‘Semoga Allah memaafkan Faizal Assegaf’, kurang lebih beginilah komentar warga kompasiana atas beberapa tulisan Faisal Assegaf yang sering kali provokatif.
‘Allah tidak akan diam melihat kezoliman’, ini bentuk lain ungkapan simpati kepada Sri Mulyani dan Boediono dalam kasus Century.
‘Pada saatnya kebenaran dan keadilan akan datang’, ini sikap ragu-ragu entah menyatakan simpati kepada figur SMI dan Boediono atau simpati kepada politisi di DPR yang mengutak atik kasus century.
Saya kadang-kadang mengamati bagaimana sikap pro-kontra para warga kompasiana terhadap kasus century. Nada-nada kalimat seperti yang saya kutip di atas sering kali membuat saya geli. Saya sempat berpikir, bagaimana kalau kemudian Boediono atau Srimulyani diperiksa secara hukum kemudian dinyatakan bersalah, apakah ini berarti justru Faizal Assegaf yang diridhoi Allah? Hemmmm….
Kemudian, seandainya dengan manuver politik yang penuh intrik dan akal-akalan serta mekanisme konstitusional berhasil dibuat melengserkan Boediono dan Sri Mulyani. Apakah dengan demikian politisi senayan telah dengan gagah perkasa berhasil membungkam Tuhan dan menghalau keadilan ilahi?
Saya tidak mau menguraikan lebih panjang dimana posisi Tuhan dan Keadilannya dalam kasus Century. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat bahwa perwujudan Tuhan dalam berbagai soal yang kita hadapi, baik sebagai pribadi maupun dalam konteks sosial (apa lagi politik), adalah ketika kita menyikapi persoalan itu sendiri.
Tuhan Sang Maha Pencipta telah menyelesaikan proses penciptaannya dengan sempurna atas segala yang ada. Ia yang maha sempurna itu tidak mengurus lagi tetek bengek persoalan politik dan pergantian presiden, wapres, apa lagi menteri. Tuhan tidak hadir dalam kasus Century, tetapi IA adalah pengamat yang Maha Jeli dan Sempurna. IA pun telah memberikan kita akal melengkapi roh dan raga untuk berbuat dan menilai segala keadaan dan peristiwa. Jadi, sekarang bagaimana manusia menempatkan sesuatu pada tempatnya dan menilai sesuatu pada konteksnya sesuai dengan bekal akal yang telah IA berikan itu.
Nah, kembali ke konteks masalah Century. IA tidak akan datang menghukum seorang Faizal Assegaf karena menghujat seseorang dalam kasus Century misalnya. Tapi saya percaya bahwa pada saatnya IA akan meminta pertanggungjawaban kepada siapapun yang menyikapi apakah telah menggunakan secara bertanggungjawab akal sehat yang telah IA berikan.***
Tulisan Terkait:
http://polhukam.kompasiana.com/2010/02/07/saya-yakin-boediono-bersalah-century-1/
http://polhukam.kompasiana.com/2010/02/09/sri-mulyani-korban-sistemik-century-2/
http://polhukam.kompasiana.com/2010/01/26/tanggungjawab-tanpa-impeachment/
http://polhukam.kompasiana.com/2010/01/23/kalau-mau-terus-jadi-presiden-harus-bertanggungjawab/
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
