnya sinae illahi , orang sering menyebutkan mendapat pencerahan, yaitu bobolnya sebahagian kecil dari kotoran bathin.

Pada waktu orang sembah yang, atau zikiran, atau meditasi, dengan kondisi fikiran yang kacau, masih dibawah kendali program kehidupan, itupun masih termasuk pekerjaan duniawi, sama dengan orang yang mencari kekuatan bathin melalui doa2 dan matra2.

Kesimpulan,…

Unsur kesadaran akan bekerja pada waktu aktifitas jasmanai maupun fikiran manusia diam,.

Pada manusia nampaknya sibuk, jadwal kehidupan penuh dengan routinitas, walaupun hidup seribu tahun, sesunguhnya dia tidak bekerja apapun, seperti deburnya ombak di laut.

Orang yang nampaknya tidak mempunyai pekerjaan atau prestasi duniawi, tetapi kesadarannya bekerja terus. Kemungkinan umurnya tidak panjang, karena dia telah menyelesaikan programnya lebih cepat, dengan cara banyak bekerja.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Efektifitas Guiding Block di Ruang Publik: …

Alifiano Rezka Adi | | 31 January 2015 | 07:51

Andi Widjayanto, “Perdana …

Hendrik Riyanto | | 31 January 2015 | 03:22

Bobot Tulisan Akademis & Fungsi Catatan …

Nararya | | 30 January 2015 | 19:33

Luis Figo, Presiden FIFA dan Ketum PSSI …

Hadi Santoso | | 30 January 2015 | 14:06

Semburat Ungu Segenggam Abu …

Marina | | 30 January 2015 | 02:34


TRENDING ARTICLES

Siapa yang Bakal Terdepak dari Istana? …

Anis Kurniawan | 9 jam lalu

Sikap Budi Gunawan yang Membuat Kita Semakin …

Daniel H.t. | 11 jam lalu

Sekilas Tentang Praperadilan …

Hendra Budiman | 13 jam lalu

PDIP Harus Menyadari bahwa Jokowi Bukan …

Opa Jappy | 14 jam lalu

Prabowo Bertemu Jokowi, KIH Konsolidasi …

Cindelaras 29 | 20 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: