Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Mania Telo

@ManiaTelo : Mengamati kondisi sosial,politik & sejarah dari sejak tahun 1991

Maaf…? Gombal….!

OPINI | 27 April 2011 | 12:14 Dibaca: 613   Komentar: 5   1

Baru saja selang tidak ada seminggu di perayaan Jumat Agung seorang Pendeta diatas mimbar di suatu Gereja menyampaikan permintaan maaf atas hal-hal yang pernah dilakukan yang menyakiti hati jemaatnya,demikian pula jemaatnya diminta untuk saling memaafkan serta semuanya saling bermaaf-maafan dalam suasana untuk tidak lagi membuat sakit hati,gossip,dsb ;  Tetapi kemudian tidak ada seminggu sudah membuat keputusan yang membuat suasana menjadi sangat tidak enak diantara jemaat akibat tidak mau memaafkan & berlaku elegan dalam menyelesaikan sebuah konflik yang ada di Gereja tersebut. Maaf….? Gombal…!

Padahal konflik tersebut sangat sederhana sekali,dimana ada seorang pengajar di Gereja tersebut yang karena emosional sesaat telah mengeluarkan amarahnya kepada seorang Koster Gereja yang “dianggap” melakukan pelecehan seksual, padahal Koster Gereja tersebut sudah meminta maaf bila ybs memang ada kesalahan (yang menurutnya tuduhan yang dituduhkannya tidak benar) ; Maaf pun tidak diterima & ditimpali dengan kemarahan yang menyesakkan sehingga membuat orang yang menyaksikan peristiwa tersebut sebagai peristiwa yang tidak pantas dilakukan bagi seorang Pengajar di sebuah Gereja. Maaf….? Gombal….!

Karena dianggap bahwa “watak” pengajar di Gereja tersebut tidak bisa diperbaiki lagi,maka Pendeta tersebut menyarankan supaya dikeluarkan saja dari Gereja tersebut ; Namun oleh pengurus Gereja disarankan agar Pengajar tersebut dibina saja oleh si Pendeta dengan tidak boleh mengajar selama 3 bulan di Gereja tersebut. Sepertinya semuanya akan berjalan biasa saja seperti penyelesaian “sederhana” yang disampaikan,membina itu kan baik,tetapi memberhentikan tidak boleh mengajar selama 3 bulan ternyata tidak sesederhana itu bagi sebuah komunitas yang ukurannya tidak lebih dari 100 KK,karena bisa menjadi “mempermalukan” si Pengajar tersebut.

Maka dengan mudah diduga,memberhentikan tidak boleh mengajar di suatu komunitas kecil tersebut bisa jadi akan berubah sebagai “menjatuhkan harga diri” yang ujung-ujungnya sama saja di persepsi sebagai “dipecat” ,bagaimana tidak? Yach,karena kemudian ternyata begitulah cerita tersebut berkembang sebagai suatu “pemecatan” bukan lagi sebagai pembinaan…!

Hidup berkomunitas dalam skala kecil saja tidak mudah mempraktekkan kata “maaf”….Apalagi dalam skala komunitas sebagai bangsa? Kenapa? Karena mulut boleh saja berbicara seolah tidak ada masalah diantara kita,tetapi hati yang terdalam siapa yang bisa menduga…? Seorang Pendeta saja bisa berlaku & menyatakan bahwa “watak” tidak bisa diubah hanya karena perasaaan yang sudah tidak suka sebelumnya kepada si Pengajar tersebut. Logikanya pun seharusnya tahu bahwa “membina tidak boleh mengajar 3 bulan” itu juga sama saja meminta untuk mengundurkan diri saja secara halus karena siapa yang tahan dipermalukan seperti itu? Jadi,tidak heran kalau bangsa ini hanya pintar berkata-kata,ber-politik santun dalam perilakunya,tetapi hatinya masih menyimpan “dendam” untuk saling membalas & menjatuhkan. Maaf….? Gombal….!

Memaafkan secara total artinya kita tidak perlu lagi mengungkit masa lalu,mempermalukan orang sehingga orang yang bersalah sampai tidak bisa tegak kembali berdiri…! Kalau semua orang tidak bisa memaafkan masa lalu & terus mempermalukan orang lain yang bersalah,itu sama saja menjadikan orang yang keluar dari Penjara untuk tidak bisa bersosialisasi lagi dengan komunitasnya. Maka tidak heran bila seorang bekas Narapidana akan terus di stempel sebagai “sampah masyarakat” karena tindakan masyarakat yang kurang bisa menerima & memaafkan masa lalu orang yang pernah bersalah. Maaf….? Gombal…!

Cerita seorang perempuan pelacur yang diampuni oleh Yesus & tidak jadi dilempari oleh orang-2 Farisi karena perkataan Yesus “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” mengajarkan kepada kita bahwa hendaknya kita tidak sok jadi orang benar…! Pelacur saja diampuni & Yesus hanya mengatakan “….jangan berbuat dosa lagi”

Jadi, berlakulah bijak & jangan suka menghakimi………..!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 5 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 5 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 8 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 8 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: