Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Adi Supriadi

Writer, Motivation Trainer & Public Speaker. Working as HR, Training & Personel Manager Di Perusahaan selengkapnya

Konflik Masyarakat Spritual dan Solusinya

OPINI | 07 April 2011 | 05:31 Dibaca: 256   Komentar: 8   1

13021109391131925000

Ilustrastion : Konflik Masyarakat Spritual

Sesungguhnya konflik masyarakat spritual tidak akan terjadi apabila masing-masing pemeluk agama betul-betul melaksanakan agama mereka, misalnya Islam mengajarkan kepada kita bahwa ‘tidak ada paksaan dalam agama’ sebuah pertanda bahwa tidak perlu ada pemaksaan orang untuk yakin dengan keyakinan kita, tetapi jika sudah memilih Islam sebagai Dien maka semua aturan main yang ada di dalam Islam seharusnya menjadi penuh untuk dilaksanakan.

Coba kita tanya ke dalam hati nurani kita mengapa kita harus sibuk dengan konflik antar keyakinan, toh misalnya Islam mengajarkan kepada kita Lakum Dinukum Waliadin yang bermakna Bagimu Agamamu Bagiku Agamamu’. Saya fikir salah besar jika ada orang berpersepsi seoalah-olah Islam memaksakan keyakinan, jika ada proses Islamisasi di ilmu pengetahuan, itu hanyalah bentuk pengembalian bahwa ilmu pengetahuan ini memiliki dasar kuat dari YANG MENCIPTAKAN ILMU PENGETAHUAN itu sendiri.

Solusi terbaik menyelesaikan ’sengketa’ dalam pemikiran gama-agama adalah mulailah untuk kritis terhadap ajaran yang membabi buta, Islam mengajarkan melalui Nabi Ibrahim AS saat Ibrahim AS mencari Allah sebagai Tuhan , beliau bertanya kepada ayahnya sang pembuat patung “Ya Abi , Kenapa Engkau menyembah patung yang tidak bisa berbuat apa-apa ini? Sang ayah menjawab “inilah yang diajarkan oleh Nenek moyangmu dulu’. Maka Nabi Ibrahim As tidak mau menerima ini sebagai doktrin , beliau mencari dan terus mencari, terlihat ke bulan beliau menduga inilah Tuhan, terlihat ke matahari begitu juga dan pada akhirnya menemukan Allah sebagaimana seharusnya sehingga Ibrahim disebut sebagai HANIFAN yang bermakna lurus.

Jika kita analogikan di Islam seperti ini, misalnya seorang anak bertanya “Ayah kenapa ibadah kita seperti ini, lima waktu duduk berdiri” maka tidaklah bisa seorang anak menerima jawaban dari ayah seperti ini “Inilah yang di ajarkan Nabi kita dulu”. Islam mengajarkan untuk mencari yang lebih detail daripada jawaban seperti sang ayah. Kita harus tahu mengapa Sholat kita harus seperti itu, dalilnya bagaimana? Kemudian mengapa itu disebut ruku’,  kenapa ruku seperti itu kemudian seperti apa ruku dan sujud yang benar dan semuanya memiliki Dasar yang kuat dari Rasulullah SAW.

Misalnya di agama Kristenpun sama, mengapa ibadah cuma seminggu sekali, mengapa Yesus disebut Tuhan padahal Yesus Manusia biasa, bukankah Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakan, pertanyaan kritis seperti ini harus dibangun , dan tidak bisa dijawab dengan ‘IMAN PAK’, karena Iman itu memiliki dasar pijakan sebagaimana yang diajarkan IBRAHIM atau ABRAHAM.

Dengan semangat kritis dan setelah itu melaksanakan agama masing-masing dengan sungguh-sungguh maka kita akan semakin dewasa dalam bertoleransi dan tidak adalagi kekerasan.

Gampangnya gini aja deh laksanakan agama masing-masing dengan benar, kita buktikan saja di akhirat siapa yang benar-benar masuk syurga dan siapa yang benar-benar masuk neraka, kata kakek saya saat beliau mengelola pesantren selama hidupnya ketika berhadapan dengan orang yang ‘NGEYEL’ beliau mengatakan “udahlah kita semua akan mati dan pasti dimakan ulat”.

Kritis dengan keyakinan kemudian berimanlah dengan benar-benar beriman. Bertaqwalah dengan benar-benar bertaqwa. Insya ALLAH damai.

Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan (Adi Supriadi)

Email : adikalbar@gmail.com / assyarkhan@yahoo.com

Mobile : 0858-606-16183 (Konsultasi Online)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: