Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Juniardi Sip, Mh

Lahir di Kota Metro, 3 Juli 1975. Dilantik menjadi Komisioner KOMISI INFORMASI Provinsi Lampung Periode selengkapnya

Tentang Mati…

OPINI | 07 April 2011 | 07:07 Dibaca: 146   Komentar: 0   0

SAYA tak bermaksud menawarkan mati. Tidak juga menghasut yang mati atau memberi harga bagi yang sudah mati. Kita tidak pernah tahu, berapa banyak yang mati. Tapi coba lihat, kemarin ada yang mati. Hari ini ada yang mati. Besok entah siapa lagi yang akan mati?

Kita mau mati. Satu pers satu mati. Sampai tiba tunggu giliran kita; mati. Bermacam-macam, beragam-ragam, cara mati. Ada orang mati suri, pahlawan mati sahid, perempuan mati bunuh diri, orangtua mati berdiri, dan perawat mati sakit. Ada sopir mati tabrakan, ada karyawan mati terimpit, ada tubuh mati rasa, hingga orang yang berpura-pura mati. Tinggal pilih bagaimana memilih bagaimana cara mati.

Belajar menghitung yang mati. Sepekan Maret 2004, enam kali orang ditemukan mati. Senin (15-3) pukul 9.00 ditemukan mayat laki-laki tanpa identitas di Perum Bukit Kemiling Permai (BKP), di sebuah gubuk di tengah sawah dalam keadaan tanpa busana. Selasa (16-3), Deden (6,2) bocah yang hanyut di Sungai Way Balau ditemukan di belakang bilangan Hotel Jokio. Dua hari kemudian, ditemukan orangtua yang diduga Gepeng, mati di bilangan Kemiling.

Maudi (88), warga Kasui, Way Kanan, Sabtu (6-3) malam, juga mati, diduga akibat infeksi di bagian telapak kaki kiri, tiga hari di kamar jenazah RSU Abdul Moeloek.

Rabu (10-3), seorang buruh pemecah batu, Yadi (40) mati tertimpa reruntuhan Bukit Kunyit, Telukbetung Selatan, Kamis (18-3), sekitar pukul 14.00. Lalu Minggu (21-3), sekitar pukul 20.00, Tusnani (43) petani, warga Jalan Pahlawan No. 34, Surabaya, Kedaton, ditemukan mati tergantung dengan kain sarung dekat jendela rumahnya.

Betapa banyak kasus orang mati. Di luar sana, perang Irak, kerusuhan Israel, perang saudara di Pakistan, bom Marriott di Bali, bom bunuh diri pasukan jihad, kerusuhan Ambon, dan perang lain-lain.

Setiap ada mati, kita hanya menghitung yang mati. Setiap penemuan yang mati, apalagi anonim, kita bilang yang sudah mati, begitu saja.

Mati anonim menjadi kabar biasa, tidak ada yang peduli dengan yang sudah mati.

Mati itu akan terjadi setiap yang hidup. Yang hidup pasti akan mati. Mati itu takdir Tuhan, manusia tidak punya hak menentukan mati. Kecuali bunuh diri, mati yang dianggap di luar tanggungan Tuhan.

Jangan dulu mati, meskipun kakek sudah mati, nenek juga mati, ayah mati, ibu mati, kakak mati, saudara mati, kekasih mati, adik mati, dan tetangga juga mati. Kenapa takut mati? Jangan takut dengan mati.

Semua akan mati, ajak teman-teman mati, atur bagaiamana cara mati. Jangan sampai mati tak berguna. Jangan lupa doakan juga mereka yang sudah mati. Jangan lupa sampaikan salam pada yang sudah mati. Jangan ganggu mereka yang belum mati, hingga mereka benar-benar mati.

Lalu kenapa tidak perlu tahu kenapa mereka mati? Yang mati itu siapa? Bagaimana dia mati? Apakah kita harus diam hingga menunggu kapan giliran kita mati. Jangan diam dengan mati, berbuatlah sesutu sebelum kita mati, meskipun itu untuk yang sudah mati.

Kita memang boleh takut mati. Tapi, kita tak pernah berharap kematian; siapa pun orangnya, siapa pun kita, siapa pun yang mati, menjadi hal yang sia-sia. Kematian memang niscaya. Kematian memang tak bisa tertolakkan. Kematian memang sesuatu yang pasti bagi semua yang bernama makhluk hidup.

Tapi, kita, manusia harus tetap bisa memberikan makna; bagi sebuah kematian sekalipun. Sebab, selalu ada yang tertinggal dalam setiap kematian; apa dan siapa pun yang mati.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 11 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 13 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Perubahan, Dimulai dengan Kesadaran bahwa …

Fidelia Divanika Ku... | 7 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Melamun: Bermimpi tanpa Tidur …

Delu Pingge | 8 jam lalu

Kisah Bus Surat …

Setiyo Hadi | 8 jam lalu

Jalur Lambat Jebres Tidak Beres …

Kun Prastowo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: