Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Pecel Tempe

apalah arti sebuah nama

Renungan Kematian

OPINI | 27 August 2010 | 21:34 Dibaca: 282   Komentar: 4   2

Merenungi sebuah perjalanan hidup, akhirnya sebuah pertanyaan timbul dalam hati, apa yang sudah saya perbuat selama ini ?. Dunia saya berbeda dengan anda. Mungkin itulah yang terjadi sesungguhnya, saya sangat menikmati dunia saya sendiri dan anda tidak dapat menikmati dunia anda dan oleh karenanya anda tidak pernah merasa puas. Merenung sejenak, saya sudah menjudge dunia orang lain yang sesungguhnya saya tidak mengerti. Saya tidak boleh mengatakan ketidak puasan karena saya tidak mengerti ukuran kepuasan. Tidak ada  yang dapat dijadikan ukuran kepuasan, tidak ada parameternya, dari mana harus mengukurnya. Demikian juga dengan kebanggaan seseorang. Kita menjadi seorang yang pendiam ketika terbenam didalam dunianya, kita juga akan menjadi buta terhadap sekelilingnya ketika kita sudah merasakan kepuasan. Tidak pula kita membutuhkan orang lain ketika kita merasa semua mampu kita atasi yang pada akihirnya menjadikan kita sebagai orang yang sombong disekitarnya karena kita hanya berdiam diri.

Perjalanan hidup membawa pada pengalaman yang tetap terekam dalam benak kita, rekaman yang sulit terhapus sepanjang hidup. Mengingat kebelakang, ketika saya menikmati perjalanan dengam mobil tanpa pendingin sebagai sebuah kesenangan, tetapi sekarang walaupun mobil itu sangat nyaman dengan udara sejuk serta musik mengalun, perjalanan menjadi penat membosankan karena kemacetan yang berlarut larut. Kenikmatan itu menjadi berbeda dalam menikmati sebuah perjalanan. Hidup dengan segala fasilitas, bukan jaminan menjadi sebuah kesenangan.

Ada suatu saat saya berfikir, hidup disebuah desa dengan alamnya yang masih bersih, jauh dari segala kebisisngan dan hiruk pikuknya dunia adalah sebuah kebahagiaan.  Berpikir kehidupan, manusia lahir telanjang, matipun telanjang dan semua akan mengalami dua fase itu sebagai kodrat yang sudah ditentukan. Semua akan menuju kematian, tetapi sebelum nyawa kita berpisah dari tubuh, selama itu sesungguhnya kita harus berjuang mempertahankan kehidupan. Namun dalam perjuangan hidup itu ada kepuasan dan ada kekecewaan.

Umur semakin pendek, dunia semakin sempit karena manusia terus bertambah dan terus bertambah sampai suatu saat nanti dunia akan penuh dengan manusia yang harus tetap makan.  Nenek moyang kita merasa zaman adalah yang paling maju, orang tua kita juga mengatakan demikian, dan kitapun mengatakan hal yang sama karena penilaian itu didasarkan pada jangkauan alam pikiran manusia pada zamannya.

Semua orang menuju pada satu tujuan yaitu kematian, nantinya tubuh kita akan ditanam dan habis dimakan alam.  Tak seorangpun yang tahu setelah itu kita akan kemana kecuali sebuah keyakinan, keyakinan yang ditanamkan dan harus dipercaya yang membuat kita tidak goyah selama menjalani kiehidupan. Menjadi orang baik atau menjadi bajingan bukan sebuah pilihan, manusia tidak dapat memilih hidupnya. Yang menentukan adalah kemana sesungguhnya kita terbawa, terbawa oleh alam pikiran yang kadang sulit dimengerti.

Aku ingin mati dengan tenang, biarlah tubuh ini hancur bersama tanah yang menyatukan tubuhku dengan bumi. Senyum menuju kematian, mungkin itulah pilihan terbaik agar dapat menerima kematian sebagai sebuah takdir, tidak ada yang perlu ditakuti. Tetapi sebelum ajal itu menjembut, ada yang telah kita perbuat, sebab perbuatan itulah yang akan abadi, bukan tubuh kita.

Ketika Bung Karno mengobarkan semangat ganyang Malaysia, yang sesungguhnya adalah pengobaran semangat untuk membunuh musuh bangsa. Namun, yang dulu ingin dibunuh itu sudah banyak yang tiada, begitupun yang ingin membunuh termasuk Bung Karno. Saling membunuh yang terhormat demi martabat bangsa sehingga tidaklah pantas dikatakan sebagai saling bunuh walaupun hasilnya sama yaitu kematian. Benarkah kita semua sudah siap dengan kematian ?. Mungkin tidak, berteriak ganyang malaysia hanyalah untuk mengisi kehidupan, bukan untuk menuju kesiapan sebuah kematian, berharap orang lain yang siap mati, bukan diri kita, pasukan kita yang harus siap mati. Ternyata mereka juga sama dengan kita, berharap bukan dirinya yang harus mati. Lalu Siapa yang siap mati ?. Tugas merekalah yang harus siap mati. Mati buat apa ?.  Mati demi martabat bangsa !  Semua tidak ada yang bersedia mati, hanya bersedia menulis saja di Kompasiana ! Ganyang malaysia !.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pesona Pasar Legi Kotagede: Kerukunan …

Sulfiza Ariska | | 19 December 2014 | 17:43

Jangan Mau Mengajar Mahasiswa …

Giri Lumakto | | 20 December 2014 | 00:33

(Maaf) Ngupil Pun Ada Etikanya …

Find Leilla | | 19 December 2014 | 14:04

Sang Penabuh Kabar …

Muhammad Armand | | 19 December 2014 | 10:18

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Mau Lihat Orang Jepang Panik Antri Bensin? …

Weedy Koshino | 6 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 7 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 8 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 9 jam lalu

Media Online, “Pelahap Isu Hoax” …

Ajinatha | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: