Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Bagus Pribandono

Pekerja harian lepas

BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FILSAFAT FRANCIS BACON (1561-1626)

REP | 28 December 2010 | 00:53 Dibaca: 2492   Komentar: 1   0

I. LATAR BELAKANG

Francis Bacon (1561–1626) adalah tokoh terkemuka dalam filsafat alam dan metodologi ilmiah dalam periode transisi antara Renaissance ke era awal modern. Sebagai seorang ahli hokum, anggota Parlemen dan Penasehat Ratu, Bacon menulis banyak pertanyaan dalam bidang hokum, kenegaraan dan agama sebagaimana dalam politik kontemporer, tetapi ia juga mempublikasikan teks-teks yang dispekulasi sebagai konsep-konsep kemasyarakatan yang mungkin terjadi, dan ia merenungkan pertanyaan-pertanyaan tentang etika (buku Essays) meskipun bidangnya adalah filsafat alam (The Advancement of Learning).

Setelah studinya di Trinity College, Cambridge and Gray’s Inn, London, Bacon tidak melanjutkan lagi ke pasca sarjana, melainkan memulai karir di bidang politik. Meskipun usahanya tidak dianugerahi keberhasilan selama pemerintahan Ratu Elizabeth, di bawah James I ia menanjak ke jenjang politik tertinggi, sebagai Lord Chancellor. Bacon termasyur secara internasional dan berpengaruh luas pada masa-masa akhirnya, saat ia mampu memfokuskan energinya pada bidang filsafat, dan bahkan setelah kematiannya, ketika ilmuwan Inggris Boyle (Invisible College) mengambil idenya tentang lembaga riset koperatif dalam rencana dan persiapan-persiapan mereka untuk memapankan Masyarakat Kerajaan.

Sampai saat ini Bacon sangat dikenal akan teorinya tentang filsafat alam empiris (The Advancement of Learning, Novum Organum Scientiarum) dan atas doktrinnya tentang idola-idola, yang dikemukakan di bagian awal dari tulisannya, sebagaimana gagasan tentang sebuah lembaga riset modern yang dijelaskan dalam Nova Atlantis.

II. BIOGRAFI FRANCIS BACON

Karier politiknya dimulai sesudah ia menjadi seorang pengacara. Pada usia dua puluh tiga tahun dia terpilih sebagai anggota Majelis Rendah. Tetapi, meskipun dia punya sanak famili dan kerabat tingkat atas, dan kecerdasannya yang menonjol, Ratu Elizabeth senantiasa menolak pengangkatannya pada kedudukan yang lebih penting dan menguntungkan. Salah satu alasan adalah karena keberaniannya menentang rancangan undang-undang pajak di parlemen yang dengan gigih didukung sang Ratu. Oleh karena gaya hidup Bacon yang boros, slebor, dan seenaknya, dia senantiasa dikepung oleh banyak hutang. Suatu kali dia pernah ditahan karena tidak membayar hutang.

Bacon lahir di London tahun 1561, putera seorang pegawai eselon tinggi semasa pemerintahan Ratu Elizabeth. Tatkala menginjak usia dua belas tahun dia belajar di Trinity College di Cambridge, tetapi baru tiga tahun dia keluar dan tidak melanjutkan ke pasca sarjana. Mulai umur enam belas tahn dia bekerja di staf Kedubes Inggris di Paris. Tetapi begitu umurnya masuk delapan belas sang ayah mendadak meninggal dengan hanya mewariskan sedikit uang. Karena itu dia mempelajari hukum dan pada umur dua puluh satu tahun dia sudah menjadi seorang pengacara.

Bacon menjadi sahabat dan penasihat Pangeran Essex, seorang bangsawan muda yang populer dan punya ambisi politik besar masa itu. Sebaliknya, Pangeran Essex merasa Bacon adalah teman yang jujur dan sekaligus bertindak sebagai pelindungnya. Suatu ketika Pangeran Essex punya ambisi yang keterlaluan, yaitu minta Bacon memimpin penyusunan rencana sebuah kudeta menggulingkan Ratu Elizabeth. Tetapi Bacon menasihatinya agar Pangeran Essex tetap setia kepada Ratu.

Nasehat Bacon tidak diterima Pangeran Essex. Dia nekad meneruskan niat percobaan kudetanya. Ternyata kudeta tersebut gagal dan Bacon memegang peranan aktif dalam proses penuntutan sang Pangeran atas tuduhan pengkhianatan. Pangeran Essex dipancung kepalanya, menggelinding bagai kelereng. Keseluruhan peristiwa itu menimbulkan kesan buruk pada publik terhadap diri Bacon.

Ratu Elizabeth tutup usia tahun 1603 dan Bacon menjadi penasihat raja pengganti (Raja James I). Raja James I tak selalu mengindahkan nasihat Bacon, meskipun dia menghormatinya. Dalam masa pemerintahan James I, karir Bacon di kalangan pemerintahan.maju pesat. Tahun 1607 dia menjadi konsultan umum bidang hukum dan tahun 1613 dia menjadi jaksa agung. Karirnya tidak selesai di tangga tersebut; tahun 1618 dia ditunjuk sebagai Ketua Majelis Tinggi, suatu kedudukan yang setingkat dengan hakim agung pada Mahkamah Agung di Amerika Serikat. Di tahun itu juga dia memperoleh gelar “baron” dan tahun 1621 dinobatkan lagi jadi “viscount”, satu gelar kebangsawanan di atas “baron” tetapi di bawah “earl.”

Tetapi, datanglah pukulan. Selaku hakim, Bacon pernah menerima “hadiah” dari tertuduh. Meskipun hal semacam ini agak umum terjadi saat itu, akan tetapi hal tersebut tetap merupakan perbuatan terlarang. Lawan-lawan politiknya di parlemen tidak menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut untuk mendepaknya dari kursi Hakim Agung. Bacon mengaku dan dijebloskan di penjara yang terletak di “Tower of London,” menara kota London. Bukan hanya itu, dia pun mesti membayar sejumlah denda yang besar jumlahnya; dan dilarang bekerja di kantor pemerintahan untuk selama-lamanya. Raja segera membebaskan Bacon dari penjara dan membebaskan pula beban dendanya. Tetapi, dengan kejadian tersebut tamatlah riwayat politik Bacon.

Komentar Bacon dalam pengakuannya berbeda. Dia mengatakan, “Saya adalah hakim terjujur di Inggris selama lima puluh tahun, dan saya tukang ngomel dan tukang kritik terpolos di Parlemen Inggris selama 20 tahun.” Karier politik yang menuntut seseorang begitu aktif dan kreatif menyebabkan Bacon cuma punya sedikit waktu tersisa buat pekerjaan-pekerjaan lain. Kendati demikian, kemasyhuran Bacon begitu tahan lama. Namanya ditempatkan dalam daftar orang-orang tekenal, adalah karena pertimbangan tulisan-tulisan filosofisnya ketimbang keaktifan politiknya.

III. POKOK-POKOK PIKIRAN FILSAFAT FRANCIS BACON

Karya pertamanya adalah buku yang berjudul Essays, muncul tahun 1597 dan sedikit demi sedikit diterbitkan lebih luas. Essays ini ditulis dengan padat dan gaya luar biasa bagus, mengandung kekayaan mendalam, bukan saja dalam masalah politik melainkan juga menyangkut hal ihwal pribadi. Beberapa contoh yang khas misalnya pandangannya tentang manusia usia muda dan usia lanjut.

Baginya, orang muda lebih cocok mencipta ketimbang mengambil keputusan, lebih cocok bertindak daripada memberi pertimbangan, lebih cocok untuk menggarap proyek baru daripada berbisnis yang sudah mapan … Orang berumur terlalu sering menolak, berunding terlalu lama, dan berbuat terlalu sedikit … Tentu bagus jika bisa menggabungkan kedua pekerjaan itu, karena nilai yang terkandung pada masing-masing usia bisa melempangkan kekurangan yang melekat pada tubuh keduanya …

Selain tentang orang muda dan orang lanjut usia, Essays juga mengulas tentang mereka yang punya istri dan anak-anak yang punya risiko tidak mengenakkan di masa depan, serta tentang perkawinan dan hidup membujang. (Bacon sendiri kawin, tetapi tidak memiliki anak).

Tulisan Bacon terpenting adalah yang menyangkut falsafah ilmu pengetahuan. Dia merencanakan suatu kerja besar Instauratio Magna atau Great Renewal dalam enam bagian. Bagian pertama dimaksud untuk meninjau kembali keadaan ilmu pengetahuan kita. Bagian kedua menjabarkan sistem baru penelaahan ilmu. Bagian ketiga berisikan kumpulan data empiris. Bagian keempat berisi ilustrasi sistem baru ilmiahnya dalam praktek. Bagian kelima menyuguhkan kesimpulan sementara. Dan bagian keenam suatu sintesa ilmu pengetahuan yang diperoleh dari metode barunya. Tidaklah mengherankan, skema raksasa tersebut menjadi suatu pekerjaan paling ambisius yang sejak jaman Aristoteles–tak pernah terselesaikan. Tetapi, buku The Advancement of Learning (1605) dan Novum Organum (1620) dapat dianggap sebagai penyelesaian kedua bagian dari kerja raksasanya.

Novum Organum atau New Instrument adalah buku Bacon yang terpenting. Buku ini pada dasarnya merupakan pernyataan pengukuhan untuk penerimaan metode empiris tentang penyelidikan. Praktek ilmiah yang saat itu bertumpu sepenuhnya pada logika deduktif Aristoteles dipandang tidak ada gunanya, merosot, dan absurd. Karena itu diperlukan metode baru penelaahan, yaitu suatu metode induktif. Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu titik tempat bertolak dan mengambil kesimpulan darinya; tetapi ilmu pengetahuan adalah sesuatu tempat sampai ke tujuan.

Untuk memahami dunia ini, pertama orang mesti “mengamati”nya. Pertama, kumpulkan fakta-fakta. Kemudian, ambil kesimpulan dari fakta-fakta itu dengan cara argumentasi induktif yang logis. Meskipun para ilmuwan tidak mengikuti metode induktif Bacon dalam semua segi, tetapi ide umumnya yang diutarakannya dalam penelitian dan percobaan penting yang ruwet menjadi daya dorong dari metode yang digunakan oleh para ilmuwan sejak saat itu.

Salah satu gagasan yang termasyur dari Francis Bacon dalam Novum Organum adalah konsep Idola. Konsep ini dikemudian hari dianggap sebagai cikal bakal konsep “ideologi” dalam ilmu-ilmu humaniora. Yang dimaksud dengan “idola” adalah rintangan-rintangan bagi kemajuan manusia sebagaimana tampak dalam kemandegan perkembangan masyarakat dan perilaku bodoh para individunya. Idola adalah unsur-unsur tradisi yang dipuja-puja seperti berhala. Idola ini merasuki pemikiran manusia sehingga menghambat manusia berpikir kritis dan maju karena terkekang pada idola/ mitos. Manusia tidak bisa berpikir tentang perubahan.

Menurut Bacon terdapat empat macam idola. Pertama adalah Idols of the Tribe (=Bangsa), adalah semacam prasangka-prasangka yang dihasilkan oleh pesona atas keajekan-keajekan tatanan alamiah, sehingga orang tak sanggup memandang alam secara objektif. Perkecualian-perkecualian dianggap ajaib, mukjizat atau disingkirkan, tidak dipelajari. Idola macam ini menawan pikiran banyak orang banyak (tribus), menjadi semacam prasangka kolektif. Kedua: Prasangka Individual atau Idols of the Cave. Yang dimaksudkan di sini adalah pengalaman-pengalaman dan minat-minat pribadi kita sendiri mengarahkan cara kita melihat dunia, sehingga dunia objektif dikaburkan. Ketiga: Idola Fora (Forum=Pasar) atau Idols of the Marketplace adalah idola yang paling berbahaya. Yang diacu di sini adalah pendapat atau kata-kata orang yang diterima begitu saja sehingga mengarahkan keyakinan-keyakinan dan penilaian-penilaian kita yang tak teruji. Keempat: Idola Theatra (=panggung) atau idols of the theatre. Dengan konsep ini, Bacon mmeperlihatkan sistem-sistem filsafat tradisional adalah kenyataan subjektif para filsufnya. Sistem-sistem ini dipentaskan, lalu tamat, seperti sebuah teater.

Relevansinya bahwa dari Idola ini, kita menyaksikan bagaimana Bacon mau membersihkan pengetahuan kita dari macam-macam prasangka yang menghambat kemajuan. Usaha semacam ini jelas sejalan dengan cita-cita Renaisance, yakni: tak lain dari objektivisme, yaitu pandangan bahwa pengetahuan tentang objek di luar diri pengamat itu dapat dicapai semaksimal mungkin. Idola bagaikan debu yang mengotori mata untuk melihat objek pada dirinya, maka harus dibersihkan. Organon baru itu dia anggap ampuh untuk membersihkan peralatan observasi kita.

Buku terakhir Bacon adalah The New Atlantis, sebuah penjelasan tentang negeri utopis terletak di sebuah pulau khayalan di Pasifik. Meskipun pokok cerita diilhami oleh Utopia Sir Thomas Moore, keseluruhan pokok masalah yang terdapat dalam buku Bacon sepenuhnya berbeda. Dalam buku Bacon, kemakmuran dan keadilan dalam negara idealnya tergantung pada dan hasil langsung dari hasil pemusatan penyelidikan ilmiah. Dengan tersirat, tentu saja, Bacon memberitahu. pada pembacanya bahwa penggunaan intelegensia dalam penyelidikan ilmiah dapat membuat Eropa makmur dan bahagia seperti halnya penduduk yang hidup di pulau khayalan itu.

Orang selayaknya boleh bilang bahwa Francis Bacon merupakan filsuf modern pertama. Pandangan keseluruhannya adalah sekuler dan bukannya religius (kendati dia percaya kepada Tuhan dengan keyakinan teguh). Dia adalah seorang rasionalis dan bukan orang yang percaya kepada tahyul; seorang empiris dan bukannya seorang dogmatis yang logikanya mencla-mencle. Di bidang politik dia adalah seorang realis dan bukan seorang teoritikus. Dengan pengetahuannya yang mendalam dalam pengetahuan klasik serta keahlian sastranya yang mantap, dia menaruh simpati terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Meskipun dia seorang Inggris yang setia, Bacon punya pandangan berjangka jauh melampaui batas negerinya.

Dia membedakan 3 jenis ambisi: Pertama, mereka yang berselera meluaskan kekuasaannya di negerinya sendiri, suatu selera yang vulgar dan tak bermutu. Kedua, ialah mereka yang bekerja meluaskan kekuasaan atas negerinya sendiri dan penguasaannya atas penduduk. Ini tentu lebih bermutu meskipun kurang baik. Tetapi, jika orang mencoba mendirikan dan meluaskan kekuasaan dan dominasi terhadap umat manusia di seluruh jagad, ambisi demikian ini tidak salah lagi dianggap lebih bijak dari kedua ambisi yang disebut terdahulu.

Biarpun Bacon seorang pengkhotbah ilmu pengetahuan, dia sendiri bukan seorang ilmuwan, ataupun setara dengan kemajuan-kemajuan yang diperbuat orang sejamannya. Bacon menganggap sepi samasekali Napier (yang saat itu baru saja menemukan logaritma) dan Kepler, bahkan teman sejawat Inggrisnya William Harvey. Bacon dengan tepat mengganggap bahwa “panas merupakan bentuk dari gerak,” suatu ide ilmiah yang penting. Tetapi, di bidang astronomi dia menolak pikiran-pikiran Copernicus. Haruslah diingat, Bacon tidak mencoba menyuguhkan hukum-hukum ilmiah secara komplit dan tepat. Dia sekadar hanya mencoba menyuguhkan hasil pengamatan apa-apa yang perlu dipelajari. Perkiraan-perkiraan ilmiahnya hanya bermaksud mendorong adanya diskusi lebih lanjut, dan bukannya suatu jawaban final.

IV. APLIKASI FILSAFAT FRANCIS BACON

Francis Bacon bukanlah orang pertama yang menemukan arti kegunaan penarikan kesimpulan secara induktif, dan juga bukan dia orang pertama yang memahami keuntungan-keuntungan yang mungkin diraih oleh masyarakat pengembangan ilmu pengetahuan. Tetapi, tak ada orang sebelum Bacon yang pernah menerbitkan dan menyebarkan gagasan seluas itu dan sesemangat itu. Lebih dari itu, sebagian karena Bacon adalah seorang penulis yang begitu bagus, dan sebagian karena kemashurannya selaku politikus terkemuka, sikap Bacon terhadap ilmu pengetahuan betul-betul punya makna penting yang besar. Tatkala “Royal Society of London” (kelompok elit orang pilihan Kerajaan Inggris) didirikan tahun 1662 untuk menggalakkan ilmu pengetahuan, para pendirinya menyebut Bacon sebagai sumber inspirasinya. Dan ketika Encyclopedie yang besar itu ditulis jaman “Pembaharuan Perancis,” para penyumbang tulisan utama seperti Diderot dan d’Alembert, juga menyampaikan pujiannya kepada Bacon yang memberikan inspirasi terhadap kerjanya.

Jika pada jaman ini buku Novum Organum dan The New Atlantis agak kurang dibaca orang, hal ini disebabkan karena pesan-pesan yang disampaikan oleh buku tersebut sudah begitu luas diterima orang. Bacon layak dibandingkan setara dengan filosof Perancis Rene Descartes, tokoh pendorong lain bagi masa depan ilmu pengetahuan mendatang. Bacon hidup lebih dulu segenerasi dari Descartes dan dia lebih gigih dari Descartes dalam hal mengumandangkan pentingnya penelitian dan percobaan-percobaan. Tetapi, arti penting orang Perancis ini dalam hal penemuan matematika membuat ia sedikit lebih tinggi dalam perbandingannya dengan Bacon.

Metoda ilmiah yang dipakai saat ini merupakan turunan lanjut dari metoda-metoda yang pernah direncanakan Bacon seperti :

ü A new division of the sciences, Pembagian ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan baru

ü A new method of scientific inquiry, metoda baru inkuiri ilmiah

ü A collection of scientific observations and facts, sebuah koleksi observasi-observasi dan fakta-rakta ilmiah

ü Examples of the new method, contoh-contoh atas metoda baru

ü Philosophical precursors to the new philosophy, and – perintis-perintis filsafat kearah filsafat baru dan

ü The new philosophy itself resulting from the application of the new method, filsafat baru yang dihasilkan dari aplikasi metoda baru

V. KRITIK DAN KOMENTAR ATAS TEORI FRANCIS BACON

The Limits of Science (keterbatasan ilmu pengetahuan) menurut Bacon adalah :

The first, that we not forget our felicity in knowledge as we forget our mortality: The second, that we make application of knowledge to give ourselves repose and contentment and not distaste or repining: The third, that we do not presume by the contemplations of nature to attain to the mysteries of God.

-Sir Francis Bacon, 1561-1626
Pioneer of the Scientific Method

(Pertama, kita tidak lupa akan kebahagiaan kita dalam pengetahuan sebagaimana kita melupakan kematian kita. Kedua, bahwa kita menerapkan pengetahuan untuk memberi ketenangan dan kepuasan diri kita sendiri dan tidak membenci atau mengeluh. Ketiga, bahwa kita tidak mengira bahwa lewat kontemplasi atas alam dapat mencapai misteri-misteri Allah.)

Fokus utama tulisan Bacon bersandar pada penjelasan pentingnya studi pengetahuan dalam kerangka aplikasi praktisnya atas masalah individu dalam masyarakat. Analisis pertamanya adalah tentang penampilan atas maksud atau penggunaan bahwa individu yang berbeda dapat memiliki pendekatan studi “ …. untuk menggembirakan, ornamen hiasan dan untuk kemampuan” – Dan bagaimana profesi-profesi tertentu dilayani lebih baik oleh individu melalui studi pengetahuan. Sebagaimana ditunjukkannya bahwa kebajikan studi menunjukkan sifat-sifatnya “Menghabiskan terlalu banyak waktu untuk belajar adalah suatu kelambanan”

“Pengetahuan adalah kekuasaan” (knowledge is power), demikianlah kata-kata Bacon yang terkenal. Reputasi Francis Bacon sebagai nenek moyang dari ilmu pengetahuan modern dikenal dan sangat dihormati. Pertaliannya dengan pengetahuan dan kekuasaan dalam The New Organon telah disalahartikan oleh banyak kritik pencerahan yang sangat dihormati, termasuk Adorno, Horkheimer, dan Foucault. Bacon berpendapat bahwa di awal abad 17, pengetahuan tentang alam hampir tidak ada karena kegunaannya kurang bernilai (undervalued). Argumennya terkait erat dengan etika menyeluruhnya, yang mempertanyakan kekuasaan yang mapan serta menguntungkan umat manusia.

Mengatasi meremehkan manusia ‘kapasitas mereka untuk mengembangkan dan melaksanakan filsafat alam pada pijakan yang baru dan dengan metode baru adalah komponen penting untuk hubungan. kekuasaan dan pengetahuan Bacon. Pengetahuan dan kekuasaan tidak merupakan suatu kesatuan dan sama bagi Bacon, tetapi mereka berhubungan; dalam arti bahwa kekuatan manusia diperlukan untuk meningkatkan penyimpanan pengetahuan manusia, dan tidak dalam arti bahwa pengetahuan alam mengarah langsung ke kuasa untuk mendominasi sifat atau manusia .

Bacon menekankan, manusia adalah hamba dari alam, bukan tuannya. Sebaliknya, Michel Foucault dan beberapa keturunan filosofisnya telah mengambil kata-kata Bacon sebagai penanda pembenaran bagi tren dominasi yang mereka lihat sebagai karakteristik pencerahan. Ilmu pengetahuan sebagai anak sulung Pencerahan, telah, menurut mereka, menjadi alat kontrol dan dominasi, diam-diam memenuhi Bacon linkage asli dari “pengetahuan manusia” dan “tenaga manusia”.

Bacon menyerang sterilitas logika deduktif murni yang menurutnya tidak akan pernah manghasilkan pengetahuan baru. Juga mengkritik metode yang terdahulu yang hanya mempergunakan kelompok yang tujuan rujukannya sudah terbatas dan mudah dicapai. Bacon mengklaim bahwa metode induksinya yang baru melampaui metode induksi ini, sebab metodenya menuju kepada generalisasi “semua” hal, tidak hanya kepada beberapa ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu golongan yang terbatas saja. Walaupun begitu, dalam pemakaian kata “semua”, Bacon menyadari sepenuhnya bahwa orang tidak dapat membuktikan kebenaran suatu induksi dalam pengertian yang umum. Kata “semua” selalu menyiratkan adanya kemungkinan bahwa mungkin akan dijumpai suatu perkecualian pada generalisasi didasarkan – dan memang harus begitu – atas sejumlah contoh yang terbatas saja. Baconlah yang berjasa karena menyadarkan para ilmuwan bahwa untuk menggugurkan kesahihan suatu induksi, hanya dibutuhkan satu contoh yang menyangkal; sedangkan tiap konfirmasi yang mendukung, hanya membantu menguatkan keyakinan itu. Oleh karena itu, di dalam Novum Organum ia mengemukakan bahwa contoh negatiflah yang lebih berpengaruh.

VI. KESIMPULAN

Peranan Bacon di dalam perkembangan ilmu dan filsafat ilmu umumnya digolongkan ke dalam empat kelompok :

  1. Sebagai ahli filsafat ilmu; di sini ia menganjurkan suatu metode baru untuk meneliti alam.
  2. Usahanya untuk mengklasifikasikan ilmu dan pengetahuan manusia secara umum.
  3. Kesadaran yang ditimbulkannya bahwa penerapan praktis dari “ilmu yang baru” akan memperbaiki kualitas kehidupan dan kontrol manusia atas alam.
  4. Bayangannya mengenai suatu masyarakat ilmiah yang terorganisir. Dalam hal ini ditekankan pentingnya pembentukan lembaga-lembaga dan perhimpunan-perhimpunan ilmiah.

Sebagai juru bicara metode induktif, yang menekankan eksperimen dan observasi ekstensif sebagai landasan pengembangan ilmu, Francis Bacon juga menjadi juru bicara untuk ilmu yang baru. J. Bernard Cohen menanamkan ide-ide Bacon: Herald of the New Science.

Jadi Francis Bacon, pada paruh kedua abad XVI sudah mengakui prinsip bahwa law of nature or theories are not verifiable but are falsifiable; prinsip yang pada zaman kita ini diuraikan secara rinci, antara lain oleh Karl Popper. Bacon berkeyakinan bahwa metode induksi berdasarkan eksperimen yang diusulkannya itu akan merupakan suatu alat atau instrument yang baru untuk sains, menggantikan logika deduktik Aristoteles yang merupakan alat lama. Mungkin ia sudah membayangkan bahwa sains akan berkembang dengan menghimpun data factual dalam jumlah besar, yang terkumpul melalui eksperimen dan observasi. Tentu saja itu belum membentuk prinsip induksi ilmiah yang berguna. Untuk itu ia menganjurkan supaya dalam kegiatan ini ilmuwan bersikap selektif.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Rini Nainggolan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: