Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Fera Nuraini

Lahir di Ponorogo. Doyan makan, pecinta kopi, hobi jalan-jalan dan ngobrol bareng. Lebih suka menjadi selengkapnya

Arti Sebuah Tahi Lalat

OPINI | 25 January 2011 | 08:48 Dibaca: 663   Komentar: 34   2

1295944720647067103

punyaku di hidung bukan di sebelah bibir. foto wordpress.com

Siang ini  saat sedang keluar untuk belanja tanpa di duga saya bertemu dengan teman waktu kecil dulu.

“Hehhhhh, Fera kan?” tanya dia

“Heyyy, iya gak salah, kok masih ingat?” ya ingatlah, siapa yang gak ingat sama kamu. Teman paling jangkung sekelas dulu.

Hehehehe,, jadi malu kalau di bilang jangkung. Memang di antara teman cewek waktu sekolah dulu saya yang paling tinggi. Dan ini berlanjut hingga waktu SMA. Banyak teman yang tidak PD waktu jalan sama saya. Katanya gak enak, kalau ngobrol harus mendongak dulu baru bisa melihat wajahku. Oalah nasip. Padahal kan banyak cewek yang ingin tinggi. Jujur saya waktu itu sering mengeluh karena ketinggian badan saya jauh diatas teman-teman sepantaran. Kalau sekarang saya justru sangat bersyukur dengan tinggi badan yang saya miliki. Ini anugrah bukan musibah (kata orang tuaku) saat aku cerita soal kenapa aku kok setinggi ini.

Dia perhatiin wajah saya lekat-lekat seperti ada yang aneh. Saya tanya dia “ada yang aneh ya?”

“Iya ada, perasaan dulu kamu gak punya tahi lalat di sini (sambil menyentuh hidungku) kok sekarang ada?”

“Aku juga gak tau, ini adanya waktu aku kelas 3 SMP”

“Oooo, etau gak kamu, biasanya sih kalau orang punya tahi lalat di hidung itu banyak yang sayang dan cinta loh” kata dia serius.

“Heleh,,, kata siapa? buktinya aku sampai sekarang gak ada yang sayang dan cinta selain orang tua” jawabku tak kalak serius.

“Yeiii, belum nek. Kamu aja yang gak merasa kali. Atau kamunya yang pilih-pilih menerima cinta dan sayang dari orang lain” jawab dia lagi

“Eggak taulah” aku jawab sekenanya.

“Kamu tau dari mana kalau tahi lalat itu punya arti” tanyaku lagi

“Kata orang-orang tua sih gitu” jawabnya meyakinkan.

Hmmmmm,,begitukah????????

Saya sendiri malah tidak pernah memikirkan tahi lalat akan membawa sebuah arti dalam kehidupan seseorang. Ada juga yang menyuruh untuk menghilangkannya saja dari pada lama-lama membesar dan merusak pemandangan. Halah :P

Saya syukuri apa yang DIA beri dalam kehidupan saya sampai detik ini. Banyak yang saya punya tapi orang lain tidak punya dan ingin memilikinya. Adakalanya juga mereka punya sedang saya tidak punya dan saya juga sangat ingin memilikinya. Manusia memang tidak pernah merasa puas. Tapi sebisa dan sesering mungkin melihat ke bawah agar punya “rem” untuk tidak terus dan terus punya keinginan yang justru membuat hati menjadi resah, gelisah, dan gundah.

Aduh,,jadi curhat gini :)

Salam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengintip Penambangan Batu Mulia Indocrase …

Syukri Muhammad Syu... | | 01 February 2015 | 11:47

Bedanya Menyisihkan dengan Menyisakan (Uang) …

Rokhmah Nurhayati S... | | 01 February 2015 | 09:26

Telisik Dirilah saat Anak Membangkang! …

Muhammad Armand | | 01 February 2015 | 14:14

Mengejar Jodoh Ala Anak Muda Saudi …

Mariam Umm | | 31 January 2015 | 19:56

Catatan Kecil untuk Kinan …

Swazta Priemahardik... | | 01 February 2015 | 02:38


TRENDING ARTICLES

Mitologi Jawa dalam Kepemimpinan Jokowi …

Musri Nauli | 17 jam lalu

Sebab Senyapnya KMP di Kegaduhan …

Pebriano Bagindo | 19 jam lalu

Titik Temu, Catatan Kritis untuk Mata Najwa …

Mahi Baswati | 23 jam lalu

Siapa Adu Domba Jokowi dan Megawati? …

Nusantara Link | 31 January 2015 15:16

Menyorot Sisi Humanitas Kisruh Sawito, Samad …

Nararya | 31 January 2015 14:19


Subscribe and Follow Kompasiana: