Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ibn Ghifarie

Pria kelahiran Bungbulang (d/h Kandangwesi) Garut Selatan. Kini tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri selengkapnya

Sakola# Ajaran-ajaran Hindu

OPINI | 24 March 2011 | 10:37 Dibaca: 3487   Komentar: 7   0

Omkara. wikimedia.org

Omkara. wikimedia.org

Sumber ajaran agama Hindu adalah Kitab Suci Weda (Veda), yaitu kitab yang berisikan ajaran kesucian yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi. Weda merupakan jiwa yang meresapi seluruh ajaran Hindu, laksana sumber air yang mengalir terus melalui sungai-sungai yang amat panjang dalam sepanjang abad. Weda adalah sabda suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa.

Pembacaan kitab Weda erat kaitannya dengan upacara-upacara pengorbana ini, hingga digolongkan menjadi empat; Pertama, Rig-Veda merupakan veda tertua berisi pujian. Kedua, Sama-Veda berisi nyanyian-nyanyian yang dinyanyikan Utgatar waktu orang menyediakan minuman untuk korban yang amat penting. Ketiga, Yajur-Veda berisi mantra-mantra dalam bentuk prosa biasa digunakan dalam pengorbanan yang sebenarnya. Keempat, Atharwa-Veda berisi uraian dan doa yang harus dikenal para Brahmana. (Bagus Takwim, 2003:42)

Di mata T. H. Thalhas, memang dalam kitab Hindu Weda ada empat bentuk; Rig-Weda, Yajur-Weda, Sama-Weda dan Atharwa-Weda. Namun, untuk pembagiannya ada mantra (pokok-pokok pembicaraan), Brahmana (tafsir mantra) dan Upanishad (tafsir weda sesudah Brahmana). (T.H. Thalhas, 2006:55-58)

Umat Hindu menyakini supaya hidupnya terarah, maka diperlukan Tuntunan Dasar Agama Hindu (milik Departemen Agama), seperti ditulis  Drs. Anak Agung Gde Oka Netra. Paling tidak ada lima Pokok-pokok Keimanan Agama Hindu; Pertama, Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi). Kedua,Ppercaya adalanya Atman. Ketiga, Percaya adanya Hukum Karmaphala. Keempat, Percaya adanya Punarbhawa (Reinkarnasi/Samsara). Kelima, Percaya adanya Moksa.

Orang Hindu mencari kebenaran, tetapi tidak semata demi kebenaran. Kebenaran yang dicari dari dunia “Filsafat Hindu menyelidiki alam, dicari intisatinya, diselami hakikatnya, dicari sebab-sebab yang sedalam-dalamnya. Akan tetapi tidaklah berhenti di situ saja. Masih mempunyai tujuan lebih lanjut; kebenaran” (Poedjawitana, 1986:54-55)

Kebijakan Abadi
Pada dasarnya Hinduisme merupakan suatu kepercayaan monothoistik, kepercayaan hanya pada satu Tuhan. Juga dikenal dengan sebutan Sanathara Dharma yang berarti “kebijakan abadi”. (Bagus Takwin, 2003:37-38)

Dalam Hindu ajaran agama dan filsafat saling melengkap dan saling menjelaskan. Para Brahmana melakukan perenungan filosofis dalam rangka memperkaya pemahaman tentang manusia, alam semesta dan Tuhan. Dengan adanya filsafat, ajaran Hindu menjadi dinamis dan banyak mengalami penambahan yang meperteguh pemahaman manusia tentang kehidupan manusia di alam semesta ini.

Dengan demikian, para filusuf Hindu berfikir untuk mencari jalan lepas dari ikatan duniawi dan masuk ke dalam kebebasan yang baginya merupakan kesempurnaan.

Penjelmaan Trimurti
Dalam pemahaman agama Hindu Tuhan menjelma dalam banyak wujud. Konsep satu Tuhan dalam banyak perwujudan ini memudahkan manusia untuk memahami Tuhan yang maha esa. (Sir Simad dan A.C haktivedanta Swami Prabhupada, 2000:416)

Trimurti wujud Dewa-dewa (Gods) dan Dewi-dewi (Goddesses), para Awatara (the Avatars atau titisan) dari Wisnu (Vishnu) Sang Tuhan, Dewata (Devatas), titisan dewa-dewa dalam bnetuk planet dan bintang merupakan perpanjangan bentuk  dari Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut Bagus Takwim, Trimurti yang terdiri dari Brahma, Wishnu dan Siwa bukan tiga yang berdiri sendiri dan dewa yang terpisah satu sama lain, tetapi merupakan tiga aspek yang berbeda dari Tuhan yang maha esa. Brahmana mewakili aspek Maha Penciptaan, Wisnu sang Pemelihara dan Siwa mewakili aspek Pemusnah alam semasta. (Bagus Takwim, 2003:52)

Pun mewujud pada dewa-dewa; Dyaus Pitar (Dewa Matahari), Vairuna Dewa Air), Indra (Dewa Perang), Yama (Dewa Maut), Rudra (Dewa Badai Topan), Vayu (Dewa Angin), Soma (Dewa Air Soma), Agni (Dewa Api), Perjaniya (Dewa Awan), Asvin (pasangan Dewa). Singkatnya, para dewa yang di sebutkan di dalam kitab weda merupakan kekuatan alam yang di personifikasikan. (Harun Hadiwijono, 1982:40)

Meski pada kenyataannya, dari deretan nama-nama dewa di atas hanya dewa indra dan Agni (Api) yang sering mendapatkan pujian. Ini termaktub dalam pumbukaan Reg Weda yang dirumuskan dalam nyanyian pujaan; “Saya menghormati Agni, dewa pembawa sajian, pendeta dan penyanyi yang memberi hadiah harta benda kepada kita, yang dimuliakan oleh para reshi baik sekarang maupun dahulu. Mudah-mudahan Agni mengantarkan dewa kepada kita.” (Arifin, 1987:59)

Mari kita telaah petuah suci ini, “Kepribadian Tuhan yang maha esa bersabda: mahluk hidup yang tidak dapat dimusnahkan dan bersifat rohani disebut Brahmana dan sifatnya yang kekal disebut Adhyatma (sang diri). Perbuatan berhubungan dengan perkembangan badan-badan jasmani para mahluk hidup disebut karma atau kegiatan yang dimaksud untuk membuahkan hasil atau pahala” (Sir Simad dan A.C Bhaktivedanta Swami Prabhupada, 2000:416)

Jalan Menuju Tuhan
Untuk menuju Tuhan diperlukanlah empat jalan; Pertama, Jalan menuju Tuhan melalui pengetahuan (Jnaya Yoga). Untuk para pencari kehidupan rohani yang mempunyai kecenderungan intelektual yang kuat. Idelah yang paling penting. JIka orang merasa yakin terhadap sesuatu maka keyakinan itu benar-benar membawa perbedaan yang nyata dalam kehidupan mereka karena hidup mereka mengikuti garis pemikirannya. Seperti Buddha, Socrates.

Kedua, Jalan menuju Tuhan melalui cinta (Bhakti Yoga). Sumbernya dari cinta yang berada di hati manusia. Bagaikan air gangga tiada putus-putus mengalir ke samudra kata Tuhan dalam Bhagavata Purana.

Ketiga, Jalan menuju Tuhan melalui kerja (Karma Yoga). Orang-orang yang berwatak aktif. “Ia yang bekerja tanpa perasaan lekat pada pekerjaannya dan menyerahkannya untuk Tuhan tidak ternola oleh akibatnya. Bagikan daun bunga teratai tidak ternoda oleh air di sekitarnya” Bhagavada-Gita,V:10.

Keempat, Jalan menuju Tuhan melalui latihan psikologis (Raja Joga). Membawa orang ketarap yang luar biasa tinggi. Orang yang mempunyai kecenderungan pribadi pada ilmu pengetahuan. Ini merupakan jalan Tuhan melalui latihan-latihan psikologis.

Syaratnya memiliki dugaan kuat dari kita yang sesungguhnya jauh mengagumkan yang kita sadari dan hasrat untuk mengalami secara langsung jangkauanya sepenuhnya. Tujuannya untuk membuktikan keabsahan dari pandangan rangkap empat tentang manusia dengan cara membimbing si pencari kebenaran untuk secara pribadi langsung mengalami. Metodenya dengan mawas diri (Huston Smith, 2004:37-59)

Tugas manusia adalah berbuat sedemikian rupa, sehingga jiwanya dapat kembali kepada asalnya (Tuhan). Jalan kelepasan ada tiga; Pertama, Jnana-Marga. Jalan kelepasan melalui pengetahuan akan kebenaran yang tertingggi. Kedua, Bhakti-Marga. Jalan kelepasan dengan melalui kasih dan pemujaan kepada Purusa yang tertinggi. Ketiga, Karma-Marga. Jalan kelepasan dengan penaklukan kehendak sendiri kepada tujuan Tuhan.

Ketiga jalan kelepasan ini sama-sama menuju satu tujuan, yaitu kelepasan. Orang mendapatkan kelepasan melalui segala segi kesadaran hidup. Tak ada perbedaan mutlak antara jalan-jalan itu. Ini disebabkan kehudupan ilahiyah yang tak terpisah-pisah adanya.

Tuhan adalah Sat (kenyataan), Cit (kebenaran), Ananda (kebahagiaan). Tuhan yang demikian itu menyatakan dirinya sebagai terang yang kekal bak matahari pada tengah hari kepada orang-orang yang mencari pengetahuan. Tetapi ia menyatakan diri sebagai keadilan yang kekal kepada mereka yang bergumul bagi kebajikan. Akhirnya Tuhan menyatakan diri sebagai kasih keindahan, kesucian yang kekal kepada mereka yang mencarinya dengan kasih dan pemujaan.

Sebagaimana Tuhan mempersatukan di dalam dirinya sendiri hikmat, kebaikan dan kesucian, demikianlah manusia harus  menuju kepada hidup rohani yang tak terpisah. Dengan demikain, kelepasan terdiri dari persekutuan jiwa dengan jiwa tertinggi, yaitu menyaksikan, mengalami dan menghayati hidup ilahi. (Harun Hadiwijoni, 1982:29-30)

Intisari Ajaran
Terkait dengan intisari dari ajaran-ajaran agama Hindu, diantaranya; Pertama, Surga dan Neraka. Gunung Dewata Mahameru dianggap sebagai tempat tinggal dewa-dewa di atas Mahameru itulah letaknya surga. Neraka terdapat di bawah bumi dan dikuasai oleh Yama, Dewa kematian. Kepercayaan tentang sugra dan neraka dalam Hinduisme sangat sederhana. setiap orang yang telah mencapai moksha akan mendapat surga. Orang yang tidak dapat mengalahkan samsara maka berarti hidup dalam kesengsaraan (neraka)

Kedua, Kurban dan Sajian. Roh merupakan soal yang mata penting dalam Hindu, sehingga melahirkna dua filsafa; Pertama, Wedantara mengajarkan atman, roh manusia atau jiwa seseorang hanya merupakan bagian dari brahman, Tuhan. Kedua, Sankhya mengajarkan roh manusia yang tidak terhitung banyaknya memang ada. Bebas dan berdiri sendiri. Tidak merupakan bagian dari Tuhan.

Ketiga, Hukum Karma dan Penjelmaan Roh. Hinduisme mangajrkan roh orang yang mati akan masuk ke surga atau neraka untuk sementara waktu. Roh itu lahir kembali ke bumi dengan wujud yang lain. Semuanya itu tergantung pada karmanya. alam perbuatan masa lampau. Ada kalanya mewujud pada batu, pohon, tumbuh-tumbuhan, manusia, hewan, dewa. Kelahiran ini berlangsung terus menerus sesuai dengan hukum karma. Penjelmaan roh kembali pada jasad lain disebut reinkarnasi.

Keempat, Samsara dan Kelepasan dari Samsara. Lingkaran kelahiran kebali disebut semsara (sengsara) dan dianggap sebagai malapetaka (penderitaan). Bila filsafat Wedanta mengajarkan manusia akan terlepas dari penderitaan dan insaf atas kesadaran jiwanya bagian dari Tuhan, maka tidak akan kembali ke bumi, melainkan bersatu dengan roh Tuhan (Brahmana). Jika Sankhya mengajarkan manusia akan terlepas dari penderitaan dan insaf atas ketidakkesadaran jiwanya bagian dari Tuhan, maka tidak akan berpisah selama-lamanya menghindari gangguan dan godaan benda. (T.H.Thalhas, 2006:61-63)

Hindu Brahma “Gamabali”

Agama Hindu masuk ke Indonesia pada abad pertama sesudah masehi. Seorang sejarawan Cina, Fa Hien pada abad V telah menemukan masyarakat Brahma di pulau Jawa. Raja pada zaman itu memakai nama dalam bahasa sansekera dan menganut ajaran Shiwa. Tulisan di atas batu candi Kalasan di Jogyakarta pada tahun 700 saka merupakan ciri agama Hindu dan Budha.

Agama Hindu adalah agama bagi orang-orang yang menganut ajaran pustaka suci kitab Weda. Untuk kerangka dasar agama Hindu bali; Pertama, Tatawa (filsafat). Kedua, Susila (sopan santun dan keadaban). Ketiga, Upacara (tingkah laku perbuatan agama).

Kendati pun terbagi tiga, tapi dalam kenyataannya terjalin menjadi satu. Ibarat sebutir telur. Tatawa, sarinya (kuningnya telur); Susila putihnya telur dan upacara adalah kulitnya.

Panca Sradha
Di samping mempunyai kerangka dasar, ajaran Hindu bali memiliki lima keyakinan yang  disebut Panca Sradha; Pertama, Percaya adanya Tuhan yang maha esa yang disebut Hiyang Widhi. Kekuasaan yang tertinggi hanya ada satu: Utpati (yang mengadakan), Stakti (yang melahirkan), Pralina (yang mengembalikan pada asalnya semua mahluk). Ada empat sifat utama Hiyang Widhi; Wibhu Sakti (selalu ada di mana saja), Prabhu sakti (sifat maha kuasa sebagai pencipta), Yanan Sakti (maha tau) dan Kriya sakti (maha karya dapat melakukan apa saja)

Kedua, Percaya adanya atma atau roh leluhur. Atma merupakan percikan-percikan kecil daari Hiyang Widhi yang berada di dalam mahkluk hidup. Ketiga, Percaya adanya hukum Karmapala. Karma artinya perbuatan dan pala bermakna buah atau hasil. Perbuatan yang baik membawa hasil yang baik. Sebaliknya, perbuatan yang buruk membawa hasil yang buruk. Keempat, Perayaan adanya samsara atau purnabawa (reinkarnasi). Kelahiran yang berulang-ulang di bumi yang mmebawa akibat suka dan duka. Kelima, Percaya adanya kebajikan tertinggi yang menjadi tujuan hidup terakhir yang dikenal sebagai surga (moksha). Kebebasan dari ikatan keduniawian, bebas dari karmapala dan samsara.

Inilah prinsif keimanan ajaran Hindu yang dikenal dengan sebutan Sraddha. (Djam’annuri, 2008:51)

Mengenai kegiatan keagamaan yang merupakan tradisi dan adat istiadat masyarakat Hindu Bali dapat dilihat pada; Pertama, Pure tempat-tempat Ibadah. Tempat pemujaan para dewa ini disebut juga sanggar Dewa Graha. Masyarakat hindu mengenal macam-macam tempat ibadah yang sesuai dengan fungsinya masing-masing; Sanggar adalah pure yang ada di rumah-rumah orang biasa; Pamerayan adalah pure yang ada di rumah-rumah orang terkemuka; Puseh adalah pure yang ada di desa-desa; Pure Segara adalah pure untuk memuja Dewa Baruna (Dewa Laut)

Kedua, Sakramen, upacara-upacara suci. Misalnya pada waktu kelahiran, pemberian nama, melubangi telinga, potong rambut pertama, turun atau menginjak tanah (tedak siti), potong gigi dan upacara perkawinan.

Ketiga, Yadnya, upacara kurban. Ada lima kurban; Dewa Yadnya, Reshi Yadnya, Mamusya Yadnya, Pitra Yadnya, Buta Yadnya.

Keempat, Hari Raya perayaan-perayaan keagamaan. Galunga untuk memperingati kebangkitan menentang penderitaan.  Kuningan sebagai hari kemenangan dan kepahlawanan Dewa Durga sejak hari Galungan sampai akhirnya. Saraswati sebagai hari raya ilmu pengetahuan guna memperingati hari turunnya kitab suci Weda dan Purana ke dunia. Nyepi untuk memperingati tahun baru Caka. (T.H.Thalhas, 2006:64-70)

Inilah beberapa pokok ajaran agama Hindu yang bias kita ambil. Meskipun keberadaan Sanathara Dharma sering dianggap bukan agama karena dinilai mengajarkan sifat ketuhanan yang henoteisme, panteisme, monisme, monoteisme, politeisme, dan ateisme. Padahal, agama Hindu Dharma ini mensyaraktan aspek ketuhana yang bersifat monoteistik, seperti tercantum dalam Weda.

Pustaka

Arifin. 1987. Menguak Misteri Agama-Agama Besar, Jakarta. PT Golden Trayon Press
Djam’annuri. 2008. Agama Kita (Perspektif Sejarah Agam-agama), Yogyakarta. Kurnia Kalam Semesta,
Hadiwijono, Harun. 1982. Agama Hindu dan Budha, Jakarta. Bpk Gunung Mulia.
Poedjawijatna, I.R. 1986. Pembimbing ke Arah Filsafat. Jakarta. Bina Aksara
Simad, Sir dan A.C. Bhaktivedantara Swami Prabhupada. 2000. Bhagavad-gita Menurut Aslinya (terjemahan). Jakarta. Hanuman Sakti
Smith, Huston. 2004. Agama-agama Manusia. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia
Takwim, Bagus. 2003. Filsafat Timur Sebuah Pengantar ke Pemikiran-pemikiran Timur. Jogyakarta. Jalasutra
Thalhas, T.H. 2006. Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama. Jakarta. Galura Pase

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Endah Kreco, Kartini dari Keong Sawah …

Junanto Herdiawan | | 21 April 2014 | 07:31

Mempertanyakan Kelayakan Bus Transjakarta …

Frederika Tarigan | | 21 April 2014 | 10:22

Cara Menghadapi Lansia (Jompo) Pemarah …

Mohamad Sholeh | | 21 April 2014 | 00:56

Danau Linow Masih Mempesona …

Tri Lokon | | 21 April 2014 | 07:01

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 2 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 3 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 4 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 6 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: