Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Wahidil Qohar

Hingga saat ini aku masih menyangsikan keberadaan ku didunia yang tidak pernah aku bayangkan atau selengkapnya

Mawar Hitam

OPINI | 21 October 2010 | 14:53 Dibaca: 920   Komentar: 0   0

Untuk mengungkapkan sebuah rasa yang mungkin sulit untuk diungkapkan oleh kata – kata maka dapat digunaakan setangkai bunga pengganti bunga kata yang tersumbat oleh kelu lidah dan keegoisan diri yang tak mau atau sombong untuk mengakuinya…Seperti setangkai mawar yang kerap sekali dijadikan penyambung lidah dan rasa, karena setangkai mawar identik dijadikan simbol tersebut yang disesuai warna dan kebutuhannya.

Mawar merah atau pink yang selalu identik dengan pengungkapan sebuah rasa kasih dan sayang. Yang tak dapat terjabarkan oleh untaian kata – kata.

Mawar putih yang selalu melambangkan kesucian, meski kini nilai – nilai kesucian tersebut telah terenggut dan mungkin terbeli oleh gemerlap dunia dan hingar – bingar moderenitas.

Mawar kuning yang dijadikan simbolisasi sebuah rasa persahabatan yang mungkin tak dapat tergantikan oleh materi.

Mawar hitam merupakan simbolisasi sebuah nurani yang terbungkam dan mungkin sisa hati yang masih hidup hingga kini dan mencoba mencari arti sebuah makna hidup dan kebenaran yang nyaris hilang oleh sombongnya dunia. Sebuah nurani yang terbungkam dan mencoba mendeskripsikan atas segala rasa melalui apa – apa yang dirasakan oleh panca inder dan makna hidup yang dijalaninya dalam sebuah pengalaman.

Mungkin kini mawar – mawar tersebut telah mati atau bahkan mungkin mawar – mawar telah menjelma dan menghasilkan spesies atas warna yang berbeda dengan warna aslinya dan akan terus beregenerasi dan menghasilkan anakan – anakan baru yang akan semakin memudar. Mawar – mawar tersebut telah berganti menjadi kelabu “abu – abu” karena polusi sebuah sistem, tatanan perkotaan dan urbanisasi, modernitas serta kebutuhan – kebutuhan akan hidup maupun pergeseran nilai budaya dan moralitas.

Mawar merah yang memadu kasih antara rasa cinta dan rasa sayang diantara ambisi serta nafsu. Mawar putih yang tetap mengusung nilai kesucian dan makna sebuah ketulusan pun kini telah pudar menjadi pamrih dengan balutan kata – kata manis “memberi dan menerima” atau dengan bahasa anak jaman sekarang take and give. Dimana kini semua yang telah dilakukan dan dijalani merupakan kompensasi dari sebuah timbal balik. Tak jauh berbeda apa yang dialami dengan tangkaian mawar kuning yanv tergantikan materi karena persahabatan kini selalu menghitung untung – rugi layaknya sebuah sistem ekonomi kelas teri, bersahabat, berteman dengan orang melihat dari status sosial dan apa yang dapat diperoleh.

Yang masih ada dan tetap konsisten deri semuanya kini hanya setangkai mawar hitam yang merupakan simbolisasi sebuah nurani yang terbungkam atas segana penat dan kebutuhan dunia. Karena setiap jiwa yang hidup dan terkurung dalam angkuhnya sebuah tubuh akan terus bergerak dan mencari nilai – nilai kesucian dan kebenaran meski terkadang sering terjadi resistensi dalam diri, perlawanan antara hati dan pikiran yang melahirkan suatu konsep ideologi serta tuntutan akan kebutuhan hidup yang harus dijalaninya. Karena jiwa pun sangat menyadari hidup merupakan konsekuensi atas semuaanya dan tak dapat dipungkiri.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 17 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 18 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 21 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 22 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 23 jam lalu


HIGHLIGHT

Nasi Jinggo: Kuliner Merakyat Asli Bali …

Herdian Armandhani | 15 jam lalu

Wanda Hamidah, Kau Mau ke Mana? …

Mbah Mupeang | 15 jam lalu

Rame-Rame Minum Air Sungai Cisadane …

Gapey Sandy | 16 jam lalu

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 17 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 17 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: