Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Yahya Immawan

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, Yang kedua dilahirkan tapi mati muda, Yang tersial adalah umur tua, Bahagialah selengkapnya

Gambaran Mitologis Dunia (Bagian 3)

REP | 02 April 2011 | 23:15 Dibaca: 127   Komentar: 2   0

Yang kita maksud dengan filsafat adalah cara pikir yang sama sekali baru yang berkembang di Yunani sekitar enam ratus tahun sebelum kelahiran Kristus. Hingga masa itu semua pertanyaan yang diajukan oleh manusia dijawab oleh berbagai agama. Penjelasan-penjelasan agama ini disampaikan dari generasi ke generasi dalam bentuk mitos. Mitos adalah sebuah cerita mengenai dewa-dewa untuk menjelaskan mengapa kehidupan berjalan seperti adanya.
Selama ribuan tahun banyak sekali penjelasan mitologi bagi pertanyaan-pertanyaan filsafat yang tersebar ke seluruh dunia. Para filosof Yunani berusaha untuk membuktikan bahwa penjelasan-penjelasan ini tidak boleh dipercaya.
Untuk memahami cara berpikir para filosof awal ini, kita harus paham dulu bagaimana rasanya memiliki suatu lukisan mitologis tentang dunia. Kita dapat mengambil contoh beberapa mitos Skandinavia.
Kita barangkali pernah mendengar cerita tentang Thor dan palunya. Sebelum agama Kristen masuk ke Norwegia, orang-orang percaya bahwa Thor mengendarai sebuah kereta yang ditarik dua ekor kambing melintasi angkasa. Ketika dia mengayunkan palunya akan terdengar guntur dan halilintar. Kata “guntur” dalam bahasa Norwegia –“Thor-don” berarti raungan Thor. Dalam bahasa Swedia, kata untuk guntur adalah “aska,” aslinya “as-aka,” yang berarti “perjalanan dewa” di atas lapisan-lapisan langit.
Jika ada guntur dan halilintar pasti ada hujan, yang sangat penting bagi para petani Viking. Maka Thor dipuja sebagai dewa kesuburan.
Penjelasan mitologi untuk hujan karenanya adalah bahwa Thor sedang mengayunkan palunya. Dan jika hujan turun maka jagung berkecambah dan tumbuh subur di ladang.
Bagaimana tanam-tanaman di ladang dapat tumbuh dan menghasilkan panen tidaklah dipahami. Tapi jelas itu dikaitkan dengan hujan. Dan karena setiap orang percaya bahwa hujan ada hubungannya dengan Thor, maka dia menjadi salah satu dewa paling penting di wilayah Skandinavia.
Masih ada alasan lain mengapa Thor dianggap penting, suatu alasan yang berkaitan dengan seluruh tata dunia.
Orang-orang Viking percaya bahwa dunia yang dihuni itu merupakan sebuah pulau yang selalu terancam bahaya dari luar. Mereka menyebut bagian dunia ini Midgard, yang berarti kerajaan di tengah. Di dalam Midgard terletak Asgard, tempat bersemayam para dewa.
Di luar Midgard adalah kerajaan Utgard, tempat tinggal para raksasa curang, yang melakukan segala tipuan keji untuk menghancurkan dunia. Mosnter-monster jahat seperti ini sering dianggap sebagai “pasukan pengacau.” Bukan hanya dalam mitologi Skandinavia melainkan juga dalam hampir semua kebudyaan lain, orang-orang mendapati bahwa ada suatu kleseimbangan yang rawan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat.
Salah satu cara yang digunakan para raksas untuk menghancurkan Midgard adalah menculik Freyja, dewi kesuburan. Jika mereka dapat melakukan ini, tidak ada yang dapat tumbuh di ladang dan para wanita tidak dapat lagi mempunyai anak. Maka penting sekali untuk mencegah usaha para raksasa ini.
Thor adalah tokoh utama dalam pertempuran melawan para raksasa. Palunya bukan hanya digunakan untuk membuat hujan, tetapi juga merupakan senjata yang menentukan dalam pertempuran melawan kekuatan pengacau yang berbahaya. Palu itu memberi Thor kemampuan yang hampir tanpa batas. Misalnya, dia dapat melemparkannya ke arah para raksasa itu dan membunuh mereka. Dan dia tidak perlu khawatir palu itu hilang sebab ia selalu kembali kepadanya, persis seperti bumerang.
Inilah penjelasan mitologi bagaimana keseimbangan alam dpertahankan dan mengapa selalu terjadi pertempuran antara kebaikan dan kejahatan. Dan inilah tepatnya jenis penjelasan yang ditentang oleh para filosof.
Namun ini bukan masalah penjelasan semata.
Manusia tidak dapat hanya duduk termangu dan menunggu para dewa turun tangan sementara bencana seperti kekeringan atau wabah melanda. Mereka harus bertindak sendiri dalam perjuangan melawan kejahatan. Ini mereka lakukan dengan menjalankan berbagai upacara agama, atau ritus.
Upacara keagamaan paling penting di zaman kejayaan Skandinavia adalah upacara persembahan. Memberi persembahan kepada seorang dewa dapat meningkarnkan kekuatan dewa tersebut. Misalnya, manusia harus memberikan persembahan kepada para dewa untuk memberi mereka kekuatan guna mengalahkan kekuatan pengacau. Mereka dapat melakukan hal ini dengan mengorbankan seekor binatang kepada sang dewa. Persembahan untuk Thor biasanya adalah seekor kambing. Persembahan Odin biasanya berbentuk pengorbanan manusia.
Mitos yang paling dikenal di negeri-neger Skandinavia berasal dari puisi Eddic “Syair Thrym.” Puisi itu menceritakan bagaimana Thor, ketika bangun dari tidurnya, mendapati bahwa palunya hilang. Ini membuatnya begitu marah sehingga kedua tangannya gemetar dan janggutnya bergoyan. Dengan ditemani pengikutnya, Loki, dia pergi mendatangi Freyja untuk menanyakan apakah Loki boleh meminjam sayap Freyja agar dia dapat terbang ke Jotunheim, negeri para raksasa, dan mencari tahu apakah memang mereka yang telah mencuri palu Thor.
Di Jotunheim Loki bertemu dengan Thrym, raja para raksasa, yang membual bahwa dia telah menyembunyikan palu itu tujuh lapisan di bawah bumi. Dan dia menambahkan bahwa para dewa tidak akan mendapatkan kembali palu itu kecuali jika Freyja diserahkan kepada Thrym sebagai mempelainya.
Dapatkah kita bayangkan? Tiba-tiba para dewa mendapati diri mereka berada di tengah peristiwa penyanderaan. Para raksasa telah merampas senjata pertahanan paling penting milik dewa-dewa. Ini adalah situasi yang sama sekali tidak dapat diterima. Selama raksasa-raksasa itu memiliki palu Thor, mereka sepenuhnya menguasai dunia para dewa dan makhluk hidup lainnya. Sebagai pengganti palu itu mereka menuntut Freyja. Tap ini sama-sama tidak dapat diterima. Jika para dewa harus menyerahkan dewi kesuburan mereka—dia yang melindungi seluruh kehidupan—rumput akan lenyap dari ladang dan semua dewa dan makhluk hidup lainnya akan mati. Situasinya benar-benar seperti menghadapi jalan buntu.
Loki kembali ke Asgard dan menyuruh Freyja untuk mengenakan gaun pengantinnya sebab dia harus mengawini si raja raksasa. Freyja sangat marah, dan mengatakan orang-orang akan mengira dia benar-benar gila lelaki jika dia setuju untuk mengawini seorang raksasa.
Kemudia dewa Heimdall mendapat sebuah gagasan. Dia menyarankan agar Thor berpakaian seperti seorang mempelai wanita. Dengan rambut ditata ke atas dan dua batu di balik tuniknya dia akan tampak seperti seorang wanita. Dapat dipahami, Thor tidak begitu bersemangat menaggapi gagasan itu, namun dia akhirnya menerima bahwa inilah satu-satinya cara agar dia dapat memperoleh kembali palunya.
Maka Thor membiarkan dirinya didandani dengan pakaian pengantin wanita, dengan Loki sebagai pengiring pengantinnya.
Jika dikemukakan dengan istilah masa kini, Thor dan Loki adalah dewa-dewa yang menjadi “Pasukan anti-teroris.” Dengan menyamar sebagai wanita, misi mereka adalah menerobos benteng para raksasa dan merebut kembali palu Thor.
Ketika dewa-dewa tiba di Jotunheim, para raksasa mulai mempersiapkan pesta perkawinan. Tapi selama berlangsungnya pesta, sang mempelai wanita—yaitu Thor—mengganyang seekor sapi utuh dan delapan ekor ikan salmon. Dia juga minum tiga barel bir. Ini mengherankan Thrym. Jati diri yang sesungguhnya dari “pasukan komando” itu hampir terungkap. Tapi Loki berusaha untuk mengalihkan bahaya dengan mejelaskan bahwa Freyja telah menanti-nanti saat untuk datang ke Jotunheim dengan tidak sabar sehingga dia tidak mau makan selama seminggu.
Ketika Thrym mengangkat kerudung sang mempelai untuk menciumnya, dia terkejut mendapati dirinya berhadapan dengan mata Thor yang membara. Sekali lagi Loki menyelamatkan situasi dengan menjelaskan bahwa sang mempelai tidak tidur selama seminggu sebab dia demikian bahagianya menghadapi perkawinan itu. Setelah mengetahui hal ini, Thrym memerintahkan agar palu itu dikeluarkan dan ditaruh di pangkuan sang mempelai selama berlangsungnya upacara perkawinan.
Tawa Thor membahana ketika dia diberi palu. Mula-mula dia membunuh Thrym dengan itu, dan kemudian dia menghabisi para raksasa dan seluruh keluarga mereka. Dan dengan demikian kisan penyanderaan yang mengerikan itu berakhir bahagia. Thor—sang Batman atau James Bond dari kalangan para dewa—sekali lagi berhasil menaklukkan kekuatan jahat.
Cerita tersebut tidak dibuat untuk hiburan semata. Mitos itu juga berusaha menjelaskan sesuatu. Inilah tafsir yang mungkin:
Ketika kekeringan melanda, orang-orang mencari penjelasan mengapa tidak turun hujan. Mungkinkah itu karena para raksasa telah mencuri palu Thor?
Barangkali mitos itu merupakan suatu upaya untuk menjelaskan adanya musim yang berubah-rubah dalam setahun; pada musim dingin alam mati sebab palu Thor di Jotunheim. Tapi pada musim semi dia berhasil merebutnya kembali. Maka mitos itu berusaha memberikan penjelasan kepada orang-orang mengenai sesuatu yang tidak dapat mereka pahami.
Namun mitos bukan semata-mata penjelasan. Orang-orang juga menjalankan upacara-upcara keagamaan yang berkitan dengan mitos-mitos tersebut. Kita dapat membayangkan bagaimana tanggapa orang-orang terhadap kekeringan atau kegagalan panen akan menciptakan suatu drama mengenai peristiwa-peristiwa dalam mitos itu. Barangkali seorang pria dari desa akan berpakaian sebagai seorang mempelai wanita—dengan batu untuk mengganjal dadanya—untuk mencuri kembali palu dari kawanan raksasa. Dengan melakukan ini, orang-orang berusaha mengambil tindakan utnuk mengundang hujan sehingga tanaman akan dapat tumbuh di ladang mereka.
Banyak sekali contoh dari bagian-bagian dunia lain mengenai cara orang-orang mendramatisasi mitos mereka menyangkut musim untuk mempercepat proses alam.
Sampai sekarang kita hanya melihat sekilas ke dunia mitologi Skandinavia. Namun mitos yang ada tak terhitung jumlahnya menyangkut Thor dan Odin, Freyr dan Freyja, Hoder dan Balder dan banyak dewa lainnya. Pandangan mitologis semacam ini telah berkembang di seluruh dunia ketika para filosof mulai mengusiknya.
Gambaran mitologis dunia juga hidup di Yunani ketiak filsafat pertama mulai berkembang. Cerita-cerita tentang para dewa Yunani telah diturunkan dari generasi ke generasi selama berabad-abad. Di yunani para dewa dinamakan Zeus dan Apollo, Hera dan Athena, Dionysos dan Asklepios, Herakles dan Hephaestos, untuk menyebut sebagian di antara mereka.
Sekitar 700SM, kebanyakan mitologi Yunani ditulis oleh Homer dan Hesiod. Ini menciptakan situasi yang sama sekali baru. Kini setelah mitos-mitos itu berkembang dalam bentuk tulisan, terbuka kemungkinan untuk mendiskusikannya.
Para filosof Yunani paling awal mengecam mitologi Homer sebab para dewa terlalu menyerupai manusia dan sama egois dan sama curangnya. Untuk pertama kalinya dikatakan bahwa mitos-mitos itu tidak lain dari hasil pemikiran manusia.
Salah seorang pendukung pandangan ini adalah filosof Xenophanes, yang hidup sekitar 570 SM. Manusia menciptakan dewa-dewa sesuai dengan bayangan mereka sendiri, katanya. Mereka percaya bahwa dewa-dewa itu dilahirkan dan mempunyai badan dan pakaian serta bahasa sebagaimana kita semua. Orang-orang Ethiophia percaya bahwa para dewa itu hitam dan berhidung rata. Bangsa Trasia membayangkan mereka sebagai manusia bermata biru dan berambut terang. Jika sapi, kuda, dan singa dapat menggambar, mereka akan melukiskan para dewa yang tampak seperti sapi, kudan dan singa!
Pada masa itu orang-orang Yunani mendirikan banyak negara-kota, baik di Yunani sendiri maupun di koloni-koloni Yunani di Italia Selatan dan Asia Kecil, di mana semua kerja berat dilakukan oleh para budak, sehingga setiap warga negara bebas untuk memamfaatkan waktu mereka dengan memikirkan politik dan kebudayaan.
Di lingkungan-lingkungan kota ini orang mulai berpikir dengan cara yang sama sekali baru. Murni atas namanya sendiri, setiap warga negara akan mempertanyakan bagaimana masyarakat semestinya diatur. Dengan demikian setiap individu juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis tanpa berpaling pada mitos-mitos kuno.
Kita menyebut ini perkembangan dari cara pikir mitologis menuju cara pikir yang didasarkan pengalaman dan akal. Tujuan para filosof Yunani awal adalah menemukan penjelasan-penjelasan alamiah, dan bukannya supranatural, untuk berbagai proses alam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 6 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 7 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 10 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Usia 30 Batas Terbaik Untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 7 jam lalu

Sepenggal Cerita dari Takabonerate Islands …

Hakim Makassar | 7 jam lalu

Demokrat Dukung Pilkadasung, PKS Kebakaran …

Revaputra Sugito | 7 jam lalu

4,6 Juta Balita Gizi Buruk-Kurang di …

Didik Budijanto | 7 jam lalu

‘Belgian Waffles’, Menggoyang …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: