Artikel

Filsafat

Menteri Agama Plintat Plintut


OPINI | 19 February 2010 | 21:34 Dibaca: 358   Komentar: 99   4 dari 8 Kompasianer menilai Aktual

ilustrasi detik.com

ilustrasi detik.com

Terlalu kasar ketika saya membaca beberapa berita tentang UU nikah siri yang masih simpang siur. Maka tanpa sengaja, keluar lah kata-kata, “menteri agama plintat-plintut”. Ucapan itu dianggap pas, sebab ketika pertama kali Suryadarma Ali berbicara pada tanggal (16/2). Ia menyatakan bahwa RUU Nikah Siri sduah masuk prolegnas dan teragendakan dalam legislasi tahun ini.

Namun tiba-tiba, (19/2) Suryadharma Ali meralatnya dan ia meminta polemik mengenai RUU itu dihentikan dan draf RUU tersebut memang tidak ada wujudnya, (detik.com). Pernyataan itu membuat saya bertanya-tanya, gerangan apakah yang membuat dia begitu mudah memutar balikan ucapan alias menjilat ludah sendiri?

Seorang menteri, masih bisa berbohong alias berdusta seperti itu kepada rakyatnya. Bagaimana dengan menteri lainnya? Apakah memang budaya berbohong atau menjilat ludah sendiri sudah membudaya di negeri ini? dari hal yang tidak mungkin menjadi mungkin? dari tidak ada menjadi bisa ada? Wah celaka lah orang-orang seperti itu.

(Maaf jika sedikit emosional) Saya melihat, persoalan mental, dan budaya tidak bagus sudah menjadi jargon yang menghinggapi seluruh manusia di Indonesia terutama generasi tua yang masih diam di pemerintah. Bagaimana orang tua yang sepatutnya mendapat penghormatan dari anak lebih kecil atau calon generasi penerus bangsa ini.

Sudah memberikan contoh buruk dengan berkata yang berbeda dalam suatu waktu. Di sisi lain berkata ia, tapi di waktu lain berkata tidak. Hal itu tidak sepantasnya diucapkan oleh menteri agama yang mengurusi tentang hakekat moral atau budi pekerti serta keyakinan maha dalam terhadap agama masing-masing pemeluknya.

Pembelajaran berbohong yang disebarluaskan oleh media, membuat saya pribadi sebagai orang muda tentu sangat mengecewakan. Lebih celaka lagi, ketika dia mengucapkan secara seksama dengan wajah tanpa dosa seluruh masyarakat yang menonton siaran televisi tentu seperti disengat ribuan watt setrum maha dahysat.

Padahal, masyarakat banyak menyetujui RUU tersebut. Terutama masyarakat yang merasa dirugikan dengan praktik nikah siri yang setiap tahun terus marak. Terutama di kalangan pejabat yang memiliki uang berlimpah. Bahkan pengusaha pun yang tidak rela istri keduanya diketahui istri pertama melakukan hal sama.

Di sini pihak perempuan menjadi korban. Baik secara harga diri maupun status sosial di masyarakat. Bahkan di mata suaminya pun harga dirinya lenyap sudah! Ketika terjadi percekcokan, pihak suami selalu mengatakan, “kenapa kamu mau jadi istri kedua?” Bukan kah perkataan itu sangat keji, dengan merendahkan martabat seorang perempuan.

Andaikan saja, kita sebagai anak dari pasangan bapak dan emak. Lalu bapaknya tiba-tiba tanpa sepengetahuan anak dan istrinya, melakukan pernikahan secara diam-diam. Setelah diketahuinya kelak, bagaimana rasa harga diri seorang anak dan istrinya? (amit-amit jabang bayi). Begitu pun ketika orang lain mengetahui.

Kalau anak itu merupakan anak dari istri kedua tanpa nikah resmi secara negara. Bagaimana perasaannya? Menjadi bahan olok-olok teman-temannya. Menjadi bahan gunjingan tetangganya. Menjadi sampah diantara kaum perempuan yang merasa memiliki suami tanpa memiliki istri kedua. begitu pun si anak.

Di sini ada persoalan adat istiadat atau norma yang berlaku di masyarakat. Tidak bisa dienyahkan semudah membalikan telapak tangan. Tidak ada persoalan fhsikologis yang dapat dihilangkan dalam hitungan detik. Begitu pun aib yang dipancarkan dari nikah siri belum lah padam dalam kenangan masyarakat tertutup seperti Indonesia.

Jika kami diajarkan berbohong oleh penguasa negeri ini. Mau jadi apa kami? Apakah kami harus menjadi generasi pembohong besar? Menjadi masyarakat tanpa hati nurani? Sungguh kami ingin berusaha jujur terhadap diri sendiri dan lingkungan. Kami generasi yang ingin menikmati sebuah kebebasan yang jujur tanpa diharubiru kebohongan, demi kebohongan.***

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: