Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Helmy Kusuma

Cinta 3 Sisi, sebuah novel roman http://www.nulisbuku.com/books/view/cinta-3-sisi-kertas-novel www.helmykusuma.com selengkapnya

Arti dari Sebuah Ungkapan: Hati-hati

OPINI | 28 February 2011 | 14:51 Dibaca: 1207   Komentar: 0   0

“Hati-hati di jalan ya!” “Hati-hati!”

Ungkapan ini mungkin sudah jutaan kali kita dengar, sudah ribuan kali kita ucapkan tapi sudahkah kita mengerti apa sebenarnya makna dari ungkapan ini? Apakah kita mengucapkannya berasal dari pengertian ataukah berasal dari pengetahuan?

Dilihat dari sudut pandang si pemberi ucapan, ungkapan ‘hati-hati’ ini dimaksudkan agar si penerima ucapan waspada setiap saat karena banyak kejadian buruk yang bisa menimpa si penerima ucapan. Bagaimana dengan kejadian baik? Tentu kita tidak akan mengatakan ‘hati-hati’, tentu lebih cocok apabila kita mengatakan ‘berbahagialah’. Dengan demikian aspek pertama dari ungkapan ini adalah rasa takut si pemberi ucapan akan kejadian buruk yang akan menimpa si penerima ucapan ATAU singkatnya rasa takut akan kejadian buruk.

Dilihat dari sudut pandang si penerima ucapan, ungkapan ‘hati-hati’ yang diterima dengan persetujuan, seperti ‘ya’, ‘terima kasih’, ‘tentu saja’ ( tentu saja persetujuan yang berdasarkan pengertian bukan pengetahuan! ), dimaksudkan bahwa si penerima ucapan percaya bahwa memang ia harus waspada karena memang setiap saat bisa terjadi kejadian buruk ATAU si penerima ucapan tidak percaya kejadian buruk akan menimpa tapi ia hanya memberikan terima kasih atas ucapan kita. Aspek kedua dari ungkapan ini adalah rasa percaya atau tidak percaya atas kejadian buruk yang akan menimpa.

Maka kombinasi dinamika interaksi yang terjadi sebenarnya menjadi sangat sederhana sekali:

1. rasa takut yang ditimpali dengan rasa percaya akan ketakutan itu.

2. rasa takut yang ditimpali dengan rasa tidak percaya akan ketakutan itu.

Nah gampang sekali dilihat interaksi nomor 1 akan menghasilkan pikiran tentang rasa takut itu pada dua pihak. Interaksi nomor 2 akan menghasilkan apa? Rasa takut pada si pemberi ucapan saja? Tidak, tetap rasa takut pada dua pihak. Coba ingat apabila diucapkan ‘jangan lari!’ apa yang terlintas? ‘Lari’ bukan?

Kita sadar terhadap rasa takut kita, tapi apakah kita akan menularkan juga rasa takut pada orang lain? Orang yang kita sayangi?

Yakinkah kita mengerti ungkapan yang kita ucapkan? Pilihlah ungkapan kita.

“Selamat berbahagia! Sampai jumpa lagi!”

Arti sebuah ungkapan: Anda tahu siapa saya?

I AM Shaumbra,

Helmy Kusuma

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bijaksana di saat Langka BBM …

Nanang Diyanto | | 28 August 2014 | 02:05

Balikpapan Menggeser Jogja, Benarkah Jogja …

Ratih Purnamasari | | 28 August 2014 | 07:18

Dari Pertemuan 4 Mata, SBY Menularkan Sikap …

Thamrin Dahlan | | 28 August 2014 | 07:58

Kayu Manis Bisa Buat Obat Parkinson? …

Lidia Putri | | 28 August 2014 | 01:03

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 3 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 4 jam lalu

Mahalnya Biaya Rapat Lembaga Negara! …

Yaslis Ilyas | 4 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 7 jam lalu

Jangan Hanya Jokowi Saja yang Diawasi, …

Rullysyah | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: