Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Slawi Dalbo

Wes pokoke cuman orang biasa yang blajar nulis asal tur ngawur. Kalo bisa yok mbok selengkapnya

Yudas Iskariot, Murid yang Diberkati Tuhan

OPINI | 18 April 2011 | 06:53 Dibaca: 3635   Komentar: 2   0

1303109548209770557Menjelang Hari raya Paskah, orang kembali diingatkan dengan kiprah buruk penghianatan seorang murid Yesus yang dikenal dengan nama Yudas Iskariot. Ada banyak cerita, ajaran atau tafsiran yang mewarnai kisah anak Simon Iskariot ini. Mulai dari yang mengagung-agungkan Yudas, sampai yang mengidentikkan Yudas dengan kejahatan. Bahkan tidak sedikit yang menganggap Yudas sebagai pahlawan, karena telah mendapat anugerah untuk dipakai sebagai alat atau jalan yang menghantarkan pada kematian Yesus. Setidaknya itulah yang diwartakan oleh Injil Yudas – injil palsu, injil gnostik yang tidak masuk dalam hitungan kanon Alkitab. Bukan saja karena ajarannya yang tidak benar, tapi juga isi injil ini yang berpusat pada diri Yudas dan bukan pada Yesus yang menjadi benang merah keseluruhan isi Alkitab.

Di kalangan Kristen, nama Yudas Iskariot bukan nama yang asing lagi. Dia dikenal sebagai pengkhianat karena telah menyerahkan Tuhan Yesus kepada imam-imam kepala hanya demi 30 keping perak. Tak heran jika ada banyak kecaman dan kutukan, bahkan hingga saat ini, padahal Yudas adalah orang yang juga sangat diberkati, sama dengan murid-murid lainnya. Sedikitnya ada 3 berkat besar yang telah dicicip oleh Yudas. Pertama dia telah mendapat Anugerah Tuhan untuk menjadi murid Yesus. Dalam Alkitab arti murid lebih merujuk pada istilah pengikut, atau yang dalam istilah dalam bahasa Jawa disebut sebagai cantrik – orang yang harus tunduk, patuh, taat pada orang yang diikuti demi memperoleh ilmu atau pengajaran tertentu. Alih-alih Yudas tunduk pada gurunya, menjual Yesus justru menjadi klimaks nyantriknya (pengabdiannya).

Berkat kedua, sama seperti murid lain Yudas mendapat kesempatan untuk belajar secara langsung selama tiga tahun bersama Yesus. Ini adalah kesempatan yang luar biasa yang tidak semua orang miliki. Tidak hanya belajar teori secara intensif, tapi juga belajar praktek langsung dari sang guru. Sebuah perpaduan sistem ajar yang sangat brilian – yang kini dikembangkan oleh banyak orang. Namun sayang pola ajar yang maksimal tidak juga membuat murid serta merta mudah paham. Padahal pengajaran Yesus acap kali mengunakan perumpamaan yang sangat kontekstual dengan budaya dan keseharian para murid, termasuk Yudas.

Berkat ke tiga adalah Yudas juga disebut Rasul, sebuah gelar atau jabatan kehormatan untuk orang yang diutus Yesus secara langsung. Istilah ini kerap digunakan untuk menunjuk ke 12 murid Yesus. Mereka adalah saksi hidup Kristus yang menceritakan berita Injil kepada banyak orang – namun oleh karena ketidaktaatan Yudas, kesempatan ini pun lenyap.

Tidak saja masuk bagian dalam ke 12 Rasul Kristus, Yudas juga dipercayakan tugas pelayanan yang sangat strategis dengan menjadi bendahara. Namun lagi-lagi Alkitab mencatat justru Yudas jatuh gara-gara hatinya terikat pada mamon – uang yang seharusnya dikelola dengan bertanggungjawab bagi pelayanan yang Yesus lakukan bersama para murid.

Bukan Yesus tidak mengasihi Yudas, atau Yesus salah pilih murid. Secara eksplisit setidaknya telah beberapa kali Yesus memberi kesempatan agar Yudas bertobat, kendati dengan cara mengingat dan memperingatkan tentang perbuatan yang akan dilakukan Yudas terhadap-Nya – ini juga berkat besar lain yang Tuhan berikan pada Yudas. Dalam Yohanes 13:21-27 misalnya, Yesus memperingatkan tentang satu diantara murid akan menghianati Dia “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku”. Kemudian murid bertanya siapakah itu? Lalu di ayat yang ke 26 Yesus menjawab “Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Tidak berselang lama Tuhan Yesus mengambil roti dan mencelupkan roti lalu diberikan kepada Yudas. Lebih tegas lagi Yesus memperingatkan Yudas di ayat ke 27 “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.”.

Jika membaca runutan ayat tersebut sudah sangat jelas bahwa yang dimaksud Yesus adalah Yudas. Namun sayang, nurani Yudas betul-betul sudah imun terhadap kebenaran. Alih-alih Yudas sadar lalu memohon ampun, dia justru terbawa hasutan Iblis hingga rela menjual gurunya dengan ciuman.

Anugerah dan kesempatan Tuhan yang besar terhadap umat kerap menghampiri kita. Tapi sangat disayangkan kesempatan itu acap kali berlalu begitu saja. Jangankan segera lekas berubah, mengerti dan bersyukur terhadap anugrah Tuhan pun absent dilakukan. Inilah yang kerap menghampir saya, mungkin juga anda, sama seperti single terbaru Lady Gaga bertajuk “Judas” yang menceritakan tentang pergumulan manusia berjalan menuju terang hidup, berusaha merengkuh cahaya, sementara setan mengintip dari belakang dan siap menerkam – bernyanyi tentang kekudusan, namun jatuh cinta pada Yudas, simbol kejahatan.Slawi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: