
seorang penulis yang sedang belajar menyikapi hidup dan kehidupan
Dibaca: 61
Komentar: 0
Nihil
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Terkadang filsafat dipersepsikan dengan sesuatu yang rumit dan membingungkan. Banyak diantara orang dalam hal ini mahasiswa yang sudah tergiring oleh arus opini akan kerumitan filsafat tersbut. Mereka rata-rata tergiring arus opini kerumitan filsafat itu karena terlebih dahulu melihat pembawaan para pengkaji filsafat yang aneh, nyeleneh, bahkan cenderung tak dapat dimengerti.
Padahal seseungguhnya, secara tidak langsung baik disadari atau tidak, dalam keseharian kita tak luput dari kegiatan berfilsafat. Karena hakikatnya, filsafat adalah pertanyaan. Segala bentuk apa pun yang memancing rasa heran dan keraguan kita dalam kehidupan dan menimbulkan benak Tanya, maka sebenarnya kita tengah berfilsafat. Itulah yang dikupas Seaful Anwar (Apuy) mahasiswa Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung pada diskusi yang diadakan kelas kajian Komunitas Rumput di Taman Baca “Garasi” Cibiru Hilir kemarin siang (24/11).
Apuy mengungkapkan bahwa filsafat harus mengena dengan keseharian hidup kita. Karena nantinya filsafat akan berujung pada sebuah harapan dari berfilsafat itu sendiri, yaitu mengenal diri sendiri (refleksi). Dan itu adalah sebuah proses tak berkesudahan. Oleh karenanya seorang filsuf bukanlah mereka yang kuliah atau studi bertahun-tahun pada sebuah jurusan filsafat semata, namun setiap dari kita adalah filsuf (tengah melakukan kegiatan berfilsafat. Selama proses mencari kebenaran dan rasa heran (pertanyaan) itu bersemayam dalam dada kita maka kita adalah filsuf. “Akhir dari proses berfilsafat adalah kematian,” begitu ungkap Apuy dalam diskusinya.
Lalu apakah filsafat menghadirkan solusi dari setiap pertanyaan alias memberikan jawaban?
Seandainya filsafat menghadirkan jawaban maka secara tidak langsung hal itu telah membunuh proses berfilsafat. Sebab jika jawaban itu telah ditemukan maka tak ada lagi aspek-aspek pertanyaan yang menjadi landasan dalam berfilsafat. Jadi bukan filsafat lah yang merikan jawaban, melainkan diri kita sendiri.
Oleh karenanya dalam perkembangannya, filsafat ternyata mengalami perjalanan yang sangat panjang. Sejak kelahirannya dari dalam diri manusia yang mempertanyakan segala hal di dunia ini dan alamnya, filsafat akhirnya menjadi tatanan keilmuan tersendiri. Bahkan ia melebur dan masuk dalam segala aspek keilmuan. Mulai dari sejarah, ilmu social, pengetahuan alam dan juga agama.
Mengenai wacana pertentangan yang terjadi antara filsafat dan agama, sebenarnya yang terjadi adalah kekhawatiran sebagian pemuka agama (dalam hal ini awalnya gereja) terhadapa mereka yang mempelajari filsafat dalam mengkritisi dogma-dogma ajaran agama yang telah baku sehingga terbuka peluang untuk berubah. Hal ini seharusnya tidak terjadi jika proses dialog dilakukan sebelum menjustufikasi keyakinan dan pemahaman pihak lain. Sebab bagi mereka yang mencintai kebijaksanaan (definisi filsafat), mempertanyakan adalah hal yang mutlak dalam filsafat. <I>Restu Ashari Putra