Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Aridha Prassetya

Pemerhati Masalah Ketidakbahagiaan

Kecele’

OPINI | 29 December 2010 | 04:39 Dibaca: 358   Komentar: 4   0

Kecele’ adalah sebuah istilah Jawa. Jika kita terlalu yakin akan sesuatu hal bakal terjadi, kita beri tahu semua orang bahwa sesuatu hal itu pasti akan terjadi, lalu kemudian hal yang kita yakini terjadi itu ternyata tidak terjadi, inilah yang disebut kecele. Hampir seluruh bangsa Indonesia, baru saja kecele’ secara nasional, sebab pertandingan bola sepak lag-1 itu berakhir dengan 0 – 3 (Indonesia-Malaysia).

Lalu apa setelah kejadian kecele’ Nasional itu? Macam-macam respon. Ada yang kecewa, ada yang menyalahkan laser, ada yang menyalahkan supporter lawan, ada yang menghujat “NH” agar “turun tahta”, ada yang menyalahkan orang penting pemilik Lapindo, ada yang mendadak sok matang dan sok dewasa menasehati pemain dan sekaligus pendukung, agar menjadikan kekalahan sebagai pelajaran.

Hingar-bingar, sorak sorai, riuh rendah, pesta pora, hiruk pikuk, gegap gempita, euporia kemenangan pada laga-laga sebelumnya membawa seluruh bangsa menjadi terbius dan bahkan mabuk. Dari rakyat biasa hingga rakyat yang tidak biasa. Mereka merah_kan stadion Bung Karno itu, dengan begitu girang dan begitu antusiasnya. Semuanya, tidak terkecuali sang presiden dan nyonya, seolah lupa dan terlupa bahwa ada persoalan yang jauh lebih penting dari pada penyaksian sebuah permainan. Jauh lebih menarik untuk diperhatikan dari pada penyaksian sebuah permainan yang kemudian dinamai sebagai ‘pertandingan skala Asia’.

Terlepas dari semua gemuruh yang terjadi di arena permainan itu, dibanding permainan bola sepaknya, aku lebih tertarik untuk mengamati mimik wajah pimpinan tertinggi negeriku, yang duduk di barisan paling depan. VVIP nama jenis tiketnya (mungkin). Bersama sang nyonya kusaksikan ketegangan, kebahagiaan, kekhawatiran, kesenangan, kecemasan, bergantian terbias pada mimiknya, sepanjang menit-menit berlangsungnya permainan.

Dan…..nyaris persis dengan penonton lainnya. Kalaupun ada beda, ya beda-beda tipislah. Mereka bertepuk tangan, berjingkrak tertawa riang, bersorak sorai membaur bersama seluruh rakyatnya yang menggemari permainan yang sama. Mereka ikut berteriak karena dibahagiakan oleh GOL GOL GOL, yang diciptakan oleh sang selebritas baru, Gonzales dan Irfan.

Dalam pengamatan terhadap mimik wajah pimpinan tertinggi negeriku ketika duduk di jajaran VVIP menonton sebuah pertandingan bola sepak, kala itu, hatiku bertanya-tanya:“apakah Nasib korban Wasior, Mentawai, Merapi, naiknya harga cabe dan tomat yang membuat pusing kepala para ibu-ibu kelas menengah bawah, dan bahkan menguapnya material vulkanik Bromo tidak lagi menarik untuk difokusi?”

Sangitnya material vulkanik memang tidak tercium hingga ke gelanggang. Sehingga kemudian, tak apalah jika lebih suka memilih memimpin dan meneladani seluruh rakyat, menonton tanding bola sepak di stadion. Tak perlu prihatin ikut larut dalam kegelisahan korban letusan Bromo, atau pun korban letusan Merapi-Mentawai yang masih terlunta di pengungsian.

Entahlah…, barangkali benar, bahwa memang bangsa ini lagi perlu hiburan secara simultan. Mungkin karena sudah terlalu capek. Mungkin juga sudah terlalu bingung dengan ragam persoalan yang harus dipecahkan. Bencana alam dan bahkan bencana sistem peradilan/hukum pun, tidak lagi menarik bagi media untuk dibicarakan.

BOLA dan hanya bola, yang boleh menjadi topik pembicaraan di televisi dan koran-koran. Seolah, tidak boleh ada yang lain yang patut menjadi topik utama. Walaupun toh itu sebuah bencana letusan gunung Bromo.

Kegilaan dan euporia kemenangan itu tetap saja terjadi dari hari ke hari. Saya menyebutnya sebagai “kegilaan”. Apa namanya kalau bukan kegilaan, jika untuk memperoleh secarik tiket menonton sebuah permainan saja, sampai ada yang rela menukarnya dengan kesehatan, kepanasan, keterdesakan, kesakitan dan bahkan kematian sekalipun.

Gelanggang (harus) dipindah ke Bukit Jalil. Pemindahan gelanggang berpengaruh signifikan kepada tingkat kePD_an para supporter. Seiring dengan itu, makin bertambah pula jumlah tayang dan edar kalimat-kalimat kesombongan “kita pasti menang”.

Selama tanding berlangsung, telinga saya terganggu oleh para komentator yang berisik. Mereka adalah para selebritas yang baru saja dinobatkan oleh media menjadi “pakar bola sepak”. Komentar-komentarnya sama berisiknya dengan teriakan dan laser supporter, sepanjang babak tanding berlangsung. Bahkan hingga beberapa hari setelah tragedi Bukit Jalil pun, para pakar yang sebelumnya kita tak pernah tahu siapa dia pun, masih saja bicara.

Saya, sederhana saja. Singkat kata “kita kalah”. Kalah ya kalah. Tidak usah dikatakan mundur selangkah, untuk maju seribu langkah. Tidak usah dikatakan itu sebagai efek laser. Semua itu hanya dimaksudkan untuk sebuah penghiburan diri. Meskipun diolah sehalus apa kata-katanya hingga menjadi sebuah kalimat yang sifatnya menghibur, menenangkan, memotivasi, kita tetap saja kalah di Bukit Jalil. Tak ada yang mampu mengubah skor menjadi 3 – 0 (Indonesia Malaysia).

Kalah itu karena terlalu sombong. Kesombongan yang dinyatakan secara nasional. Lupa terhadap adanya kuasa gusti Allah. Terlalu PD mengumbar kata di layar kaca dan media, ‘kita pasti menang’ dan ‘kita harus menang’. Tumpah ruah hanya di satu titik, mengelu-elukan pengejaran sebuah piala/gelar kejuaraan, tetapi melupakan kegelisahan dan kecemasan mereka yang sedang tertimpa bencana abu dan material vulkanik. Sambil berteriak-teriak Indonesia pasti menang. Siapa yang paling berhak memenangkan dan mengalahkan? Tidak ada yang sulit bagi Gusti Allah. Orang Jawa bilang “diputar saja sak srit (sedikit saja)”, apa susahnya?Dan kita semua kecele. Kecele secara nasional. Ternyata kita tidak menang. Kita kalah di Bukit Jalil. Bagaimana lag_2 nanti? Semua tergantung pada tingkat kesombongan kita.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 9 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 16 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 12 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 12 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 12 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 12 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: