Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Aradea Rofixs

Aktifitas: wirasuasta : suka membaca. Suka berimajenasi. Penggiat sastra komunitas tangan bicara pekalongan. : selengkapnya

Jadilah Pemimpin untuk Diri Sendiri

OPINI | 17 April 2011 | 02:40 Dibaca: 675   Komentar: 0   0

Srati adalah teks ‘bahasa jawa’ yang arti sesungguhnya adalah gembala atau pawang Gajah. Namun kemudian diartikan lebih — menjadi gembala. Atau pamong. Atau lurah.
Lalu muncul istilah “Ncrateni”, “nSrateni” yang artinya menggembala, atau memelihara lebih atau “Momong”. Momong adalah lebih daripada sekedar menggembala ataupun memiara akan tetapi lebih dari itu adalah menjadi contoh dan juga mampu menjadi sepirit, pendukung dalam tiap langkahnya.
Semar adalah srati pandawa. Yang artinya ia mampu melindungi, mengayomi juga menjadi contoh yang baik dan mendukung tiap lakunya agar tidak menyimpang dari kaidah kebaikan.
Maka dalam hal ini. Dibutuhkan seorang yang baik pula tentunya untuk menjadi “srati”. Karena bagaimana mungkin seorang yang tidak berbudi akan mampu menjadi pamong atau Srati yang baik?.

Ada pula pepatah yang menegaskan “jadilah pemimpin yang baik terhadap dirinya sendiri” itu pun — artinya sama dalam pepatah jawa “jadilah srati terhadap diri sendiri” disini tak mudah untuk menjadi “srati” menjadi “pamong” atau “pemimpin” — terhadap diri sendiri. Itu artinya tahu percis “Orang seperti apa dirinya itu” sehingga ia tahu akan segala kelebihan dan juga kekurangan yang ada pada dirinya. Itupun sangat tidak mudah, karena biasanya — kebanyakan orang — hanya tahu kelebihan dirinya saja tanpa tahu kelemahan atau kekurangannya. Sehingga sering salah dalam bertindak, terlena, sembrono dan tidak tahu kalau sebetulnya dirinya amat ringkih dan kalah.
Karena betapa beratnya mengendalikan rasa dan perasaan itu. Tanpa tahu akan hal tersebut, orang bisa over dalam melakukan segala tindakan.selain hal itu juga harus tahu. Hal baik apa yang hanya akan diperbolehkan masuk kedalam tubuhnya. Apa yang baik kita dengar apa yang tidak baik untuk didengar. Apa yang pantas dibicarakan dan apa yang sekiranya tidak cocok dibicarakan. Apa yang baik untuk kita makan apa yang tak baik untuk tidak kita makan. Memimpin diri sendiri artinya bertindak baik untuk kebaikan diri sendiri. Karena hanya dimulai dari situlah orang akan bisa menjadi “srati” yang lebih luas — yang kemudian bermanfaat bagi banyak maslahat kemasarakatan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indonesia 0 – 4 Filipina : #BekukanPSSI …

Angreni Efendi | | 26 November 2014 | 00:33

Bom Nuklir Ekonomi Indonesia …

Azis Nizar | | 26 November 2014 | 04:44

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | | 26 November 2014 | 04:01

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 6 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 7 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 12 jam lalu

Timnas Indonesia Bahkan Tidak Lebih Baik …

Kevinalegion | 13 jam lalu

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kisah “Kaos Kaki Bolong” …

Fathan Muhammad Tau... | 8 jam lalu

Produsen Kok Masih Impor Garam? …

Irene Noviani | 8 jam lalu

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | 8 jam lalu

Fabiano Lawan Sepadan Magnus Carlsen …

Cut Ayu | 8 jam lalu

Yuk Koleksi Uang Rupiah Bersambung Tahun …

Agung Budi Prasetyo | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: