Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Wahidil Qohar

Hingga saat ini aku masih menyangsikan keberadaan ku didunia yang tidak pernah aku bayangkan atau selengkapnya

Mawar Hitam

OPINI | 21 October 2010 | 14:53 Dibaca: 927   Komentar: 0   0

Untuk mengungkapkan sebuah rasa yang mungkin sulit untuk diungkapkan oleh kata – kata maka dapat digunaakan setangkai bunga pengganti bunga kata yang tersumbat oleh kelu lidah dan keegoisan diri yang tak mau atau sombong untuk mengakuinya…Seperti setangkai mawar yang kerap sekali dijadikan penyambung lidah dan rasa, karena setangkai mawar identik dijadikan simbol tersebut yang disesuai warna dan kebutuhannya.

Mawar merah atau pink yang selalu identik dengan pengungkapan sebuah rasa kasih dan sayang. Yang tak dapat terjabarkan oleh untaian kata – kata.

Mawar putih yang selalu melambangkan kesucian, meski kini nilai – nilai kesucian tersebut telah terenggut dan mungkin terbeli oleh gemerlap dunia dan hingar – bingar moderenitas.

Mawar kuning yang dijadikan simbolisasi sebuah rasa persahabatan yang mungkin tak dapat tergantikan oleh materi.

Mawar hitam merupakan simbolisasi sebuah nurani yang terbungkam dan mungkin sisa hati yang masih hidup hingga kini dan mencoba mencari arti sebuah makna hidup dan kebenaran yang nyaris hilang oleh sombongnya dunia. Sebuah nurani yang terbungkam dan mencoba mendeskripsikan atas segala rasa melalui apa – apa yang dirasakan oleh panca inder dan makna hidup yang dijalaninya dalam sebuah pengalaman.

Mungkin kini mawar – mawar tersebut telah mati atau bahkan mungkin mawar – mawar telah menjelma dan menghasilkan spesies atas warna yang berbeda dengan warna aslinya dan akan terus beregenerasi dan menghasilkan anakan – anakan baru yang akan semakin memudar. Mawar – mawar tersebut telah berganti menjadi kelabu “abu – abu” karena polusi sebuah sistem, tatanan perkotaan dan urbanisasi, modernitas serta kebutuhan – kebutuhan akan hidup maupun pergeseran nilai budaya dan moralitas.

Mawar merah yang memadu kasih antara rasa cinta dan rasa sayang diantara ambisi serta nafsu. Mawar putih yang tetap mengusung nilai kesucian dan makna sebuah ketulusan pun kini telah pudar menjadi pamrih dengan balutan kata – kata manis “memberi dan menerima” atau dengan bahasa anak jaman sekarang take and give. Dimana kini semua yang telah dilakukan dan dijalani merupakan kompensasi dari sebuah timbal balik. Tak jauh berbeda apa yang dialami dengan tangkaian mawar kuning yanv tergantikan materi karena persahabatan kini selalu menghitung untung – rugi layaknya sebuah sistem ekonomi kelas teri, bersahabat, berteman dengan orang melihat dari status sosial dan apa yang dapat diperoleh.

Yang masih ada dan tetap konsisten deri semuanya kini hanya setangkai mawar hitam yang merupakan simbolisasi sebuah nurani yang terbungkam atas segana penat dan kebutuhan dunia. Karena setiap jiwa yang hidup dan terkurung dalam angkuhnya sebuah tubuh akan terus bergerak dan mencari nilai – nilai kesucian dan kebenaran meski terkadang sering terjadi resistensi dalam diri, perlawanan antara hati dan pikiran yang melahirkan suatu konsep ideologi serta tuntutan akan kebutuhan hidup yang harus dijalaninya. Karena jiwa pun sangat menyadari hidup merupakan konsekuensi atas semuaanya dan tak dapat dipungkiri.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Optimistis Melihat Produk Lokal dari Pasar …

Asri Alfa | | 22 October 2014 | 19:36

Happy Birthday Kompasiana …

Syukri Muhammad Syu... | | 22 October 2014 | 18:24

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Ngaku Kompasianer Langsung Diterima Kerja …

Novaly Rushans | | 22 October 2014 | 07:36

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 13 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 13 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 13 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 14 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Bidan Desa Tak Peduli, Nyawa Bayi …

Yohana Damayanti Ma... | 8 jam lalu

Judge …

Ayu Syahbana Surbak... | 8 jam lalu

Memilih Makanan Halal di Eropa …

Aries Setya | 8 jam lalu

Amplas …

Katedrarajawen | 9 jam lalu

Obama Dream atau Obama Nightmare ? …

Andi Firmansyah | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: