Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Rahima

Seorang Ibu dan seorang PNS yang sedang bertugas belajar di Universitas Al Azhar, Cairo

Sedikit Merenungi Uslub (Tata Bahasa) dalam Al-Quran

OPINI | 18 April 2010 | 17:34 Dibaca: 703   Komentar: 2   1

Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Dari dulu, sampai sekarang, aku sering sekali bertanya-tanya didalam hatiku disaat aku membaca AlQuranulkarim lafadz-lafadz yang hampir mirip dalam beberapa ayat, tetapi ada sedikit perbedaannya. Ada yang didahulukan jar wamajrurnya dulu ketimbang jumlah setelahnya, ada yang di akhirkan. Salah satu contohnya dalam Q.S AlBaqarah 173, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, dan apa-apa yang disembelih diselain menyebutkan atas nama Allah Ta’ala..dst”

Lafadz yang dipakai didahulukan Jar wa majrur yakni :”Bihi”(Wamaa Uhilla bihi lighairillahi, و ما أهل به لغير الله sementara didalam surah Al Maidah dan Al An’aam (ayat 3, 145) lafadz “Bihi” nya ditakhirkan dari lafad “lighairillahi Bihi” وما أهل لغير الله به .

Contoh lain, yang sering dalam benakku adalah dalam satu ayat ada huruf takkidnya, sementara ayat yang sama dalam ayat selanjutnya, baik dalam surah yang sama, atau surah yang berbeda, tetapi kalimatnya sama, namun satu dikasih tanda takkid, satunya lagi tidak dikasih tanda takkid(penguat).

Silahkan dilihat Alquran surah Al Waqi’ah ayat 65 dan 70.

Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu tanam, apakah kamu yang menumbuhkannya, ataukah Kami yang menumbuhkannya? kalau Kami kehendaki BENAR-BENAR(ada huruf takkid Lam didalam kalimat “Laja’alnaa “ لجعلنا” tersebut, Laja’alnaa) Kami jadikan dia kering dan hancur, sehingga kamu menjadi tercengang dengan kehancuran tersebut.(AlWaqi’ah 63-65).

Sementara dalam ayat selanjutnya, (silahkan dilihat ayat selanjutnya 68-70), ketika Allah menceritakan tentang bagaimana air diciptakan, dengan TANPA memakai huruf takkid Lam dalam lafadz “Ja’alnaa”“جعلنا” “Maka terangkanlah kepadaku, tentang air yang kamu minum, kamukah yang menurunkannya dari awan, ataukah Kami yang menurunkannya?.Kalau Kami berkehendak niscaya kami akan menjadikannya asin, maka kenapakah kamu tidak bersyukur? (AlWaqi’ah 68-70).

Contoh lain, dalam cerita yang sama, disurah Al Kahfi “Famasthaa’uu”, dan “ wamastaTHA’uu”(dalam satu ayat), tapi beda, satu tidak pakai “ta”, yang selanjutnya pakai ta(silahkan dilihat AlQuran surah Al Kahfi ayat 97, dan diayat lain, cerita tentang Khidir As, dan Nabi Musa As, saat Khidir berkata pada nabi Musa “Maalam Tasthi’(kamu tidak sanggup), diayat yang lain, maalam Tastathi’(kamu tidak sanggup) juga artinya. Lantas kenapa satu pakai “Ta”, satunya lagi tidak pakai “ta”? sementara kedua kalimat tersebut diucapkan oleh orang yang sama, dan ditujukan untuk orang yang sama juga(Khaidir As kepada nabi Musa As)

Didalam surah Alwaqi’ah juga kulihat, disana ada tiga golongan mendapatkan balasan masing-masing “Ashabulmuqarrabin,(orang yang terdekat), ashabul yamin(penduduk kanan-maksudnya penduduk surga juga, tetapi derajatnya dibawah penduduk muqarrabin=yang terdekat tadi), serta ashabussyimaal(penduduk neraka).

Disaat Allah menceritakan bagaimana jumlah muqarrabin tadi, golongannya sangat sedikit, dipakai kata “qoliilun” (Tsullatum minalawwaliin, wa qoliilum minal aakhirin) Dari golongan Assabiquun/ muqarrabin tadi, sedikit dari mereka orang-orang yang terdahulu, sedikit juga dari orang-orang yang datang kemudian, kalimat sedikit yang kedua dipakai “Qaliilun” (Tsullatumminalawwaliinaa, waqaliilun minal aakhirin)(Q.S Al Waqi’ah 13-14),

Sementara dalam golongan kanan(surga juga), kalimat sedikitnya dipakai dengan lafadz”Tsullatun”, bukan qaliilun”(Tsullatumminallawwaliina, wa Tsullatun minalaakhiriin”(Al Waqi’ah 39-40).

Dan balasan diantara keduanya juga berbeda. Jauh lebih nikmat balasan muqarrabin ketimbang golongan kanan. Silahkan dilihat dan dibaca ayat-ayat surah AlWaqi’ah tersebut. Penyebutan kesenangan dalam buahan saja, golongan muqarrabin disuruh memilih apa buahan yang disukainya, sementara dalam golongan kanan, buahannya disebutkan banyak saja.

Begitu pula yang terjadi dari golongan surga dalam surah Arrahman, dimana tingkatan derajat lebih tinggi, maka nikmat yang mereka dapatkan juga lebih tinggi lagi dari derajat dibawah mereka, baik dari sisi bidadari, makanan, buahan dan lainnya. Maha benar Allah Ta’ala akan segala firmanNya. Allah Subhanahu wata’ala membalasi hamba sesuai dengan tingkatannya masing-masing.

Baik sisi kebaikan ataupun kejahatan manusia, tidak ada satupun yang didzalimi, karena Allah bersifat Maha Adil, tidak dzalim. Barang siapa yang berkontribusi lebih banyak dan besar didunia, dia akan mendapatkan balasannya sesuai dengan apa yang dilakukannya, tidak didzalimi sedikitpun, oleh karena itu, jauhilah sifat mendzalimi orang lain, karena Allah Maha Adil, tidak dzalim sedikitpun.

Pokoknya sangat-sangat banyak hal-hal semacam ini kutemukan dalam AlQuran, bikin aku penasaran terus, dan mungkin, alhamdulillah, karena aku mengerti artinya, sehingga aku melihat kesamaan arti /makna saat membacanya, tetapi kenapa lafadznya berbeda, ada yang didahulukan, ada yang dihilangkan, ada yang disebutkan ada yang tak disebutkan dan sebagainya,..

Aku penasaran dan kubuka buku-buku tafsirku yang ada dirumah, alhamdulillah aku menemukan jawabannya. Salah satu contoh kutemukan jawabannya adalah masalah takkid “lam” dalam penciptaan tanaman dan air tadi. Ada salah seorang ulama tafsir berpendapat, karena penciptaan tanaman jauh lebih sulit, ketimbang air. Menumbuhkan tanaman lebih sulit, ketimbang menurunkan air dari langit(awan), meski disisi Allah ta’ala tak ada satupun yang sulit, semua mudah, kun fayakun, jadi, maka jadilah ia. Maksudnya bagi manusia, untuk menjadikan tanah yang gersang, padang pasir, menjadi tanah yang subur, jauh lebih sulit, ketimbang menggali air dari mata air, ataupun menampung air hujan kedalam tadah/sumur.

Namun, meskipun begitu, ada yang kurang setuju dengan pendapat ini, dan menyamaratakan saja pemakaian lafadz tersebut, sama-sama sulit katanya.

Dalam kalimat fi’il ma’lum dan majhul saja aku cari. Kenapa dalam perintah puasa diharamkan bangkai, darah..dst itu dipakai kalimat fi’il majhul(kata kerja yang mana fa’ilnya majhul=tidak diketahui), semacam “KUTIBA”(diwajibkan atas kamu berpuasa, kenapa Allah tak sebutkan “Katabtu”(Aku wajibkan), “Hurrimat”(Diharamkan ), atas kamu, kenapa Allah tidak pakai saja “Harramtu”(Aku haramkan) atas kamu bangkai, darah dan daging babi.

Dan kenapa diharamkan sesuatu yang sudah mati, darah, daging babi dan seterusnya itu. (Dan dalam hal ayam mati, lembu mati(bukan ayam yang matinya disembelih atas nama Allah tersebut, tetapi mati begitu saja, dan kenapa harus dipotong lehernya, tidak langsung penggal kepalanya saja?), ternyata memang setelah diteliti para pakar dalam bidangnya, ada kaitan dengan darah dari hewan tersebut, beda bila mati disebut dengan nama Allah dan mati dengan tanpa disebut nama Allah, yakni mati sendiri, atau mati ketabrak. Dan hikmah semua itu, dan semua demi kesehatan manusia itu sendiri.

Begitulah seterusnya,..aku cari dan aku gali terus AlQuran tersebut, sehingga aku mendapatkan ilmu dari dalamnya dan keimananku mudah-mudahan bertambah dengannya. Begitu banyak mu’jizat AlQuran yang masih belum diketahui manusia, sedikit demi sedikit ada saja para ulama mentadabburinya, mendalaminya dan menelitinya dari segala macam sisi, karena AlQuran mu’jizat secara keseluruhannya.

Demikian, sekedar wacana untuk memotivasi agar setiap kita membaca AlQuran mulailah sedikit demi sedikit merenungi kandungannya. Itu saja.

Wassalamu’alaikum. Cairo, 18 April, 2010, Rahima.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indonesia 0 – 4 Filipina : #BekukanPSSI …

Angreni Efendi | | 26 November 2014 | 00:33

Bom Nuklir Ekonomi Indonesia …

Azis Nizar | | 26 November 2014 | 04:44

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | | 26 November 2014 | 04:01

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 6 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 7 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 12 jam lalu

Timnas Indonesia Bahkan Tidak Lebih Baik …

Kevinalegion | 13 jam lalu

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kisah “Kaos Kaki Bolong” …

Fathan Muhammad Tau... | 8 jam lalu

Produsen Kok Masih Impor Garam? …

Irene Noviani | 8 jam lalu

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | 8 jam lalu

Fabiano Lawan Sepadan Magnus Carlsen …

Cut Ayu | 8 jam lalu

Yuk Koleksi Uang Rupiah Bersambung Tahun …

Agung Budi Prasetyo | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: