Dear ibunda…
Salam takzim senantiasa ananda haturkan untuk ibunda tercinta, peluk hangat selalu ananda rasakan meski jarak memisahkan kita.
Ibunda tersayang…
Saat kutulis surat ini pada buku catatan harian hadiah dari ibunda saat nanda lulus SD dulu, ku sedang berbaring di sebauh ruangan asing yang dingin sambil memperhatikan serombongan orang tanpa satu pun yang kukenal hilir mudik di depan pintu kaca. Sesekali mereka memandangiku dengan tatapan mata penuh iba.
Canda tawa anak-anaknya mengingatkan masa lalu kita, saat ananda kecil dulu. Nanda sadar, dulu ananda memang nakal minta ampun. Berkali-kali mengecewakan ibunda tercinta. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali nanda melanggar titah ibunda. Menyakiti hati ibunda adalah menu tiap hari yang ananda hidangkan untuk membalas hidangan sarapan nasi goreng terenak buatan ibunda. Betapa bodohnya nanda waktu itu.
Kini ananda sudah besar, sudah dewasa, sadar akan kekhilafan ananda selama ini. Berjuta ampun ananda persembahkan untuk ibunda, berharap ibunda berkenan memaafkan anak nakalmu ini.
Ibunda yang mulia…
Sembilan bulan lebih nanda dikandung bunda. Lemah letih ibunda rasakan setiap kali melangkah. Seakan membawa puluhan ton palu-palu godam. Dua tahun ibunda berjuang siang malam, tak kenal sehat maupun sakit, ibunda senantiasa berusaha memberikan air suci terbaik yang sangat ananda butuhkan. Kadang, hanya cairan merah yang ibunda keluarkan, rasanya asin sedikit pahit dan tercium aroma penderitaan penuh ketulusan.
Maafkan anakmu yang masih tidak bernalar pada waktu itu, bunda. Ananda hanyalah seonggok tulang rawan berbungkus keratan-keratan daging tipis yang melingkupinya.
Ibunda yang jauh di sana…
Tanpa belainmu di sini, ananda tergolek lemah tak berdaya. Selang-selang tanpa ujung ini tak kuasa menahan kejang di seluruh bagian tubuh ananda. Mesin-mesin canggih paling mutakhir tidak sanggup meredakan aliran darah yang terus bergejolak tanpa henti. Meradang rahang ananda menahan sakit tak terperi. Dokter dan suster yang silih berganti mengunjungi ananda, tidak mampu menggantikan kerinduan nanda menunggu kehadiran ibunda tercinta.
Hanya tetesan air mata ananda yang keluar saat menahan sakit ini. Dulu ibunda pernah berpesan kepadaku, “Anak laki-laki tidak boleh menangis”.
Untuk terakhir kali, mohon kiranya bunda mau memaafkan nanda karena telah melanggar perintah ibunda waktu itu. Ananda sudah tidak sanggup lagi menahan air mata ini, sambil terus berharap kepada Tuhan kita, “Ibunda, aku ingin mati di pangkuanmu.”
Peluk cium dari ananda di negeri seberang.
***
Ditulis di sebuah sudut kota di Pulau Sumatera, terinspirasi dari kisah heroik bunda Pipiet Senja bertarung dengan nyawanya. Serta salam berduka cita untuk ibundanya yang telah berpulang ke Rahmatullah. Semoga amal dan ibadahnya diterima di sisi Allah subhana wataala.
Saat ditanya tentang kepada siapa kita harus berbakti, Nabi sallalahualaihiwassalam menjawab pertanyaan sahabatnya itu, “Ibu…ibu…ibu…kemudian ayahmu.”
Saat menjelang wafatnya, dalam keadaan sakaratul maut beliau hanya berucap lirih, “Umatku…umatku..umatku…”
***
Pekan kemarin, dunia kembali dikejutkan oleh agresi militer Israel ke komplek Masjid Al-Aqsa. Kejadian ini mengulang peristiwa-peristiwa sebelumnya yang selalu mengambil korban anak-anak Palestina tak berdosa. Dunia mengecamnya dan polisi dunia diam seribu bahasa, tidak seperti ketika negeri antah berantah yang dinista.
Negara adidaya kini sedang bingung oleh masalah kesehatan warganya, sampai-sampai pemimpinnya membatalkan kunjungannya ke negeri masa kecilnya, hingga dua kali pembatalan. Polisi dunia seharusnya tidak usah bingung tentang kesehatan warganya sehingga perlu pereformasi sistem kesehatannya. Mungkin kah ini karma, karena mereka telah meracuni warga dunia dengan serbuan fast foodnya?
Sebenarnya persoalan sederhana, kesehatan penentu kebijakannyalah yang sedang rusak, tidak sehat secara jiwa. Coba dengarlah rintihan anak Palestina yang telah meregang nyawa ini, sebelumnya dia telah berbisik kepada dunia, “Ibunda, aku ingin mati di pangkuanmu, bukan di puing reruntuhan rumah kita.”
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
