Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Helmy Kusuma

Cinta 3 Sisi, sebuah novel roman http://www.nulisbuku.com/books/view/cinta-3-sisi-kertas-novel www.helmykusuma.com selengkapnya

Arti dari Sebuah Ungkapan: Hati-hati

OPINI | 28 February 2011 | 14:51 Dibaca: 1248   Komentar: 0   0

“Hati-hati di jalan ya!” “Hati-hati!”

Ungkapan ini mungkin sudah jutaan kali kita dengar, sudah ribuan kali kita ucapkan tapi sudahkah kita mengerti apa sebenarnya makna dari ungkapan ini? Apakah kita mengucapkannya berasal dari pengertian ataukah berasal dari pengetahuan?

Dilihat dari sudut pandang si pemberi ucapan, ungkapan ‘hati-hati’ ini dimaksudkan agar si penerima ucapan waspada setiap saat karena banyak kejadian buruk yang bisa menimpa si penerima ucapan. Bagaimana dengan kejadian baik? Tentu kita tidak akan mengatakan ‘hati-hati’, tentu lebih cocok apabila kita mengatakan ‘berbahagialah’. Dengan demikian aspek pertama dari ungkapan ini adalah rasa takut si pemberi ucapan akan kejadian buruk yang akan menimpa si penerima ucapan ATAU singkatnya rasa takut akan kejadian buruk.

Dilihat dari sudut pandang si penerima ucapan, ungkapan ‘hati-hati’ yang diterima dengan persetujuan, seperti ‘ya’, ‘terima kasih’, ‘tentu saja’ ( tentu saja persetujuan yang berdasarkan pengertian bukan pengetahuan! ), dimaksudkan bahwa si penerima ucapan percaya bahwa memang ia harus waspada karena memang setiap saat bisa terjadi kejadian buruk ATAU si penerima ucapan tidak percaya kejadian buruk akan menimpa tapi ia hanya memberikan terima kasih atas ucapan kita. Aspek kedua dari ungkapan ini adalah rasa percaya atau tidak percaya atas kejadian buruk yang akan menimpa.

Maka kombinasi dinamika interaksi yang terjadi sebenarnya menjadi sangat sederhana sekali:

1. rasa takut yang ditimpali dengan rasa percaya akan ketakutan itu.

2. rasa takut yang ditimpali dengan rasa tidak percaya akan ketakutan itu.

Nah gampang sekali dilihat interaksi nomor 1 akan menghasilkan pikiran tentang rasa takut itu pada dua pihak. Interaksi nomor 2 akan menghasilkan apa? Rasa takut pada si pemberi ucapan saja? Tidak, tetap rasa takut pada dua pihak. Coba ingat apabila diucapkan ‘jangan lari!’ apa yang terlintas? ‘Lari’ bukan?

Kita sadar terhadap rasa takut kita, tapi apakah kita akan menularkan juga rasa takut pada orang lain? Orang yang kita sayangi?

Yakinkah kita mengerti ungkapan yang kita ucapkan? Pilihlah ungkapan kita.

“Selamat berbahagia! Sampai jumpa lagi!”

Arti sebuah ungkapan: Anda tahu siapa saya?

I AM Shaumbra,

Helmy Kusuma

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 11 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 11 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 11 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 12 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: