Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Henry Multatuli

Saya adalah seorang yang sedang mencari makna yanga ada di dalam bab-bab buku kehidupanku. lembarannya selengkapnya

Mengenal Nietzsche: Sosok Si “Pembunuh Tuhan”

REP | 01 April 2011 | 18:48 Dibaca: 2709   Komentar: 9   2

Nietzsche

Friedrich Nietzsche. scriptoriumdaily.com

Jangan menganggap artikel ini sebagai biografi. Andaikan saja artikel ini sebagai seorang ’sahabat’ yang saya ingin kenalkan kepada anda tatkala sedang santai sambil menyeruput kopi di kafeteria. Ada dua alasan kenapa saya tidak akan memaparkan kehidupan Nietzsche sedetil mungkin; 1). Akan membuat pembaca bosan, 2) Akan menghabiskan spasi server kompasiana yang selalu disesaki dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat lainnya.

Tokoh yang berusaha saya ‘kenalkan’ adalah Friedrich Nietzsche. Mungkin diantara kita sekedar mendengar namanya karena memang ia cukup terkenal baik di kalangan intelektual, maupun pecinta literatur atau sastra. Tapi, namanya tak seindah nama-nama seperti Kant, Einstein, atau Newton. Namanya seringkali dideretkan bersebelahan dengan nama-nama pemikir seperti Machiavelli, Freud, atau Darwin. Tentu saja ini disebabkan oleh pemikirannya yang sama kontroversialnya dengan ‘Libido-nya Freud, Il Principe-nya Machiavelli, dan bahkan teori Evolusinya Darwin. Apalagi kalau bukan kalimat ‘Dead of God’ yang cukup mengguncangkan puritanisme Eropa di masa lahirnya gereja Lutheranisme. Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui keadaan Eropa masa itu serta latar belakang Nietzsche di masa itu.

Tatkala Nietzsche lahir di Leipzig, Prusia (sebelum Jerman) tahun 1844, Eropa sedang mengalami dentuman kemajuan yang pesat terutama di ranah intelektual dan budaya. Markas intelektual/budaya Eropa saat itu berpindah dari Prancis (yang dulu di-tongkrongi Rosseau, Voltaire, Diderot, Montesquieu) ke Prusia. Walaupun romantisisme Eropa bermula dari pemikiran Rosseau. Tapi hawa romantisisme eropa bernafas lebih kencang di Prusia. Berterima kasihlah pada Goethe, Schiller, Hammann yang mengembangkan Romantisisme sebegitu jauhnya hingga periode itu dinamakan gerakan ‘Sturm und Drang’. Sebuah gerakan seni dan sastra bernafaskan sentuhan emosional individu dan mengandalkan subyektifitasnya. Tidak hanya seni saja, gerakan ini populer di kalangan Filosof-filosof Jerman seperti Fichte, Schelling, dan Hegel di bawah bendera ‘Idealisme’ atau bisa juga mencirikan idealismenya dengan german idealism.

Apa yang terjadi dengan suasana seperti itu? Romantisisme, Idealisme, dan hikayat-hikayat rakyat bernafaskan reliji begitu membahana. Rasionalisme dihentak sedemikian dahsyat di eropa dan di-’tendang’ sedemikian jauhnya hingga ke Inggris sehingga menjadikan Inggris  negara industri pertama di abad ke-19 di bawah masa ratu Victoria. Sedangkan Eropa daratan sedang dimabuk cinta akan kerinduan mereka bersatu dengan ‘alam’. Puisi-puisi emosional begitu merdunya cukup marak di Prusia seperti yang didendangkan oleh Schiller, pujangga ternama Jerman. Nasionalisme atau cinta negara menjadi himne wajib di Prusia (akibat perseteruan Napoleon dan Prusia). Hingga akhirnya suasana tersebut memperanakkan ironisme. Ciri rasionalisme yang melekat pada filsafat berusaha didamaikan dengan idealisme jerman yang begitu mistis oleh Hegel. Lutheranisme telah menjadi kendaraan politik Prussia yang berjiwa nasionalistis. Tidaklah mengherankan jika Nietzsche, yang notabenenya adalah seorang filolog, begitu kontroversial dan suka bertutur dengan permainan ironi, aforisme dan metafora dalam karyanya.

Nietzsche adalah salah satu filosof yang merasakan seberapa jauh irasionalisme manusia sebagai individu. Nietzsche yang (sebagaimana halnya Kierkegaard juga) mengambil sudut pandang individu dalam filsafatnya, mengecam Hegel dengan ke-umum-annya–sebuah ujicoba Hegel untuk ‘mengobjektifikasi’ seluruh ide pada muara absolut. Nietzsche juga mencemooh Kant sebagai seorang moral fanatik. Nietzsche menganggap tidak ada nilai moral yang dapat dipegang sebagai acuan manusia dalam menggapai makna keberadaannya. Singkatnya, manusia hadir tanpa makna: Nihilisme. Moral hanyalah topeng munafik yang berusaha disuburkan untuk memberdayakan manusia sehingga menjadi lemah. Bagi Nietzsche, kehendak kuasa (der wille zur macht) adalah insting utama manusia ketika hadir di dunia ini. Nietzsche melihat dunia ini dalam kacamata sinis. Dengan begitu, pantaslah sumber ajaran moral, Tuhan, dianggap telah mati di eropa. Kini ‘tuhan’, seperti kata Nietzsche terbunuh oleh sekulerisme eropa. Belum lagi geliat sains dan industri di barat yang lagi semangat-semangatnya.

Dalam sprach Zarathustra, Nietzsche tidak saja menyatakan belasungkawanya terhadap ‘tuhan’ tapi menasihati setiap individu kepada kegemilangan sosok superman (Ubermensch). Superman disini bukanlah superhero ciptaaan komik DC seperti yang populer di masa kini. Superman disini adalah sosok ‘paripurna’ manusia yang–menurut Nietzsche–akan tercapai saat individu meniadakan nilai-nilai moral manusia yang dianggap menjadi ‘penghambat’ potensi manusia yang begitu sempurna. berbanding terbalik dengan Schopenhauer, filosof Jerman, yang mengagungkan moral dan supremasi kepertapaan sebagai usaha pencaharian ‘nirwana’. konsep ubermensch Nietzsche sangatlah gelap dan tak kalah kontroversial pula.

Nietzsche adalah filosof yang berusaha menelanjangi manusia dibalik slogan-slogan moralnya dan menertawakan mereka yang menyanjung modernitas dan nilai-nilai luhur yang selama ini dipuja oleh kelompok tertentu. Nietzsche menampar setiap wajah manusia dalam bahasanya yang penuh aforistis dan ironi. Dia juga berani mempertanyakan arti keberadaan manusia dalam kehidupannya, sesuatu yang selama ini luput dibahas oleh para filosof masa itu terkecuali Kierkegaard dan Max Stirner. Tendensi ini masih kita rasakan hingga sekarang di kalangan filosof-filosof kontemporer yang berslogan ‘postmodernisme’ atau kaum postrukturalis seperti Foucault, Jerrida, dan Lyotard. Kelompok Posmo selalu mencurigai setiap–meminjam istilah Lyotard–’narasi besar’ yang berusaha ditunjukkan sang adikuasa akan supremasi modernitas dan nilai-nilai moral dan budaya mereka selama ini.

Terlepas dari apakah Nietzsche seorang ateis tulen, amoral, atau setengah gila, puing-puing pemikirannya masih berbekas hingga sekarang. Seperti pada paragraf sebelumnya, gerakan posmodernisme yang kita rasakan kini kemungkinan warisan Nietzsche. Tidak hanya itu, Nietzsche juga cukup mempengaruhi pemikiran para filosof kontemporer selepas kepeninggalannya di tahun 1900. Nama-nama filosof kondang seperti Sartre, Heidegger, serta beberapa ahli teori kritis berhutang budi padanya atas perkembangan pemikiran mereka. Bahkan seorang intelektual muslim ternama seperti Muhammad Iqbal tidak malu-malu memuji namanya. Apa yang mereka lihat dibalik jubah amoralnya adalah sebuah reaksi filosofis yang telah lama mengacaukan kegemerlapan nama ‘modernitas’ terutama istilah ‘modernitas’ a la barat yang begitu suprematif saat ini. Kalau begitu, ada baiknya kita mengamalkan perkataan Ali bin Abi Thalib, sahabat nabi Muhammad yang berkata, “Janganlah lihat siapa yang berbicara, tapi dengar apa yang dibicarakan” untuk melihat Nietzsche.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 8 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 11 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 12 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Masyarakat Kelautan dan Perikanan Kian …

Jejaka Bahari | 8 jam lalu

Bung Karno,,President, Seniman & …

Nasionalisme Soekar... | 8 jam lalu

Ketika Si Tuan Besar Berkuasa: Sejarah …

Joko P | 8 jam lalu

Trik Bikin Buku Untuk Anda Yang Malas …

Suka Ngeblog | 8 jam lalu

Judi dan Olok-olong di Prime Time? …

Imam Safingi Mansur... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: