Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Sylvester Atmadjaja

alam ini sebetulnya tenang , yang ribut manusianya . Hati kita perlu ketenangan juga tapi selengkapnya

Dua Bata jelek

OPINI | 13 June 2010 | 16:10 Dibaca: 86   Komentar: 2   0

Singkatnya saja, saat itu Ajahn Brahm yang berencana membangun wihara, sangking tidak punya uangnya ia harus melakukannya sendiri. Ya, ia tukangnya. Ia mulai menyusun batu bata satu per satu dan menyemennya.

Kelihatannya gampang, membuat tembok dengan batu bata, tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana sini dan jadilah. Ketika ia sendiri yang membuatnya, bukan melihatnya saja, ia baru merasakan betapa saat diketok, batu bata itu malah miring sana miring sini dan kamu harus cepat mengembalikannya ke posisi semula sebelum semen mengering.

Itulah yang terjadi. Dengan segala kesabaran, ia menyelesaikan temboknya itu. Ia berdiri di baliknya dan mengegumi hasil kerjanya itu, barulah ia sadar, dua batu bata terpasang miring, dan saat itu semen sudah mengeras. “Mereka berdua jelek sekali, mereka merusak tembok saya”

Maka ia bertanya pada kepala wihara bolehkan ia merubuhkan tembok itu dan mengulangnya kembali, kalau perlu meledakannya sekalian. Tentu ide itu ditolak, alih-alih kepala wihara menyuruhnya untuk membiarkan tembok itu apa adanya.

Saat ia sedang membimbing tamu-tamu masuk dalam wiharanya, ia selalu mencegah mereka melihat dua batu bata itu. Ia tidak suka jika ada yang melihat tembok itu. Lalu suatu hari, kira-kira 3-4 bulan setelah ia membangun tembok itu, ia berjalan dengan seorang pengunjung dan ia melihat tembok itu lalu berkata, ” Itu tembok yang indah!” dengan santainya.

“Pak”, kata Ajahn Brahm, “apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan Anda sedang terganggu? Tidakkan Anda melihat dua bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?”
“Ya, saya bisa melihatnya, dua bata jelek itu. Tapi saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus.”

Ajahn Brahm tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan ia mampu melihat batu bata lainnya selain 2 bata jelek itu. Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang sempurna lebih banyak jauh ketimbang 2 bata jelek itu.

Betapa banyak orang memutuskan hubungan karena semua yang dapat mereka lihat dari orang lain hanyalah “dua bata jelek” itu. Berapa banyak di antara kita yang menjadi depresi dan ingin bunuh diri, karena yang kita lihat dalam diri kita hanyalah “dua bata jelek”? Pada kenyataannya, ada banyak, jauh lebih banyak, bata yang bagus, yang tidak kita lihat karena kita terlalu terfokus pada kejelekan yang ada. Dan terkadang, kita benar-benar berniat untuk menghancurkan sebuah “tembok yang indah”.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 12 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 13 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 14 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 14 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: