Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Hendra Sugiantoro

MENGALIR BUKAN AIR: Percikan Spirit Hidup

Aristoteles dalam Sepenggal Karyanya

OPINI | 24 November 2010 | 18:21 Dibaca: 1196   Komentar: 0   0

Oleh: HENDRA SUGIANTORO

PADA masa lalu, hiduplah seorang filsuf yang namanya tak lenyap sampai kini. Filsuf ini lahir pada tahun 384 SM di Stagira, Makedonia. Perjalanan hidupnya memiliki kisah untuk bisa belajar kepada Plato di Athena, Yunani, sejak sekitar usia 17 tahun. Di Akademi Plato, ia mendalami pelbagai hal. Tercatat, ia menempuh studi di sekolah milik Plato itu selama kurang lebih 20 tahun. Pada tahun 322 SM, ia meninggal dunia. Siapakah ia?

Michael H. Hart memasukkan namanya dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah. Ia adalah Aristoteles yang seperti gurunya sempat mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama Lyceum sekitar tahun 355 SM. Dari begitu banyak karya tulisnya, ada dua karya Aristoteles yang menarik dicermati: buku Etika Nikomakheia dan Politika.

Bryan Magee dalam buku The Story of Philosophy memaparkan garis besar dua buku Aristoteles itu. The Story of Philosophy diterbitkan Dorling Kindersley Limited, London, pada 2001. Diterjemahkan oleh Marcus Widodo&Hardono Hadi, buku ini diterbitkan Penerbit Kanisius, Yogyakarta, pada 2008, dalam edisi bahasa Indonesia.

Berikut pemaparannya:

“Lewat tulisannya, Aristoteles juga membahas etika. Karya utamanya adalah buku Etika Nikomakheia…………….Ia mulai dengan proposisi bahwa setiap orang menginginkan kehidupannya bahagia dalam arti sepenuh-penuhnya. Menurutnya, kehidupan yang bahagia itu dicapai jika manusia bisa menjalankan dan mengembangkan segala kapasitas dirinya secara maksimal dan sesuai dengan kehidupan dalam sebuah masyarakat. Mengumbar keinginan pribadi dengan cara semaunya sendiri atau dengan memaksa kehendak sendiri akan membawa kita ke dalam konflik abadi dengan orang-orang lain. Itu buruk. Namun, bila keinginan dan kehendak tidak disalurkan, itu juga sama buruknya. Maka, Aristoteles mengajukan doktrinnya yang terkenal, yang disebut “jalan tengah emas”(the golden mean), yakni titik tengah di antara dua ekstrem yang masing-masing sama buruknya. Misalnya, kemurahan hati adalah jalan tengah antara boros dan kikir, keberanian adalah jalan tengah antara kenekatan dan ketakutan, menghargai diri sendiri adalah jalan tengah antara sombong dan rendah diri, rendah hati adalah jalan tengah antara pemalu dan tebal muka. Yang menjadi tujuan adalah menjadi pribadi yang seimbang. Dan, menurutnya, inilah jalan untuk meraih kebahagiaan……………………………..Etika Nikomakheia karya Aristoteles mengantar langsung kepada karyanya yang lain, Politika. Sebenarnya kedua buku ini memang dimaksudkan sebagai bagian pertama dan kedua dari risalah yang sama, sebab, menurut Aristoteles, tujuan pemerintahan adalah memungkinkan para warganya memperoleh hidup yang penuh dan bahagia. Hanya dengan menjadi anggota masyarakatlah, seorang individu dapat memperolehnya. Kebahagiaan dan kepenuhan diri tidak mungkin diperoleh dalam keterkucilan pribadi. Inilah inti pernyataannya yang banyak dikutip: “Dari kodratnya, manusia adalah makhluk politik”. Menurutnya, ada pelbagai dimensi sosial dan politik yang tak dapat dilepaskan dari kehidupan pribadi yang bahagia. Salah satu aspek yang paling berpengaruh dari filsafat politiknya adalah pandangan bahwa negara harus memampukan. Fungsi negara adalah memungkinkan perkembangan dan kebahagiaan individu.”



Begitulah pemikiran Aristoteles dalam dua karyanya yang diberi judul Etika Nikomakheia dan Politika. Apa yang dipaparkan  Bryan Magee lewat buku The Story of Philosophy sedikit banyak telah memberikan gambaran pemikiran Aristoteles, meskipun untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tetap harus membaca buku Aristoteles secara langsung. Pemikiran Aristoteles tentu juga memerlukan koreksi.

Selain dua karya di atas, ada banyak lagi karya tulis Aristoteles lainnya. Michael H. Hart dalam buku 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah menuturkan, “Aristoteles menulis soal etika dan metafisika, soal psikologi dan ekonomi, soal teologi dan politik, serta soal retorika dan estetika. Dia menulis tentang pendidikan, syair, adat-istiadat bangsa-bangsa kurang beradab, dan konstitusi Athena. Salah satu proyek risetnya adalah pengumpulan konstitusi sejumlah besar negara, yang kemudian diujinya dengan studi perbandingan.”

Michael H. Hart menuliskan, “Tercatat 47 karyanya berhasil diselamatkan, dan daftar tempo dulu mengenai karyanya mencantumkan tidak kurang dari 170 judul. Tapi, bukan sekadar jumlahnya saja, melainkan juga luasnya bidang pengetahuan yang digelutinya yang amat mengagumkan. Karya-karya tulis ilmiahnya nyaris seperti sebuah ensiklopedia pengetahuan ilmiah di zamannya. Aristoteles menulis soal astronomi, ilmu hewan, embriologi, ilmu bumi, ilmu batuan, fisika, anatomi, fisiologi, dan hampir semua bidang pengetahuan yang dikenal orang Yunani Kuno. Sebagian karya-karya ilmiahnya merupakan kompilasi pengetahuan yang sebelumnya diperoleh ilmuwan lain, sebagian merupakan hasil temuan para asisten yang dipekerjakannya, dan sebagian lagi merupakan hasil dari sekian banyak pengamatan yang dilakukannya.”

Begitulah Aristoteles. Yang jelas, dunia Arab berjasa dalam menyelamatkan karya-karyanya ketika dunia Eropa justru tak merawatnya. Banyak ilmuwan dan intelektual muslim zaman silam mempelajari, mengkaji, dan menelaah ataupun memberikan komentar dan kritik terhadap karya-karya Aristoteles. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO

Catatan: Buku Michael Hart yang digunakan untuk referensi di atas menggunakan buku 100 A Ranking of The Most Influential Persons in History (Revised and Update), terbitan Citadel Press, Kensington Publishing Corp, tahun 1992. Edisi terjemahan diterbitkan Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika), Jakarta, cetakan I 2009. Dengan judul 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah.

Michael Hart dalam mendaftar 100 orang yang paling berpengaruh di dunia terus melakukan revisi-revisi. Hal ini disebabkan perkembangan zaman dan akan tetap ada orang-orang berpengaruh yang muncul kemudian. Nabi Muhammad SAW tetap berada di urutan pertama, tanpa tergeser.



Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

Dahlan Iskan, Sosok Tepat Menteri Pertanian …

Felix | | 21 August 2014 | 09:47

ISIS Bunuh Wartawan Amerika dan Ancam Obama …

Ansara | | 21 August 2014 | 10:03

I See All Evil, I Hear All Evil, I Report …

Agustulastyo | | 21 August 2014 | 12:32

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Sengketa di MK …

Jusman Dalle | 3 jam lalu

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 5 jam lalu

Jangan Sembarangan Pelihara Ayam di Amerika …

Usi Saba Kota | 5 jam lalu

Menanti Komitmen Prabowo …

Adrian Susanto | 6 jam lalu

Aset Penting “Dikuasai”, SDA …

Hendrik Riyanto | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: