Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Kupret El-kazhiem

Pelarian, Pengangguran, Soliter, Serabutan, Penduduk Bumi

Jodoh dalam Jodoh-Jodohan

OPINI | 25 April 2011 | 20:38 Dibaca: 1744   Komentar: 12   3

Kadang saya gerah juga kalau ada orang bilang kepada saya selesai saya curhat kepadanya, dengan kata-kata, “Yang namanya jodoh itu nggak akan ke mana.” atau dalam redaksi lain, “Manusia diciptakan berpasangan, pasti anda akan mendapatkan jodoh anda.” atau jawaban seperti, “Tuhan telah menetapkan jodoh untuk anda, karena semua ada di tangannya.”

Jawaban semacam demikian menampilkan Tuhan seperti orang tua yang sukanya menjodoh-jodohkan anaknya dengan orang lain yang terkesan wah, alias memukau. Apa Tuhan kerjanya cuma begitu doang? Tiap hari jodoh-jodohkan orang. Seperti main puzzle bongkar pasang, seraya menggumam, “kau sama dia, dia sama kau, ini di sini, yang itu di sana.”

Tapi jodoh itu sendiri apa sebenarnya?

Kalau ada orang yang bilang ke saya, “Sabar ya, jodoh itu di tangan Tuhan.” lantas maknanya apa? Malah yang dimaksud jodoh jadi terkesan konyol. Misalnya jika saya menikah dengan seorang perempuan, katakan bernama Hani. Apakah si Hani itu benar-benar jodoh yang telah ditetapkan Tuhan, bahkan sebelum saya lahir ke dunia? Apakah jodoh berarti orang yang kita nikahi? Lantas kalau saya bercerai dengan Hani, apakah berarti Hani bukan jodoh saya? Dan kalau misalnya saya menikah dengan Hani dikarenakan atas dasar keinginan orang tua, alias melalui jalur perjodohan sesama orang tua, apakah si Hani bisa dikatakan benar-benar jodoh saya yang telah ditetapkan Tuhan itu?

Contoh lagi si Siti Nurbaya yang menikah dengan Datuk Maringgih akibat proses di balik layar antara orang tua Siti Nurbaya dengan si Datuk. Apakah Datuk Maringgih itulah jodoh yang telah ditulis Tuhan di alam azali untuk Siti Nurbaya? Lalu si Syamsul Bahri itu siapa, orang yang berusaha merusak ketetapan Tuhan?

Terus kemudian ucapan bahwa manusia pasti diciptakan berpasang-pasangan, lantas bagaimana dengan orang yang berpoligami? Katakan Ali mempunyai istri dua, yakni Nayla dan Nura. Apakah yang dimaksud dengan berpasangan-pasangan itu tidak mutlak hanya terdiri dari dua orang, alias sepasang saja? Bisa jadi pengertian berpasang-pasangan itu jika diaplikasikan pada rumah tangga Nayla dan Nura, dalam bingkai poligami. Kalau diuraikan, Nayla berpasangan dengan Ali adalah sepasang. Dan Nura berpasangan dengan Ali juga sepasang. Maka dalam kehidupan Ali sesungguhnya dia punya sepasang istri, Nura dan Nayla. Yang seperti itukah yang dibilang saling berjodoh, dan jodoh yang telah ditetapkan Tuhan itu?

Lalu ada jawaban bahwa jodoh itu bukan berarti selamanya, seperti kalau misalnya ada dua orang sahabat bertemu di jalan setelah mereka kehilangan komunikasi. Berarti kan dua orang sahabat itu saling berjodoh bisa bertemu di satu tempat berbarengan, dan kemudian bisa berpisah lagi setelah pertemuan itu.

Nah, dari contoh ini sebenarnya bisa dilihat bahwa jodoh itu takkan bisa lepas dari prinsip “ada perjumpaan, ada perpisahan.”  Lalu kenapa jodoh sampai dibela sedemikian rupa sebagai konsep yang azali dan sakral. Kenyataannya jodoh pun tak suci-suci amat. Bahkan terkadang bisa dimanipulasi biar dianggap itulah jodoh yang telah ditakdirkan Tuhan. Perilaku demikian utamanya suka dilakukan oleh ayah yang getol memaksa anak perempuannya untuk menikahi pria pilihan ego ke-ayahannya.

Maka dari itu, bagi saya konsep jodoh adalah konsep yang absurd, apalagi pakai dikaitkan dengan Tuhan segala. Karena jodoh tidak berlaku selamanya sampai kematian memisahkan. Kemudian yang disebut jodoh, jika mau dibilang jodoh, ternyata tak mesti antara satu orang pria dan satu orang perempuan. Bisa jadi jumlahnya jamak, seperti kata-kata pasrah perempuan yang mau dipoligami, “Mungkin ini sudah jodoh yang diberikan Tuhan.”

Jodoh yang katanya ketetapan Tuhan itu juga tak luput dari campur tangan manusia, seperti contohnya pemaksaan orang tua kepada anaknya. Dan jodoh yang dielu-elukan sebagai hak Tuhan itu ternyata ada batas kadaluarsanya, bisa setahun, dua tahun, atau sepuluh tahun. Itu tandanya jodoh tidaklah abadi, maka ketetapan Tuhan soal jodoh juga tidak berlaku kekal. Jodoh bisa direcoki ulah manusia, dideterminasi kondisi sosial, politik, dan lebih-lebih ekonomi-ketika anak perempuan dijual untuk dinikahi rentenir biar utang lunas.

Konsep jodoh adalah ketetapan Tuhan cuma hiburan penggembira buat orang-orang jomblo, apalagi jomblonya karena memang nggak bisa mendapatkan calon pasangan. Atau nggak bisa menjual modal dalam dirinya untuk disukai orang lain. Berbeda dengan orang yang dengan mudah mendapatkan calon pasangan, dia bisa gonta ganti jodohnya sesuka dia, sekarang nikah besok cerai.

Lalu ada jawaban lain bahwa orang yang punya kebiasaan kawin-cerai tidak bisa dikatakan dia sudah menemukan jodohnya. Justru karena kawin-cerai berulang kali, dia sedang mencari jodohnya. Karena pasangan yang kita nikahi belum tentu jodoh kita. Lalu bagaimana maksudnya jodoh kita telah ditetapkan Tuhan? dan siapa jodoh kita kalau bukan dengan mengira bahwa kita menemukannya saat menikah?

“Jodoh adalah cinta sejati, artinya orang yang menjadi cinta sejati kita adalah jodoh kita nantinya.” jawaban seperti ini bagi saya tambah rancu lagi, karenanya hanya bolak-balik ke pembahasan awal. Cinta sejati itu apa, siapa, apakah sudah ditetapkan sejak zaman azali oleh Tuhan atau belum? Kalau cinta sejati sudah ditetapkan oleh Tuhan apa bedanya dengan konsep jodoh yang selalu dielu-elukan itu? Berarti konsep cinta sejati dan jodoh tidak jauh berbeda, dan kalau tidak jauh berbeda maka cinta sejati pun tidaklah abadi.

“Tapi cinta sejati bisa tidak terikat oleh pernikahan, dan di luar sistem pernikahan. Kadang pula cinta sejati adalah cinta yang tidak bisa dimiliki.” Lalu kalau cinta sejati tak bisa dimiliki, tapi cinta sejati juga dianggap jodoh. Kenapa cinta sejati yang katanya jodoh itu ternyata tidak bisa dimiliki? Bukankah jodoh itu berarti kita mendapatkan, dan memiliki seseorang yang katanya ditetapkan jodoh kita? Dalam arti lain, jodoh harus dimiliki, lantas mengapa cinta sejati tak harus memiliki. Padahal katanya jodoh kita adalah cinta sejati kita.

Bagi saya pribadi, jodoh dan cinta sejati adalah konsep absurd (kalau tidak mau dibilang konyol). Jodoh dan cinta sejati itu istilah yang dibuat-buat untuk sesuatu yang tidak eksis, bahkan di dunia metafisik. Lalu mengapa ada istilah demikian, menurut saya jawabannya karena batas antara maya dan gaia, atau nyata dan absurd, fisik dan metafisik, adalah kesatuan yang membawa manusia berada dalam simulasi, atau simulacra dalam istilah Baudrillard. Di dunia fisik, labirin simulasi dibentuk oleh materi-materi kasat mata dan atribut simbolik, seperti pernikahan, cincin tunangan, kata-kata “i love you,” dan sebagainya. Sedangkan di dunia metafisik, labirin simulacra dibentuk oleh emosi, ego, id, anima, self, dan semacamnya yang kadang terasa spiritual, batini, transenden, atau holistik.

Namun itulah absurditas, memainkan peranan besar dalam kehidupan manusia, termasuk melebur antara kebetulan, dan takdir, seakan menyatu. Dampak yang ditimbulkan adalah mengenyampingkan determinasi manusia dalam memilih. Makanya saya lebih suka dibilang, “Kamu sih orangnya pilih-pilih, makanya nggak dapat jodoh.” bagi saya perkataan demikian bukanlah hinaan. Bagi saya jodoh adalah memang soal pilihan, soal siapa yang akan kita pilih untuk kita pacari, nikahi, atau ceraikan.  Seperti misalnya ada pria cacat, tapi ternyata ada perempuan yang memilih pria itu untuk dijadikan suaminya. Atau pria yang kecelakaan hingga lumpuh, si perempuan bisa saja memilih meninggalkan atau tetap bersama suaminya.

Kalau si istri tetap bersama suaminya, maka akan disebut setia. Dan kalau meninggalkan suaminya, maka si istri dibilang berkhianat, selingkuh, dan macam-macam. Hal demikian cuma konstruk masyarakat saja mengenai sikap setia seperti apa, dan sikap berkhianat bagaimana. Konstruk masyarakat memang bisa dijadikan bahan pertimbangan, namun pada dasarnya perempuan yang mendapati suaminya lumpuh setelah kecelakaan itu, bisa memutuskan pilihan mana yang dia ambil, meninggalkan atau setia.

Kalau ada yang bilang, “Manusia memilih, tapi Tuhan yang menyetujui.” lantas berapa kali Tuhan harus keluarkan surat Approval bagi pria dan perempuan yang doyan kawin-cerai, dan berpoligami. Seperti itulah jodoh menurut saya, bukan hal yang pasti apalagi ketetapan Tuhan, bukan sesuatu yang berjalan linear, dan amat konyol kalau terus dibela sebagai suratan takdir yang ditulis sebelum manusia lahir.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | | 30 August 2014 | 16:19

Makna Perjalanan Adalah Menambah Sahabat …

Ita Dk | | 30 August 2014 | 13:06

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Florence Penghina Jogja Akhirnya Ditahan …

Ifani | 3 jam lalu

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 12 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 13 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Florence, Anda Ditahan untuk 20 Hari …

Farida Chandra | 8 jam lalu

Deddy Corbuzier Bikin Soimah Walkout di IMB …

Samandayu | 8 jam lalu

Semua Gara-gara Air Asia …

Rinaldi | 8 jam lalu

Negeri Berutang …

Yufrizal | 8 jam lalu

Dua Wajah Manusia dalam Antologi Cerpen dan …

Alexander Aur | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: