Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Christianto Dm

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya.. (Pkh selengkapnya

Agama dan keselamatan (theophyloku, #3.2)

OPINI | 01 February 2011 | 12:26 Dibaca: 535   Komentar: 124   2

Perjalanan pencarianku memaknai isi gua dan keindahan sekitarnya, telah membawaku hingga ke tempat ini dan saat ini. Theophylo-ku, sejauh yang bisa ku pahami, membawa pemikiranku oleh pertanyaan perlukah aku menganut suatu Agama? Apakah Agama itu? Mengapa ia (harus) ada? Dan Untuk Apa aku ber-Agama? Pertanyaan terakhir membersit pertanyaan akan janji (=pengajaran) tentang Keselamatan yang seharusnya menjadi esensi pengajaran suatu Agama agar ia layak untuk dianut…
____________________________________________________________________________________

Dulu THEOPHYLO-KU#1 , aku berpikir adalah lebih baik mempercayai keberadaan-Nya daripada sebaliknya. Jika ternyata DIA tidak eksis, aku tidak rugi apa-apa. Tapi, jika DIA benar eksis? Meski demikian, terlalu banyak pertimbangan, fenomena, dan sebagainya yang berhubungan bagi kesimpulan bahwa DIA benar eksis. Lalu, mengapa Agama? Bukankah mempercayai DIA tidak harus menganut atau melalui suatu Agama tertentu? Karena DIA eksis, maka DIA akan tetap ada dengan atau tanpa Agama menyatakannya.

Sederhananya, Agama adalah pengajaran tentang nilai-nilai moralitas, yang kemudian melembaga oleh beberapa pertimbangan dan maksud tertentu. Agama memuat unsur-unsur agama, di mana unsur-unsur agama ini dapat dibedakan berdasarkan sumbernya, yaitu Agama-agama Filsafat, Agama-agama Suku dan Kebatinan, dan Agama-agama Pewahyuan. Dua kategori yang pertama, menekankan sifat kemanusiawian (egosentris), yaitu sebagai hasil pemikiran spiritual (Agama Filsafat) dan sebagai hasil pengalaman spiritual (Agama Suku dan Kebatinan). Sedangkan Agama Pewahyuan idealnya berpusat pada pemberi wahyu, yaitu Allah sendiri (Theosentris). Jadi, yang menjadi masalah buat Theophylo-ku bukanlah ‘siapa yang menciptakan’ Agama atau proses melembaganya, namun unsur-unsur yang menjadi esensi pengajarannya. Dan salah satu yang layak menjadi pusat perhatian ialah ajarannya tentang Keselamatan. Fokus inilah yang berbeda pada masing-masing Agama, bahkan antara Agama-agama Pewahyuan itu sendiri THEOPHYLO-KU#3.1. Dan, salah satu alasan utama mengapa seseorang menganut suatu Agama, ialah karena agama mengajarkan tentang jalan Keselamatan, yaitu suatu jalan yang terpikirkan sebagai satu kebutuhan ketika seseorang mempercayai bahwa kematian bukanlah akhir segalanya. Untuk ‘jaminan’ Keselamatan inilah saya menganut satu Agama, yaitu Agama yang mengajarkan nilai-nilai agama yang saya yakini – bukan sekedar warisan dari orang tua; seperti maksud THEOPHYLO-KU#2 – memberi jaminan terbaik dan teruji. Agama menjadi tuntunan yang objektif karena tidak bergantung pada apa yang dipahami atau dialami. Agama secara subjektif bagi penganutnya karena dialami dan dipahami dalam kehidupan priadinya sebagaimana Agama itu mengatakan agama yang diajarkannya.

_____________________

Agama memang bukan jaminan Keselamatan yang dimaksud, karena Agama tentunya tidak dapat menyelamatkan seseorang. Bagaimana mungkin Agama sebagai lembaga bentukan manusia mampu menyelamatkan dirinya? Memikirkan uraian sebelumnya di atas, pertanyaan ini sebenarnya lebih ditujukan kepada agama yang diajarkan Agama, yaitu pertanyaan ‘korektif’ terhadap esensi atau pengajaran Agama dan bukan kepada Agama semata. Pertanyaan yang seharusnya berkembang kepada pertanyaan-pertanyaan seperti apakah Keselamatan itu? Bagaimanakah Keselamatan itu menjadi mungkin untuk dimiliki seseorang? Dan, apakah yang mengajarkannya meyakini akan Keselamatannya sendiri? Apakah seseorang yang lelah dan begitu membutuhkan tempat beristirahat akan mengikuti seorang yang lain yang berkata mungkin dipersimpangan jalan di depan ada sebuah warung tempat kita bisa beristirahat sejenak atau mengikuti seseorang yang berkata sebaiknya kita berbelok di sini karena 50 meter di depan ada warung kopi ayah saya?

Tentunya, seperangkat keyakinan kita, atau struktur noetika itu sendiri, akan merespon setiap informasi atau realita yang diperhadapkan kepadanya. Sejauh mana interaksi itu membuahkan hasil, akan sangat bergantung kepada faktor-faktor tertentu; misalnya pengetahuan-pengetahuan dasar pun non-dasar, kepekaan intuitif, serangkaian pengalaman, dan sebagainya. Agama, memberikan sejumlah informasi bagi perangkat keyakinan seseorang tentang agama, yang penerimaan atasnya sangat bergantung pada faktor-faktor seperti yang disebutkan itu, yaitu faktor-faktor yang terlibat di dalam struktur noetika seseorang.

___________________

Jadi, bukan Agama, namun agama yang merupakan substansi yang sebenarnya bagi pengajaran tentang Keselamatan. Agama hanyalah alat yang olehnya seseorang bisa mengenal dan membeda-bedakan agama, bahwa setiap Agama memiliki ciri khas masing-masing, keunikan yang dipahami dari agama yang diajarkannya. Melalui Agama, seseorang diperkenalkan kepada atau mengenal jalan Keselamatan, yaitu jawaban yang dibutuhkan oleh setiap mereka yang meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Kehidupan kedua yang berhubungan dengan kehidupan pertama, adalah kehidupan yang pada semua Agama memiliki prinsip dasar yang sama, yaitu bergantung pada kehidupan pertama. Meski demikian, bagi masing-masing Agama, dalam detail tertentu, memiliki perbedaan yang khas (Theophylo-ku, #3.1). Mereka yang memerlukan Agama adalah mereka yang menyadari kebutuhannya akan Keselamatan, yaitu jalan yang bisa memberi jaminan akan kepastian Keselamatan itu. Tanpa pengajaran tentang Keselamatan, Agama tidak jauh berbeda dengan wacana etika moral non-agama. Tanpa kepastian yang dimaksud, maka semua Agama adalah sama, yaitu mengajarkan agama, dan bukan jalan Keselamatan. Jika demikian, untuk apa saya menganut salah satu Agama?
______________________________________________________________________________

Ah, gua itu masih menyimpan begitu banyak misteri bersamanya…


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 9 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 13 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 14 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 15 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: