Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Syailendra Persada

Saya adalah mahasiswa fakultas ilmu budaya 2007 dan tertarik dengan kepenulisan

Sofisme dalam Pemerintahan Indonesia

OPINI | 03 February 2011 | 20:06 Dibaca: 496   Komentar: 1   0

Presiden SBY dalam pidatonya di hadapan pejabat TNI dan Polri “mengeluhkan” gaji presiden yang tidak pernah naik selama tujuh tahun terakhir.  Terlepas dari silang pendapat apakah itu adalah bentuk curhatan dari SBY atau hanya sekedar basa-basi untuk mencairkan suasana rapat, nyatanya rencana kenaikan gaji pejabat negara termasuk presiden diusulkan oleh Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo.

Seperti dilansir oleh Republika (26/1) Menkeu menyatkan mengusulkan kenaikan gaji 8.000  pejabat negara di yahun 2011.  Dengan mekanisme kenaikan yang sedemikian rupa Menkeu berharap bahwa kenaikan tersebut juga akan berimbas kepada kinerja pejabat negara agar semakin optimal.  Yang artinya logika masyarakat saat ini dibalik dari ajaran yang ada bahwa seseorang dituntut menjalankan kewajibannya terlebih dahulu baru bisa menuntut haknya.  Tetapi dengan wacana tersebut jelas bahwa apa yang terjadi seorang pejabat diberi haknya dulu di depan baru menjalankan kewajibannya.

Hal ini diperparah dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Menkeu (Republika,26/1) yang mengatakan bahwa kenikan gaji 8.000 pejabat negara ini tidak akan membebani anggaran negara.  Di tengah kondisi kesejahteraan masyarakat Indonesia yang masih di bawah rata-rata pernyataan yang dilontarkan oleh Menkeu tersebut tidak lebih dari sebuah ironi.

SOFISME
Apa yang dilakukan oleh Menkeu dengan pernyataanya tersebut adalah sebuah retorika yang mendukung adanya kenaikan gaji untuk pejabat negara.  Dimana retorika tersebut dilontarkan untuk memberikan pembenaran terhadap sesuatu.

Hal ini lah yang dilakukan oleh para kaum sofis yang hidup di era filsafat pra-sokratik, mereka menjual kebenaran untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri.  Para penganut sofisme meyakini bahwa di dunia ini tidak ada kebenaran yang mutlak, semua hal benar menurut ukaran masing-masing individu (relativisme).  Ajaran ini lah yang kemudian mengilhami teori relativitas einsten.

Awal kemunculan kaum sofisme juga tidak terlepas dengan sistem demokrasi yang sedang menghagemoni masyarakat Yunani pada saat itu.  Berbeda dengan sistem pemerintahan monarki ataupun oligarki dimana rakyat tidak memiliki kebebasan berbicara.  Dalam sistem pemerintahan demokrasi rakyat diberi kebebasan untuk menyammpaikan argumen mereka sehingga lahirlah orang-orang yang memiliki kemampuan berbicara atau bersilat lidah (retorika).

Apa yang dilakukan oleh kaum sofis pada saat itu memanglah bukan sesuatu yang lazim dilakukan oleh para filsuf, yaitu mengajarkan filsafat dijalan-jalan.  Tetapi hal tersebut bukanlah alasan kenapa kaum sofis ditempatkan kedalam stereotip sebagai perusak tatanan masyarakat yang ada.

Alasan kenapa citra kaum sofis buruk selain karena mereka tidak meyakini adanya kebenaran yang mutlak seperti yang diyakini oleh masyarakat pada saat itu adalah karena mereka menjula kebenaran yang mereka yakini untuk memenuhi kebutuhan hidup.  Padahal Filsafat bagi masyarakat Yunani di zaman itu seperti agama yang harus dijaga kesuciaannya.

Fenomena bagaimana sebuah ajaran menjadi komoditas perdagangan juga lah yang menjadi salah satu faktor pemicu meletusnya revolusi industri di Prancis yaitu ketika gereja menjual surat pengampunan dosa.  Sehingga keberadaan kaum sofis tidak lebih dari sekumpulan filsuf yang menjual ketidak adaan (nihilisme).

SOFISME DI INDONESIA
Jika ditarik kedalam kehidupan sosial-politik corak ajaran kaum sofis juga terasa di Indonesia khususnya di kalangan para teknokrat.  Teknokrat yang pada dasarnya adalah intelektual seharusnya mampu berdiri pada posisi sebagai pelindung rakyat.

Tetapi apa yang terjadi di Indonesia dewasa saat ini berbicara sebaliknya, banyak dari para intelektual yang kemudian duduk di dalam lingkaran pemerintah (menjadi teknokrat) mencederai ilmu pengetahuan yang mereka miliki dengan menjual kebenaran untuk mendukung kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap rakyat.

Masyarakat Indonesia tidak bisa menampik prestasi yang ditorehkan oleh Sri Mulyani.  Mantan Menkeu tersebut adalah sosok intelektual yang cerdas.  Tetapi apa yang dilakukannya justru mengkhianati rakyat Indonesia dengan membenarkan apa yang dilakukan oleh Bank Century dengan dalih menghindari efek domino yang bisa terjadi jika bank tersebut tidak diselamatakan.

Meminjam istilah yang digunakan oleh Soe Hok Gie kecenderungan yang sering dilakukan teknokrat dengan menjual ilmu pengetahuan yang mereka miliki untuk mencederai rakyat adalah sebuah tindakan pelacuran intelektual.

Pada dasarnya para kaum sofis dan juga teknokrat bukanlah orang yang tidak berilmu mereka adalah pemikir hanya saja mereka menggunakan kepandaian bukan untuk mendapatkan sebuah kebenaran tetapi lebih kepada pembenaran.

Menurut Al-Attas ada tiga kelompok sofis yang pertama adalah mereka yang menyempitkan hakikat sesuatu.  Sebagai contoh kaum sekular yang menyempitkan hakikat agama hanya sebatas hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.  Berikutnya adalah mereka yang mengedepankan subyektifitas, artinya bagi mereka obyektivitas hanyalah sesuatu yang semu.  Yang terakhir adalah orang-orang yang keras kepala, tingkatan ketiga ini lah yang paling berbahaya.  Hal ini disebabkan mereka menampik realita yang ada di dalam masyarakat.  sehingga mereka bukannya mencari kebenaran tetapi cenderung mengaburkan kebenaran.

Padahal hakikat dari sebuah ilmu pengetahuan baru bisa dirasakan keberadaannya adalah ketika membawa nilai kebermanfaatan bagi masyarakat.  Dan ilmu pengetahuan sendiri lahir sebagai antitesis dari kebodohan (jahiliyah) sehingga sewajarnya peran para intelektual termasuk di dalamnya teknokrat adalah memberikan pencerdasan kepada masyarakat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Hasil SPP2013: Nasib Petani Tanaman Pangan …

Kadir Ruslan | | 24 July 2014 | 05:48

Muda Kaya dan Bahagia …

Radixx Nugraha | | 24 July 2014 | 03:25

Rumah “Unik” Majapahit …

Teguh Hariawan | | 24 July 2014 | 15:27

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 11 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 12 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 19 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: