Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Joko Agus Gunawan

simple, interest to scene, bachelor of medicine

“Mbah Maridjan”

OPINI | 27 October 2010 | 17:38 Dibaca: 409   Komentar: 2   0

Apa yang bisa kita temui jika melihat sosok fisik Mbah Maridjan, tubuh kecil, postur pendek, muka keriput, selalu berkopyah hitam dan tak pernah lepas dari kemeja batik. Sungguh tak bisa dibedakan dengan mbah-mbah lain yang mungkin ada dipasar-pasar tradisional atau yang sering kita temui dipinggiran sawah. Tapi itulah cara beliau mengekspresikan diri kepada dunia, penuh dengan kesederhanaan dan memegang teguh adat serta tradisi dimana beliau dilahirkan, yaitu budaya jawa

Beliau lahir dengan nama asli Mas penewu suraksohargo dipedukuhan kinahrejo desa umbulharjo, cangkringan, sleman pada tahun 1927. Atas titah keraton Jogja yang saat itu dipimpin Sultan Hamengkubuwono IX, beliau menjadi wakil juru kunci merapi tahun 1970. Dan sejak tahun 1982 beliau diangkat menjadi juru kunci utama gunung merapi dan menjadi rujukan utama dari warga lereng merapi ketika ada bahaya mengancam seperti letusan dan muntahan lahar gunung merapi.

Tapi hari ini Indonesia berduka, Mbah Maridjan telah wafat dalam keadaan besyujud kepada tuhan akibat awan panas merapi. Tragis memang, tapi itulah takdir tuhan. Terlepas dari itu semua, beliau telah mewariskan banyak pelajaran selama hidup sampai wafatnya hari ini.

Pertama, Mbah Maridjan mengajari kita kesederhanaan. Ternyata hidup sederhana tak mengurangi sedikitpun nilai kemuliaan dan kehormatan seorang manusia dimata manusia lainnya. Kesederhanaan adalah seni dalam mengekspresikan citra diri yang difiltrasi dari filosofi jawa “nerimo ing pandhum” (menerima apa adanya atas pemberian tuhan), sekaligus menjauhkan diri dari sifat “gumedhe” (sombong atau angkuh), tidak melebih-lebihkan dan tidak merasa kekurangan.

Mungkin itulah yang jarang mengilhami kita selama ini, betapa seringnya kita memiskinkan kemiskinan kita dan mendewakan kekayaan. Sebagian dari kita yang dilahirkan dari keluarga miskin acapkali minder dan merasa rendah diri. Sehingga berusaha menyamakan diri dengan budaya orang kaya dalam mencitrakan dirinya dari segi tampilan eksternal, dimana ujung-ujungnya semakin menjepit mereka dalam lingkaran kemunafikan hidup yang dirancangnya sendiri. Sedang sebagian dari kita yang dilahirkan dari keluarga kaya begitu giatnya berlomba-lomba mengejawantahkan dirinya dalam simbol-simbol kekayaan yang mereka punya. Sering kita lupa bahwa jika kita tergantung dari apa yang kita punya, ketika yang kita punya hilang atau pergi lalu siapakah diri kita? Kesederhanan dan penerimaan diri adalah bukti tingginya pekerti.

Kedua, beliau mengajarkan kita bagaimana seharusnya menjadi seorang pemimpin. Ketegasan dan keberanian dalam mengambil sikap yang mengacu pada prinsip kebenaran mutlak adalah hal yang sangat penting. Beliau tak kan pernah beranjak turun dari lereng merapi sebelum masyarakat yang disayanginya benar-benar dalam posisi aman. Dan beliau tidak akan meninggalkan masyarakatnya dalam keadaan terluka atau menderita. Bila bahaya datang mengancam, mbah maridjan selalu siap pada garis terdepan membentangkan dadanya untuk jadi tumbal keganasan “wedus gembel” (debu panas vulkanik) dari letusan merapi. Sulit memang untuk mengikuti jejaknya, tapi itulah kenyataan riilnya. Bagi beliau, Lebih baik hidup di puncak gunung menjadi pemimpin jiwa dari pada hidup dikota menjadi budak nafsu.

Yang terakhir, Mbah Maridjan mengajarkan kita bagaimana mempertahankan sebuah keyakinan. Mungkin banyak di antara kita yang menganggap aksi beliau bertahan dilereng merapi dan tidak mau turun sebagai tindakan konyol atau bunuh diri, tapi menurutku tidak. Setiap keyakinan selalu ada konsekuensi resiko dan akibatnya. Kehidupan itu resiko, kematian juga resiko tapi dibalik itu semua ada tuhan sang penentu takdir. Orang yang tidak pernah berani mengambil suatu resiko sebenarnya hidup dalam resiko terbesar, yaitu kehidupannya tetap dan tak kan pernah maju. Kalau kita cermati, 40 tahun sudah mbah maridjan bertahan dengan keyakinannya di lereng merapi tapi baru hari ini beliau tidak selamat. Jadi sesungguhnya keberanian dalam mengambil resiko hidup yang besar, yang dilandasi keyakinan kuat adalah merupakan resiko terkecil untuk mati.

Selamat jalan mbah maridjan, selamat bahagia guru. Telah kau ajarkan kami bahwa “Mati dengan satu keyakinan lebih mulia dari pada hidup penuh keraguan”.

Batu kajang, 27 Oktober 2010

Joko Agus Gunawan

Tags: add new tag

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 1 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 2 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 4 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 10 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Topik 121 : Persalinan Pervaginam Pd Bekas …

Budiman Japar | 8 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Transjakarta: Busnya Karatan, Mental …

Gunawan Eswe | 8 jam lalu

Kematian Tanpa Permisi …

Anita Desi | 8 jam lalu

Mendaki Dengan Pacar? …

Alan Budiman | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: