Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Tj Garing

ada kalanya berita terletak pada kebisingan adakalanya terletak pada kesunyian. http/www.mostsecretTj.blogspot.com

Manunggal Kawulo Lan Gusti

REP | 02 April 2011 | 22:20 Dibaca: 561   Komentar: 2   0

O MAM PASYATI SARVATRA

SARVAM CA MAYI PASYATI

TASYA ‘AHAM NA PRANASYAMI

SA CA ME NA PRANASYATI

Ia yang melihat Aku dalam segala dan melihat segala dalam Aku;

Aku tidak akan pernah hilang dari padanya dan ia tak akan pernah hilang dari Ku.

Secara mendasar kalimat yang pendek selalu memberikan penjelasan yang panjang; karena makna yang terkandung di dalamnya tidak sesingkat kalimatnya. Kata manunggal ataupun nyawiji (jawa-red) memfokuskan pada kondisi satu. Manunggal kawulo adalah menyatunya diri ragawi yang manunggal secara fisik, dimana secara harafiah sering disebut dengan sehat jasmani, di saat inilah kata manunggal menunjukkan arti

1301782767665341823

seimbang dan saling melengkapi, disaat mata melihat pikiran mulai menguraikan apa yang kita lihat. disat itulah kelengkapan tubuh yang lain melengkapi hingga muncullah karya, wujud nyata yang juga disebut laku. Saat manusia dilahirkan ke dunia dengan proses -Mengurip-Urip- disinilah kartu akan kehidupan dibagi, kartu semsara akan kelahiran di buat oleh setiap tetesan darah yang berkumpul menjadi daging dan daging yang terurai menjadi angin dan angin yang menjadi gerak nafas. Keadaan yang tidak manunggal kawulo pada saat terbentuknya manusia mengakibatkan manusia secara fisik akan cacat, memiliki tanda yang kuat atas samsara di kehidupan ini melalui apa yang telah dinyatakan tidak lengkap raganya.

Manunggal Gusti, kalimat ini mengandung maksud Hyang Widi pun bukan objek tunggal dan satu namun berbagai macam sinar melengkapinya; setiap sinar inilah disebut dengan “dev” kata dev inipun menjadi Dewa; para dewa selaku sinar suci Hyang Widi berputar pada karma wening Nya, membagi lapisan dalam 7 kelompok, sinar yang berupa kelompok pertama disebut -LUHUR- disni sinar suci Hyang widi disebut “Tri Murti”.  Kelompok kedua disebut -DUTA- sebagai ibarat perantara terbabarnya karsa berwujud menitiknya sabda, dan sabda ini ada dua yaitu; Sabda Urip dan nguripi; Sabda pelebur. Kelompok ketiga disebut -WISESA- dimana sinar yang  memancar adalah sinar karya; karya atas segala macam kehidupan di tata ruang Angkasa dan ini merupakan panca idra bagi Hyang widi. Kelompok keempat merupakan golongan -HAYU- yakni sinar yang melaksanakan segala Sabda Hyang widi dengan sifat mengurip dan urip Dharma, dan golongan merupakan hati nurani Hyang widi. kelompok kelima menjadi tinggal sinar -KUASA- yaitu sinar yang bergerak aktif dalam perputaran jagat raya. golongan ini layaknya buah pikiran Hyang widi. Kelompok ke enam disebut juga sinar -DANA- yang merupakan energi terpancar guna memenuhi segala kekuatan Hyang Widi. Dan golongan ini merupakan Nafsu yang terpancar dari Hyang widi atas segala yang terjadi baik itu menuju kebaikan ataupun pengrusakan (dharma -Adharma). Golongan ke tujuh, merupakan sinar -Pada- kelompok yang disebut sebagai hasil kama dari Hyang Widi; sebagaimana halnya kama bagi tiap ciptannya.

Manunggal Gusti inipun suatu keseimbangan suatu proses perputaran pada porosnya dimana Hyang Widi tidaklah menyatukan kelompok ini pada diri Nya yang Tunggal. Setiap kelompok memiliki tugas dan aturan masing-masing sehingga cipta-rasa dan karsa alam semesta dapat berjalan dengan seimbang.

Kata Manungal’Ing ini lah yang menggaris bawahi jika setiap langkah ditata dengan keseimbangan, disaat manunggalin kawulo lan kawulo disaat raga dan raga menjadi suatu kesatuan utuh yang disebut gerak pacu raga Dharma, disanalah mulai akan terbarbar -Cipta- disaat manunggaling Cipta lan Raga terbentuklah Rasa. Rasa inilah yang menghantar raga untuk manunggal-ing Karsa, menciptakan gerak yang selaras dan seimbang. selaras dengan Cipta-Rasa-dan seimbang dengan Karsa.

Manunggaling kawulo lan Gusti, merupakan karsa yang terbarbar dari ketujuh sinar kelompok Hyang widi yang mengitari alam semesta sebagai tempat hidup manusia menuju pada karya manusia disaat masih diberikan wadag ataupun raga terhadap diri sendiri-alam semesta-dan Hyang Widi.  Manusia yang disebut Manunggaling adalah insan yang sadar (eling) mengetahui bahwa “Sujatinya Karsa merupakan Sujati Roso” dan Dan sujatinya Cipta merupakan Sujatinya  Hyang Widi. inilah yang diakhiri dengan kata “Sangkan Paraning Dumadi”

By. Tj Garing

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 2 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 4 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 9 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: