Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Conktopik

aku hanya ingin belajar menjadi manusia yang manusiawi yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Menulis adalah harapan selengkapnya

Psikologi Islam dalam Perspektif

OPINI | 24 October 2010 | 18:24 Dibaca: 1840   Komentar: 1   0

Semerbak diskursus islamisasi sains menebar pesona dengan mencitrakan diri sebagai instrument revivalisme Islam. Dengan argumen historis menampilkan superioritas yang pernah diraih. Pesonanya pun seakan membangkitkan gairah para intelaktual (yang beragama) Islam untuk membangun kembali puing-puing reruntuhan. Tidak ketinggalan para muslim yang bergelut di bidang psikologi, juga turut meramaikan diskursus islamsasi ilmu pengetahuan dengan menggagas Psikologi Islam.

Namun seperti halnya gagasan islamisasi pengetahuan yan mengandung kontroversi, Psikologi Islam juga menebar aroma perdebatan antara yang pro dan kontra. Yang pro Psikologi Islam berpendapat bahwa dalam khasanah Islam pada dasarnya tidak sedikit yang membincangkan manusia sebagai objek material dari psikologi itu sendiri. Untuk itulah dengan gagasan Psikologi Islam mereka ingin menegaskan bahwa pandagan Islam lebih baik daripada konsepsi yang ada dalam hamparan Psikologi modern (barat)

Sedagkan yang menolak gagasan tentang Psikologi Islam berargumentasi hampir sma dengan penolakan terhadap islamisasi ilmu pengetahuan. Bahwa pada dasarnya konsepsi psikologi yang sudah ada tidak perlu diislamkan karena terlalu naïf jika teks keagamaan yang ada dalam Islam hanya dijadikan legitimasi pada konsepsi psikologi yang sudah ada akan berujung pada labelisasi.

Terlepas dai pro dan kontra munculnya psikologi Islam tersebut, penulis ingin mencoba menelaah ulang gagasan Psikologi Islam yang sampai saat ini pun diantara para pendukungnya sendiri masih memperdebatkan apakah menggunakan istilah Psikologi Islam, Psikologi Islami atau Psikologi Muslim. Walaupun sebenarnya cita-cita yang ingin dicapai sama, yakni menjadikan Psikologi selaras dengan nilai-nilai Islam. Dari perdebatan tersebut bisa dilihat secara sederhana tentang gagasan psikologi Islam kosong tanpa landasan epistemologi. Padahal dalam rentangan sejarah ilmu pengetahuan selalu ditopang oleh rancang bangun epistemologi.

Searah dengan gagasan islamisasi ilmu pengethaun, psikologi Islam tidak lebih dari reaksi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dianggap jauh dari nilai-nilai spiritualiatas alias sekuler. Sebagaimana catatan dalam lembar sejarah ilmu pengetahuan moden sejak runtuhnya dominasi gereja terhadap segala konsepsi pengetahuan uamat manusia (barat) yang digantikan oleh ilmu pengetahuan yang diyakini sebagai jalan untuk mencapai kebenaran. Sejak saat itulah agama hanya menjadi monument ritualitas semata. Dan agama harus menelan pil pahit kenyataan sejarah yang tidak lagi berpihak padanya.

Dengan ilmu pengetahuan yang mendominasi sebagai jalan untuk mencapai kebenaran dalam bebarapa dekade terakhir pada akhirnya harus mengalami goncangan hebat dari para penganutnya sendiri. Adalah Nitsche yang mengawali melakukan huru–hara dengan menolak adanya klaim-klaim kebenaran dogmatis. Munculnya ilmu pengetahuan yang awalnya dimaksudkan untuk menentang dogmatisme gereja harus terjerumus pada dogmatismenya sendiri. Ilmu pengetahuan menjelma menjadi Tuahan baru dalam ranah kognisi manusia. sehingga aturan-aturan yang lahir dari ilmu pengetahuan tanpa disadari harus diikiti oleh seluruh umat manusia. sehingga mengharuskan Nietzsche untuk berteriak “Tuhan Telah Mati” untuk memutus mata rantai dogma-dogma yang ada diatas muka bumi.

Reaksi perlawanan terhadap ilmu pengetahuan tersebut juga diiikuti oleh para illmuwan Islam dengan melihat bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang selama ini jauh dari nilai-nilai spiritualitas apalagi relegiusitas. Kosongnya nilai-nilai spiritualiats pada ilmupengetahuan menyebabkan hasil dari ilmu pengetahuan yang menyebabkan kerusakan di muka bumi akibat eksploitasi terhadap sumber daya alam dan manusia yang berlebihan bahkan keluar dari kewajaran. Sehingga dianggap relevan bila saat ini kita berbicara tentang integrasi antara ilmu pengetahuan dan agama (Islam). Sehingga tercipta harmoni antara ilmu pengetahuan dan agama.

Gagasan integrasi antara ilmu pengetahuan dan agama pada perkembanganya (yang terjadi) saat ini hanya melahirkan justifikasi-justifikasi terhadap hasil-hasil ilmu pengetahuan yang sudah ada. Misalnya dalam psikologi, konsepsi motifasi yang dimunculkan dengan bersuber pada al-Qur’an, walaupun tidak persis sama dengan yang ada dalam konsepsi motivasi dalam psikologi modern. Tapi gagasan tentang teori motivasi yang dimunculkan tidak bisa dilepaskan dari alur pemikiran psikologi barat. Teori motivasi yang ditampilkan tidak lebih justifikasi parsial, karena dalam gagasan tersebut tidak mampu menciptakan gagasan yang benar-benara baru.

Realitas tersebut terjadi karena dalam gagasannya tidak ditopang oleh persepsi metodogi yang kuat. Metodologi yang digunakan masih berupa metodologi tradisional dalam rentang ilmu pengetahuan. Yakni metodologi positifistik dalam ilmu pengetahuan modern yang dipaksakan selaras dengan metodologi bayani dalam ilmu keagamaan (Islam).

Dengan latar belakang yang bertujuan untuk memadukan dan menyelaraskan ilmupengetahuan dan agama (Islam) seperti dijelaskan sebelumnya. Lahirlah gagasan Psikologi Islam. Gaung psikologi isalam oleh bebarapa kalangan yang mendukungnya di konsepsikan dalam dua arti. Pertama, upaya filterisasi terhadap konsepsi psikologi modern. Filterisasi kemudian diartikulasikan sebagai “penyortiran” terhadap teori-teori psikologi yang bertentangan dengan Islam dan mengambil teori-teori psikologi yang sesuai dengan Islam. Filterisasi akan memunculakan kontroversi tersendiri. Sebab dalam praksis Islam sendiri memiliki beragam interpretasi yang tidak bisa secara serta merta diseragamkan. Islam sebagai sebuah agama bagi penganutnya adalah kebenaran yang tak terbantahkan.tapi tafsir yang diimplementasikan dalam bentuk perilaku keberagamaan tidak bisa disamaratakan sedemikian rupa. Cara keberagmaan satu orang mungkin tidak sama dengan perilaku keberagmaan orang lain. Dan kita tidak bisa menganggap perilaku keberagamaan satu orang yang paling benar.

Problem kedua dari filterisasi yaitu tentang mana teori-teori psikologi yang bertentangan dan yang tidak dengan Islam. Yang harus dipahami bahwa hasil pemikiran yang secara otomatis menjadi teks juga akan mengalami beragam tafsir. Sehingga melakukan filterisasi terhadap teori-teori psikologi yang selaras dengan islam akan menemui jalan buntu. Dalam menentukan yang mana teori-teori psikologi yang bisa dikategorikan bertentangan atau tidak dengan Islam. Karena beragam tafsir yang muncul memiliki dasar logika masing-masing entah yang dipertentangkan atau diselaraskan. Salah satu contoh yang sering dibicarakan dalam ruang diskurus psikologi islam adalah teori-teori psikoanalisanya Freud yang dianggap banyak bertentangan dengan Islam. Semisal dalam teorinya, Freud mengungkapkan bahwa perilaku keberagamaan sama seperti perilaku kanak-kanak, dimana Tuhan diposisikan sebagai Bapak. Layaknya anak jika memiliki persoalan dia akan mengeluh pada bapaknya. Begitu juga halnya orang beragama jika merasa dirinya lemah dan ketika menghadapi persoalan yang sulit dipecahkan sendiri maka Tuhan menjadi tumpuannya.

Preskripsi Freud tersebut seringkali ditafsiri secara parsial dan arbitrer. Yang dilihat hanya dari ungkapan Freud yang tak lain adalah hasil kesimpulan Freud dari hasil refleksinya dari perilaku keberagamaan orang-orang yang pernah diamatinya. Jika hasil kesimpulan Freud semata yang dilihat, yang terjadi hanyalah penghakiman yang berakhir pada pendakwaan bahwa teori Freud tersebut berbau ateisme, dan tentunya sangat berlawanan dengan Islam. Sedangkan apabila dilihat bagimana Freud berkesimpulan seperti itu sebenarnya bisa menyadarkan manusia beragama untuk merefleksikan ulang perilaku keberagamaanya. Bahwa dalam beragama, manusia tidak sekedar menjadikan Tuhan sebagai pelarian.

Dengan deskripsi diatas, maka bisa dikatakan bahwa filterisasi terhadap teori-teori Psikologi modern akan menemui kebuntuan yang tak terselesaikan. Filterisasi yang dimaksud hanya akan melahirkan kerancuan-kerancuan dalam rancang bangunnya. Karena mau tidak mau filterisasi ini pada prosesnya akan terbentur oleh multi tafsir terhadap kebenaran yang berimbas pada lemahnya kategorisasi; mana teori-teori psikologi yang selaras atau yang bertentangan dengan Islam.

Kedua, yang mengartikan psikologi Islam adalah ilmu tentang manusia yang kerangka konsepnya benar-benar dibangun dengan semangat Islam dan bersandarkan pada sumber-sumber formal keislaman, yaitu al-Qur’an dan sunnah nabi, yang dibangun dengan memenuhi syarat-syarat ilmiah. Pandangan ini mula-mula diderivasikan dalam bentuk perumusan kembali konsep tentang manusia menurut Islam, lalu membangun konsp-konsep lanjutan tentang manusia dengan tetap berpegangan pada konsep dasar tadi. Setelah itu kita mencoba melakukan riset-riset ilmiah dengan kosep-konsep tersebut serta mencoba mengahadirkan pendekatan-pendekatan psikologi islam terhadap upaya pengembangan sumber daya manusia dan penyelesaian problem manusia.

Pandangan diatas sebenarnya memiliki titik lemah yang hampir sama dengan pandangan sebelumnya. Menjadikan al-Qur’an maupun Sunnah Nabi sebgai sumber dalam menggali konsep-konsep psikologi Islam memuat ungkapan yang paradoksal. Hal ini tidak lepas dari sebuah keyakinan yang tidak bisa ditawar dengan menjadikan al-Qu’an dan Sunnah Nabi sebgai kebenaran mutlak. Sedangkan konsep-konsep psikologi yang dihasilkan mau tidak mau harus memasuki ruang ilmu pengetahuan yang kebenarannya relative. Dan yang harus benar-benar dipahami dalam ruang ilmu pengetahuan adalah tidak adanya sumber yang benar-benar menjadi otoritas untuk menjadi sumber yang paling utama dari sumber lainnya.

Menjadikan al-Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka pertama-tama yang harus dilakukan adalah menjadikan al-Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai sumber yang memiliki posisi sama dengan sumber-sumber lainnya. Hal ini seharusnya mejadikan al-Qu’an dan Sunnah Nabi sebgai salah satu sumber dalam Psikologi yang dengan otomatis tidak lagi berbicara psikologi Islam melainkan an sich Psikologi secara Umum. Jadi, konsep-konsep psikologi yang dihasilkan dengan sendirinya menjadi bagian dari konsepsi psikologi pada umumnya. Namun jika hanya bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah nabi semata, konsep-konsep yang dihasilkan pun miskin konsepsi. Karena akan menutup ruang bagi sumber-sumber yang lainnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Catatan dari Batam …

Farchan Noor Rachma... | | 24 July 2014 | 17:46

Rumah “Unik” Majapahit …

Teguh Hariawan | | 24 July 2014 | 15:27

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 11 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 12 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 20 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: