Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ann Fauziana

Ann orangnya simple.. Hoby baca, nulis n diskusi. Muslimah idealis n try hard to fight for selengkapnya

Bidadari Surga Al- ‘Aina’ Al Mardhiyyah

OPINI | 22 March 2010 | 05:24 Dibaca: 1043   Komentar: 7   2

Ada sebuah kisah yang teramat indah yang baru saya baca di buku motivasi beberapa waktu yang lalu.. Begitu indah, begitu menginspirasi dan menembus batas kesadaran saya sebagai seorang hamba.. Tentang sebuah pengorbanan dari seorang anak manusia.. Ah, betapa beruntungnya ia..

Teman,  ini bukanlah kisah dongeng, atau rekaan semata apalagi khayalan sang penulisnya.. Ini kisah nyata dan teramat berharga untuk kita renungi bersama.. Semoga bisa diambil manfaatnya..

Wahai orang yang memeluk dunia.. dari panasnya api neraka. Dunia ini tidak kekal, siang dan malam penuh dengan kepalsuan dan kesia-siaan. Hendaklah kamu meninggalkan dunia yang membelenggumu. Sehingga kamu bisa segera memeluk surga firdaus. Jika kamu mencari surga yang abadi untuk kamu jadikan tempat tinggal, maka hendaknya kamu jangan pernah merasa aman dari panasnya api neraka.

Cerita ini saya ambil dari Buku Motivasi Ust Faqih yang berjudul Al Quwwah Ar Ruhiyah.. Klo ada rezeki, dibeli yach.. ^_^

#############################

Dikisahkan oleh Syaikh Abdul Wahid bin Zabad Rahimahullah, “ Suatu hari ketika kami berada di sebuah majelis, kami memutuskan agar mempersiapkan diri untuk berperang.
Saat itu aku memerintahkan kepada teman2ku untuk membaca ayat2 Al Qur’an. Kemudian dalam majelis itu ada seorang laki2 yang membaca ayat yang berbunyi,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang2 mu’min , diri dan harta mereka deengan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.(QS. At Taubah :111)

Setelah itu, ada seorang bocah remaja yang usianya sekitar 15 tahun berdiri dan menemuiku. Dia telah ditinggal mati ayahnya dan meninggalkan warisan yang sangat banyak . Lalu ia berkata,

“Wahai Syeikh Abdul Wahid, sesungguhnya aku bersaksi di hadapanmu, aku berani menjual jiwa dan hartaku dengan surga.
Dia berani mengeluarkan semua hartanya. Semua disedekahkankannya kecuali kuda, perang, dan bekalnya. Ketika keluar menuju medan perang, dia berada di garfda paling depan. Jula beli kami untung karena kami telah bertransaksi dengan Allah, kemudian kami memulai perjalanan.

Dia berjalan bersama kami. Dan saya lihat, jika siang hari dia berpuasa dan malam harinya ia gunakan untuk bermunajat kepada Allah. Dia melayani kami dan memberi makan hewan2 kendaraan kami. Dia menjaga kami saat kami tidur, sampai akhirnya kami sampai di kawasan musuh. Pada saat itu, tiba2 ia berteriak2, “Betapa aku ingin berjumpa dengan airmata keridhyaan (al-‘aina’ al mardhiyyah).”

Mendengar teriakan itu, kami menghampirinya. Aku pun bertanya padanya ,
‘Wahai sayang, apa itu al-‘aina’ al mardhiyyah?’
Kemudian bocah remaja itu menjawab,

“Saat kami sedang berebahan, tiba2 aku melihat seakan2 ada orang yang datang dan menyuruhku agar aku pergi menemui al-‘aina’ al mardhiyyah. Kemudian dia membimbingku ke sebuah danau. Tiba2 aku benar2 berada di sebuah danau yang tepinya dihiasi dengan aneka permata dan perhiasan. Keindahannya tidak bisa aku gambarkan. Di sana terdapat banyak bidadari yang cantik2. Dan ketika melihatku, mereka tersenyum sambil berkata,

‘Ini adalah suami al-‘aina’ al mardhiyyah’, mereka menjawab ‘kami semua adalah pelayan dan pembantunya. Silakan Tuan terus berjalan ke depan sana.’

Kemudian aku berjalan ke depan. Tanpa terasa, aku sampai di suatu danau di mana airnya berupa susu dan rasanya tidak pernah berubah. Danau tersebut berada di sebuah taman yang penuh dengan keindahan. Subhaanallah, ada banyak bidadari yang kecantikannya membuat aku terpesona. Saat aku melihat mereka, mereka tersenyum kepadaku dan berkata,’Sungguh, ini adalah calon suami Al-‘aina’ al mardhiyyyah.’

Kemudian aku berkata,’Assalamu’alaikunna, adakah di antara kalian termasuk al-‘aina’ al mardhiyyah?’

Mereka menjawab, ‘Wa’alaika As-salam, wahai kekasih Allah. Kami bukan al-‘aina’ al mardhiyyah. Kami adalah pelayan dan pembantunya. Berjalanlah Tuan ke depan.’

Kemudian aku berkata,’Assalamu’alaikunna, adakah di antara kalian termasuk al-‘aina’ al mardhiyyyah?’ Kemudian aku melangkahkan kakiku lagi hingga sampailah aku di suatu danau di mana airnya adalah khamer, bukan seperti di dunia yang memabukkan, tapi ia memiliki rasa yang sangat lezat.

Subhanallah…

Di tepi danau itu juga ada sederet bidadari yang menyambutku dan menyapa dengan tersenyum. Aku ucapkan salam kepadanya dan menanyakan apakahy di natara mereka ada al-‘aina’ al mardhiyyah. Mereka menjawab dengan jawaban yang sama seperti di danau sebelumnya.
‘Berjalanlah Tuan terus ke depan.’

Kemudian aku terus melanjutkan perjalanan dan sampailkah aku di suatu tempat yang amat indah, di mana aku dapati sebuah danau yang airnya berupa madu murni. Bidadari2 yang ada di tempat itu memiliki wajah yang sangat cantik dan bercahaya. Wajahnya tidak akan bisa saya lupakan. Akupun menyapanya dengan salam dan bertanya tentang al-‘aina’ al mardhiyyah seperti sebelumnya.

Mereka menjawab,’Wahai kekasih Allah, kami bukanlah al-‘aina’ al mardhiyyah. Kami hanyalah pelayan dan pembantunya. Berjalanlah wahai Tuanku ke depan.’

Akhirnya, untuk kesekian kalinya aku berjalan menuju suatu tempat yang mereka tunjukkan. Sampai akhirnya, aku tiba di suatu tempat di mana ada sebuah rumah mungil yang bangunannya terbuat dari mutiara putih nan indah. Di depan pintunya ada seorang bidadari yang amat cantik memakai perhiasan, kecantikan dan keindahannya tidak bisa aku bayangkan.

Dia tersenyum menatapku, lau memanggil penghuni rumah mungil tersebut, Wahai al-‘aina’ al mardhiyyah, ini suamimu sudah datang,’ ujarnya, ‘masuklah wahai Tuan, Engkau telah dinanti oleh al-‘aina’ al mardhiyyah.’

Setelah masuk kedalam rumah mungil yang indah itu, aku melihat seorang bidadari yang amat sangat cantik dan begitu anggun sedang duduk di atas ranjang yang berhiaskan dan berukiran nemas. Dia mengenakan mahkota yang berhiaskan intan dan yaqut. Aku sangat terpesona saat menatapnya.

Dia berkata, ‘Selamat datang, wahai kekasih Allah, Dzat Yang Maha Pengasih,. Sungguh sebentar lagi kamu akan mendatangi kami.’

Lalu aku menghampiri dia dan bermaksud memeluknya. Tapi kemudian dia berkata, ‘Tunggu sebentar. Kamu tidak akan bisa memelukku, karena kamu masih memiliki ruh kehidupan.’

Saat itu, aku tersentak kaget. Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya sampai aku engkau bangunkan, wahai Abdul Wahid.”

Syaikh Adul Wahid melanjutkan ceritanya, “ Percakapan kami belum sempat tuntas, tiba2 datang segerombolan prajurit musuh yang menyerang kami. Anak muda tersebut segera menyambut kedartangan mereka dengan gagah berani. Ia begitu lincah menyabetkan pedangnya ke sana kemari sampai akhirnya sembilan orang musuh terbunuh di tangannya. Kami berhasil mengalahkan dan mengusir mereka. Tiba2 kami mendengar teriakan lirih tapi sangat jelas di telinga kami Al-‘aina’ al mardhiyyah.’

Aku mendekati dan menuju arah suara itu. Ternyata, saya dapati anak muda tersebut bersimbah darah.

Dia tersenyum lebar sambil berkata, Wahai Abdul Wahid, al-‘aina’ al mardhiyyyah telah benar2 menjemputku. Subhanallah..

Akhirnya, dia pun meninggal dunia sebagai syuhada Allah. Dia benar2 telah bertransaksi dengan Allah. Semoga Allah meridhoinya. “

SEMOGA KITA BISA MENGAMBIL HIKMAH DAN PELAJARAN DARI KISAH INI, SERTA MENJADI ORANG2 YANG BENAR2 BERTRANSAKSI DENGAN ALLAH, DENGAN PERNIAGAAN YANG TIDAK AKAN PERNAH RUGI DAN BENAR2 MERAIH KEUNTUNGAN DENGAN SURGA-NYA.. AAMIIN..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



Subscribe and Follow Kompasiana: