Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Bhtrg

Aku adalah satu diantara mereka dan kamu. Aku hanya bagian dari yang tidak terpisahkan diantara selengkapnya

Church of Scientology Gereja yang Tidak Mengenal Yesus

OPINI | 01 May 2010 | 20:41 Dibaca: 6311   Komentar: 4   1

seeker401.wordpress.com

Lambang Church of Scientology yang mirif salib gereja Kristen

Church of Scientology adalah sebuah gereja yang mencuri perhatian sejumlah gereja lain karena gereja sains ini, menggunakan lambang salib dengan sedikit perbeda pada keempat sisipersilangan yang ditambakan sesuatu seperti ujung-ujung bintang. Gereja yang berpusat di Amerika ini ternyata tidak mengenal jalan Yesus.

Walau mereka memakai salib namun dalam kenyataanya gereja ini tidak memilki hubungan dengan salib Kristus. Bahkan mereka menyatakan bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan doktrin kekeristenan. Mereka dalam laporannya menjelaskan bahwa Yesus dan segala ketuhananya adalah  sebuah warna dari imajinasi manusia para pengikutnya. Jesus hanyalah seorang guru yang baik. Yesus mereka anggap sebagai fiksi yang seharusnya dihapus dari alkitab. Dia hanya seorang guru yang baik (Philip R. Roberts). Yesus hanya seorang yang menaburkan bibit keyakinan 2000 tahun yang lalu.

Yesus adalah sebuah kesalahan memori yang memberikan warna imajinasi manusia. Bahkan mereka percaya bahwa Yesus bukanlah orang yang tersalib. Jesus adalah penanaman memori  pada manusia yang sukses dilakukan oleh gereja Katolik (berdasarkan kutipan mereka). Mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tidak ada doktrin mengenai Yesus di gereja saintologi.

Gereja ini dengan tegas menolak doktrin hal penciptaan, dosa asal dan penyelamatan yang sempurna oleh Yesus Kristus. Mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Firman yang menjadi manusia (inkarnasi) dan juga tidak percaya akan kematian dan kebangkitan Yesus.  Mereka mengangap itu adalah sekedar konsep mistik  ketimuran. Mereka tidak percaya bahwa Yesus mati demi menanggung dosa manusia, dosa seharusnya ditanggung masing-masing sipembuat dosa.

Mereka mengkutip perkataan Jesus bahwa kerajaan surga ada di tangan anak manusia, mungkin artinya bahwa setiap manusia memilki kesempatan berusaha mendapatkan kerjaaan surga.

Mereka adalah kelompok gereja yang didirikan oleh L. Ron Hubbard, seorang junius yang serba bisa dan terkenal dengan berbagai idenya dari buku-bukung dan ministri pengajarannya. Dan salah satu adalah mengenai Dianetics yang menurut penulis adalah sebuah metoda kembali ke kemandirian personal dalam jiwa. Hal ini terkait dengan psikoanalisi, yang mana mampu mengendalikan dan mengambalikan ketenangan jiwa. Dengan Dianetics maka seorang akan hidup dengan jiwa yang normal, penuh semangat energi dan sejenisnya. Tentunya ini adalah hal yang sangat baik.

Pendapat seorang pakar alkitab, gereja ini tidak membicarakan hal Tuhan atau Jesus, namun lebih lepada kesetimbangan dan kenyamanan jiwa. Namun mereka percaya adanya kekuatan spirit individu yang ada pada manusia.  Walaupun sebagian pengikutnya masih percaya adanya Tuhan dan ajaran alkitab.

Dalam perkembangannya saat gereja keristen mulai mempertanyakan kegerejaannya dan hubungannya dengan Yesus. Gereja saintologi ini cendrung menyatakan bahwa mereka tidak memilki hubungan secara doktrin dengan Yesus. Yesus adalah sekedar guru dan tidak berbeda dengan Zoroaster dan Socrates. Jika mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah kepala gereja maka seharusnya tidak boleh mengatakan mereka gereja dan menggunakan salib. Dan saat ditanya mengapa mereka memakai salib dan menyatakan diri gereja? jawaban mereka adalah sangat masuk akal, walaupun sama sekali tidak memilki hubungan dengan salib Yesus. Mereka mengatakan bahwa Gereja adalah kumpulan orang percaya/ congregation dan salib adalah daya tariknya dan mereka memilki semua itu.

Komentar penulis: Pemahaman mereka di level Jiwa tidak sampai di level rohani.

Dalam hal ini adalah baik karena gereja saintologi ini telah menyatakan bahwa mereka tidak memiliki doktrinasi terkait dengan kekeristenan. Jika dikaitkan dengan dengan pendirinya yang memilki pengalaman dalam hal sejarah dari berbagai negara (Cina, India dll), serta pendidikan yang baik dan juga melakukan eksplorasi terkait psikis manusia (kejiwaan) dan menemukan metoda yang baik untuk mengembalikan kesempurnaan jiwa (Dianetics) maka sangat wajar sekali dinyatakan sebagai pemahaman akan ilmu kejiwaan berdasarkan kondisi personal. Namun semua itu hanya selevel jiwa/soul. Mereka memusatkan perhatian kepada pemulihan jiwa yang terkait dengan memori dan pengalaman baik atau buruk. Yang mempengaruhi semangat, aktifitas, dan pikiran seorang individu.

Namun mereka tidak pernah sampai kepada hal-hal yang rohani. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan mereka yang terkait dengan kematian dan kebangkitan Yesus, hal inkarnasi dan budaya timur. Padahal konsep bertuhan adalah  sesuatu kekuatan yang ada diluar manusia dan setelah memahami Tuhan adalah Roh adanya, maka konsep berTuhan menjadi berada di dalam manusia, di dalam hati manusia. Dan semua itu dimungkinkan karena Tuhan adalah Roh adanya.

Pemahaman yang berintikan kepada jiwa akan berakhir pada kematian jiwa. Jiwa yang terganggu dapat dipulihkan dengan metoda Dianetics namun kematian jiwa adalah akhir dari sebuah kehidupan manusia didalam tubuh, padahal Yesus menyatakan didalam Tuhan kematian bukanlah akhir, namun awal dari kehidupan rohani/roh.

Pemahaman akan hal roh/rohani adalah sangat penting didalam pengenalan akan Tuhan. Karena pengenalan akan rohani membuat manusia mampu mengenal Tuhan, Allah segala roh. Alkitab mengatakan dalam berkontak dengan Tuhan, maka kita harus berada didalam roh dan kebenaran. Sesunguhnya hanya roh-manusialah alat yang benar untuk berkontak dengan Tuhan-roh. Jadi adalah sangat wajar Church of Scientology gagal mengenal Yesus akan kematian dan kebangkitannya (jalan salib) dan gereja yang benar karena mereka tidak mencapai pemahaman level rohani.

Tulisan di atas dirangkum oleh penulism dan sesuai pemahaman dan pengalaman penulis.

Sumber http://www.scientology.org/l-ron-hubbard.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 5 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 6 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 7 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Film Hollywood Terbaru ‘ Interstellar …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Selfie Produk: Narsisme membangun Branding …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Masa Kecil yang Berkesan di Lingkungan …

Amirsyah | 8 jam lalu

Kisruh Parlemen, Presiden Perlu Segera …

Stephanus Jakaria | 8 jam lalu

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: