Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Agama Kong Hu Chu

OPINI | 18 February 2011 | 06:49 Dibaca: 994   Komentar: 3   0

Sekira tahun 1990-an, saya bersilaturahmi ke rumah seorang teman yang berprofesi sebagai Pengacara. Pembicaraan pun bermula soal agama.  Dia menyatakan beragama “Kong Hu Chu”.  Menurut saya, Kong Hu Chu, tidak diakui Pemerintah RI, hal ini terlihat dari uusan yang dilaksanakan Departemen Agama, yang menjadi agama resmi di Indonesia yakni: Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Budha.Karena Pengacara diapun menunjukkan  Undang-undang No. 1 Pnps 1965, di mana Agama Kong Hu Chu, dijelaskan merupakan agama yang diakui pemerintah RI, dan sampai kini (masa orde baru) belum dicabut.

Dia pun bertanya: “Apa syarat suatu Agama ?” sepengetahuan Saya ada 3. “Apa saja” katanya.

1) Adanya Kitab Suci.  Dia mengambil sebuah buku dan bilang : “Ini Kitab Suci Agama Kong Hu Chu, namanya SIZU (tertulis SUSI). 2) Adanya seorang Nabi atau Rasul  yang mengajarkan agama itu.  Lantas Diapun menunjuk sebuah Lukisan besar di belakangnya dan di bawah lukisan tertulis “Nabi Kong Hu Chu”. 3) Adanya Umat yang menjadi pengikutnya.  Dengan lantang dia menunjukkan jari ke dadanya “Saya dan masih banyak lagi, pengikut lainnya yang memeluk Agama Kong Hu Chu”.  Lantas sayapun mengatakan “Agamamu-agamamu dan Agamamu-agamaku”, sebagai bukti saling menghargai dan menghormati keyakinan masing-masing.

Di Orde Reformasi yang dimulai saat Presiden Abdurahman Wahid, semua Keppres terkait pelarangan terhadap orang Tionghoa dalam menjalankan agama dan kepercayaannya dinyatakan tidak berlaku.  Bahkan Tahun Baru Imlek, dinyatakan Libur Nasional. Bahkan 15 hari setelah Tahun Baru Imlek, dilaksanakan dengan meriah Perayaan Cap Go Me (pesta lampion, arakan Naga, Barongsai dan tatung) di beebagai Daerah terutama di Kota Singkawang Kalimantan Barat (Berita di Pontianak Post hari ini).

Sampai kini, antara saya dan teman saya masih bersahabat karib dan saling bersilaturahmi dan saling  menghargai.  Semoga di Negara yang berlandaskan pada Pancasila, penghormatan antar Pemeluk agama selalu terjaga, dan menjadi modal dasar dalam membangun Negara Republik Indonesia yang kita cintai.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rame-Rame Minum Air Sungai Cisadane …

Gapey Sandy | | 18 September 2014 | 23:42

Lebaynya Guguk-Guguk di Jepang …

Weedy Koshino | | 19 September 2014 | 07:39

Masukan Untuk Petugas Haji Indonesia …

Rumahkayu | | 19 September 2014 | 07:37

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 4 jam lalu

Kita Nikah Yuk Ternyata Plagiat? …

Samandayu | 5 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Timnas U23 Sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 8 jam lalu

Tetangga …

Pm Susbandono | 8 jam lalu

Elpiji 12 kg Naik & Solusi Hemat …

F Tanjung | 8 jam lalu

Mogok Sekolah …

Yuni Cahya | 8 jam lalu

[Tips Haji] Bawalah Sabar Sebanyak Bulu di …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: