Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Kupret El-kazhiem

Pelarian, Pengangguran, Soliter, Serabutan, Penduduk Bumi

Hidup Itu Apa?

OPINI | 01 April 2010 | 20:05 Dibaca: 477   Komentar: 21   0

Oleh: Kupret el-Kazhiem

Malam ini saya gelisah, terus terang semalaman tak bisa tidur padahal tidak ada niatan untuk begadang, dan kegelisahan itu bukan dikarenakan tidak dapat menikmati salah satu bentuk kenikmatan yang diwujudkan oleh aktifitas seksual. Akan tetapi kegelisahan saya berawal dari sebuah perenungan akan makna hidup, pikiran itu muncul secara tiba-tiba menyerang otak saya ketika hendak memejamkan mata.

Hidup, kata yang satu ini terus menyerang saya. Hidup, apakah tujuan daripada hidup? Apa makna dari sebuah kehidupan? Orang tua (baca: Ayah) saya pernah berkata bahwa hidup itu sesungguhnya sederhana, hidup adalah hidup. Saya mencoba mengelaborasinya, hidup berarti bernafas, hidup berarti aktifitas sel di dalam tubuh, hidup berarti otak yang terus berpikir. Atau mungkin hidup adalah masalah, mengingat sebuah adagium bahwa hidup tanpa masalah sama dengan mati. Atau hidup berarti ada, yaitu eksistensi, atau hidup adalah proses? Tetapi selanjutnya orang tua saya berkata, hidup itu intinya terletak pada tujuannya, tujuan hidup manusia untuk membangun keluarga, menafkahi keluarga dan mati. Titik, apakah cukup seperti itu saja? Sesederhana itukah?

Kemudian saya ingat nasihat guru saya di pesantren bahwa hidup tidak lain hanya untuk beribadah sebagaimana yang tertera dalam teks agama, Namun sebagaimana yang dikatakan orang tua saya; membangun keluarga dan mencari nafkah jika dikaitkan dengan ajaran agama juga termasuk beribadah. Kalau begitu kata-kata guru saya tidak jauh bedanya dengan orang tua saya. Tapi sesederhana itu kah?

Pertanyaan itu kembali muncul di benak saya, sesederhana itukah hidup ini? Lalu untuk apa saya sekolah tinggi-tinggi, untuk meraih apa? impiankah? cita-cita, pekerjaan, kekayaan, kesuksesan, atau apa? toh semuanya kembali ke ‘membangun keluarga, mencari nafkah, dan mati.’ Atau hidup sejatinya sebuah mekanisme surviving untuk menghadapi kehendak bebas Tuhan yang bisa berbuat semau-Nya terhadap manusia?

Hidup itu mencari kebahagiaan, kata sahabat saya. Manusia bisa menjadi kaya atau miskin, bisa menjadi apa saja dan bisa mendapatkan apa saja di dunia, akan tetapi hanya kebahagiaan-lah yang susah untuk didapat. Tetapi jawaban ini semacam konsep setengah-setengah yang nantinya kembali kepada sebuah konsep lain, yakni bahwa hidup adalah penantian, penantian akan kematian. Oleh sebab penantian yang berarti menunggu dan menunggu itu sangat membosankan, maka manusia mengisi ‘penantian’ mereka dengan hal-hal yang dianggap membahagiakan, dan akhirnya lingkaran konsep ini terus berputar, dan saya sebagai manusia akan terus berspekulasi. Spekulasi adalah kehidupan, apakah demikian? Jika jawabannya benar berarti saya akan terus berspekulasi yang tentu saja tidak akan memuaskan saya akan pencarian jawaban, dan manusia tidak pernah merasa puas, maka benarkah hidup merupakan ketidakpuasan dan ketidakpuasan sama dengan ketidakpastian, sehingga hidup adalah ketidakpastian?

Hidup itu apa? Saya bahkan tidak bisa memilih untuk hidup atau tidak hidup, saya bahkan begitu lemah untuk bernegosiasi dengan Tuhan agar dilahirkan dari rahim siapa dan di mana, dan ketika saya telah hidup, saya pun diancam ganjaran siksa Tuhan jika berani menghukum kehidupan saya dengan membunuh hidup saya alias bunuh diri, karena bunuh diri berdampak selain membunuh hidup dan kehidupan saya, tetapi juga membunuh kehidupan orang lain. Lantas hidup itu apa? Saya tidak dapat menemukan jawabannya dan terpaksa harus kembali ke perkataan orang tua saya, hidup itu ‘membangun keluarga, mencari nafkah dan mati’. Sesederhana itukah? Lalu untuk apa saya kuliah tinggi-tinggi? untuk membekali kamu mengarungi kehidupan, jawab orang tua saya. Membekali apa? toh saya bukanlah orang-orang di bidang kedokteran, arsitektur, psikologi, teknik, komputer, kimiawan, fisikawan, dan sebagainya yang menjanjikan sebuah profesi dan keahlian yang sangat digandrungi di era modern ini, di zaman di mana masyarakat sangat membutuhkan mereka. Dan pekerjaan mereka pun menghasilkan uang yang saya katakan sangat cukup untuk ‘membangun keluarga, dan mencari nafkah.’ Namun saya hanya seorang mahasiswa pada bidang studi agama, agama yang merupakan hal metafisik di mana semua orang bebas untuk beragama dan menganut agama apa saja, berkeyakinan serta berkepercayaan apa saja.

Namun sahabat saya mencoba untuk menghibur, “kan bisa jadi ustad, guru, dosen atau pegawai Depag” katanya. Hah?!! Sederhana itukah?! Sekolah hingga mendapat gelar bertingkat-tingkat hanya untuk itukah. “Ya mau apa lagi?” jawab sahabat saya seakan yang namanya uang ditentukan oleh arus kebutuhan pasar. Kalau pasar ingin A, maka ikut A, kalau pasar ingin B, ya ikut B. Sepragmatis itukah? Orang tua saya memberikan nasehat yang lagi-lagi bernada sama, sebuah hiburan. “Profesi dan pekerjaan tidak perlu terpaku dengan latar belakang pendidikan, asalkan halal dan mau berkerja keras, pasti kesuksesan lambat laun akan didapat.” Ya, kesuksesan di arus kebutuhan pasar ini apalagi kalau bukan uang, gerutu saya. Sementara guru pesantren saya menambahkan, “Jangan lupa berdoa, karena rezeki itu pada hakikatnya sudah ada jatahnya masing-masing, jalan mendapatkannya selain berusaha keras, doa pun harus.” Dan semua nasihat semacam itu dari segala penjuru datang bertumpuk-tumpuk hanya untuk mempertahankan konsep bahwa hidup adalah ibadah, dan mengingat teks agama berbunyi bahwa orang yang menikah berarti telah menjalankan separuh ajaran agama, maka membangun keluarga serta mencari nafkah adalah ibadah. Lalu apa? Lalu mati. Sesederhana itukah hidup ini?

Hidup itu apa? Saya ulangi lagi pertanyaannya. Bukan apa tetapi pertanyaannya adalah bagaimana, ujar sahabat saya yang lain, dia menunjuk slogan di sebuah iklan di televisi, “Work Hard, Play Hard.” Begitulah menjalani hidup, keseimbangan di dalam prosesnya antara perjuangan dan kebahagiaan. Tetapi tetap saja saya merasa disuguhi sebuah konsep bolak-balik yang ingin mengaburkan konsep penantian akan kematian yang sangat membosankan jika hanya terus berdiam diri. Tetapi keseimbangan itu sendiri adalah keheningan, kosong dan tanpa pamrih. So What?! ujar saya, karena jawaban terhadap pertanyaan saya masih samar. Apakah hidup itu? Hidup itu berarti merasakan, merasakan kehidupan itu sendiri dan apapun dinamika yang berada di dalamnya, namun lagi-lagi yang disodorkan hanya konsep dan konsep untuk terjebak dalam penantian dari oposisi biner hidup dan mati.

Sampai saat saya jenuh dan mengabaikan semuanya, saya tak pernah mendapatkan jawaban dan semakin gelisah, hidup itu apa?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Miss Sarah Ballard, Guru Inggris Madrasah …

Eddy Roesdiono | | 18 September 2014 | 12:24

Kritik kepada Mahfud MD …

Hendra Budiman | | 18 September 2014 | 13:21

Memperluas Keterbacaan Kompasiana Melalui …

Pepih Nugraha | | 18 September 2014 | 15:37

Tidak Ada Porter di Australia …

Roselina Tjiptadina... | | 18 September 2014 | 10:45

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14


TRENDING ARTICLES

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 5 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 6 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 7 jam lalu

Bogor dan Bandung Bermasalah, Jakarta …

Felix | 7 jam lalu

Kejahatan di Jalan Raya, Picu Trauma …

Muhammad | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: