Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Bang Kemal

Acuan kerangka awal, pelajaran SD/SMP, berpancasila. Hehe…seorang awam yang mau belajar. Terima kasih Kompasiana, Terima selengkapnya

Makna Ibu Pertiwi

OPINI | 31 May 2010 | 10:17 Dibaca: 6915   Komentar: 12   1

Dari berbagai tulisan kompasiana, terkait Lagu Indonesia Raya, Mother, penulis terinspirasi mencari makna Ibu Pertiwi yang tidak lain adalah konsep personifikasi nasional Indonesia. Dalam agama Hindu, Ibu Pertiwi mengacu ke Dewi Bumi atau Ibu Bumi. Sang Bapak adalah bapak angkasa atau penguasa langit. Makna Ibu Pertiwi bagi Indonesia tidak lain adalah tanah airku, tanah tumpah darahku, tempat berlindung, tanah yang suci, tanah yang sakti, hutan gunung sawah dan lautan, simpanan kekayaan. Sang Ibu Pertiwi menjadi sosok seorang ibu yang dicintai, ibu yang membuai dan membesarkan anak anaknya, yang dapat bersedih hati, bersusah hati, berlinangan air mata, merintih dan berdoa, bergembira, dan tempat untuk berbhakti dan mengabdi. Semua warga bangsa Indonesia adalah anaknya, anak bangsa atau putra kesayangannya. Karena ini adalah konsep nasional, maka makna konteksnya berbicara mengenai konsep kenegaraan. Indonesia adalah Indonesia dan konsep ini terserap dan diartikan bermakna khusus dalam alam perjuangan nasional Indonesia. Personifikasi dari sosok yang dibela, yang mendasari sikap kepahlawanan dan menjadi alasan jiwa patriotik, baik dalam masa perjuangan sebelum dan setelah kemerdekaan. Atas nama Ibu Pertiwi, pengorbanan jiwa dan raga, hidup atau mati, adalah bukti jiwa pengabdian dan kecintaan pada negeri yang merdeka.

Soekarno sering menyebutkannya Pratiwi. Sisi lain, tidak berarti Soekarno satu satunya anak kesayangan Ibu Pertiwi. Kata ini ada dalam lagu lagu nasional, seperti Indonesia Pusaka, Ku Lihat Ibu Pertiwi, dll. Dalam bait pertama lagu kebangsaan Indonesia Raya ada kata “Jadi Pandu Ibuku” dan bait ketiganya disebut dengan kata “Ibu Sejati”. Kata ini milik semua warga Indonesia, dalam dan luar negeri.

Cara termudah mengartikan konsep ini adalah bila warganya memerankan diri sebagai pahlawan nasional dalam praktek pengabdiannya kepada negara. Atau dalam kekinian, bila warga membayangkan dirinya seorang tentara nasional dan siap siaga menghadapi perang dengan resiko nyawa digaris terdepan. Atau lebih sederhana, bila warga dipanggil negara untuk wajib perang. Maka konflik interest pribadi, baik itu kepentingan keluarga, istri dan anak, ataupun perjuangan kelompok, golongan, kesukuan/ etnis menjadi taruhan kuat atau lemahnya pertahanan dan ketahanan nasional Indonesia yang berdaulat dan punya harga diri yang setara di mata bangsa lain. Patriotik menempatkan kepentingan negara di atas segala galanya (dalam konteks kenegaraan). Maka sebenarnya, bukanlah jamannya mempertanyakan kembali persatuan dan kesatuan bangsa. Atau masih perlukah tiap warganya membuang energi, termakan provakasi, membahas atau memperuncingkan perbedaan antarwarga sendiri tanpa ada keinginan saling menghargai, saling mengisi, saling memperkaya, dan saling percaya? Sementara ia lahir dan besar, hidup dan makan, berdoa dan bekerja di tanah Indonesia yang merdeka. Dan negara itu ada karena pengorbanan para pahlawan bangsa atas segala kepentingan dan miliknya yang berharga itu.

Makna konsep ini menjadi hambar, tidak bernilai, jika pengabdian para pahlawan, atau tentara, adalah penghargaan yang sesuai dengan jamannya saja atau gajinya. Negara bukanlah sekedar perusahaan. Negara ada sepanjang jaman karena pengabdian rakyatnya dan negara tidak melupakan sejarah. Konsep ini menjadi kosong makna bila kemerdekaan hanya milik dari satu bagian elemen atau komponen bangsa. Jika kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka kemerdekaan itu adalah hak dan milik semua elemen bangsa. Bahwa penjajahan sesama elemen bangsa harus dihapuskan, karena hal itu juga berarti tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Dengan demikianlah bangsa dapat bersatu dan mengisi kemerdekaan dalam konteks kekinian.

Penulis tidak ingin mendapatkan citra apapun dan menginginkan mandat apapun dari Ibu Pertiwi, termasuk dari para pahlawan bangsa yang telah berjasa dan meninggal dunia. Semua ini sebenarnya ada dalam benak hati nurani anak bangsa. Termasuk anak bangsa yang selalu bertanya tanya apa arti kemerdekaan, bila keadilan dan kemanusiaan masih terkoyak koyak oleh bangsa sendiri. Mengapa hal yang sederhana ini tampak begitu sulit untuk dimengerti dalam kenyataan sehari hari?

Penyelenggaraan negara dalam alam kemerdekaan, telah menjadi hak sepenuhnya oleh bangsa sendiri. Bukan penjajah dari bangsa lain lagi. Nyanyian Ibu Pertiwi berkumandang ke seluruh pelosok tanah air. Nyanyian Indonesia Raya pun berkumandang ke seluruh dunia ketika anak bangsa meraih prestasi tingkat dunia. Renungan penulis, ada, anak anak bangsa itu yang tidak dapat lagi menahan keharuan. Ada, derai air matanya larut dalam tiap kata kata nyanyian lagu Indonesia Raya. Ada, mereka yang ingin melihat Ibu Pertiwi bahagia. Ada, mereka yang ingin mengusap tangisan Ibu Pertiwi. Ada, mereka yang ingin Ibunya tersenyum dan bangga. Ada…., anak anak negeri yang mau mengerti. Sepanjang lagu Indonesia Raya dikumandangkan, entah sampai kapan, maka makna Ibu Pertiwi tak lekang oleh masa, tak lekang berkalang tanah. Di pundak anak anak bangsa, kejayaan negara ini dititipkan.

Ibu berkata, “Tiap jengkal tanah yang Ibu berikan, Jagalah ia dengan segenap hati. Tiap tetes darah Ibu saat Engkau dilahirkan, Jagalah ia bagaikan emas di hatinurani. Majulah engkau anakku. Bawalah bangsa ini berprestasi. Selenggarakan negara ini dengan hati nurani. Karena di dalam doaku, namamu sudah aku sebut satu demi satu. Kalau engkau kembali bertanya, kapan kerusuhan berhenti, kapan tindak korupsi berkurang, kapan Indonesia bisa maju, kapan timnas sepakbola ikutan piala dunia, tanyakanlah pada rumput yang bergoyang. Mengertilah. Semuanya ada dipundakmu Nak. Semua sudah kuberikan, tapi inilah yang aku terima. Inikah balasanmu?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 12 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 14 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 15 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 16 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 13 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 13 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 13 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 14 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: