Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Isdiyono Pak Guru

Sebuahperjalanan panjang tanpa batas, untuk mencetak buah pemikiran, dalamsebuah coretan, yang kan menjadi sebuahnoktah dalam selengkapnya

Mental Inlander

OPINI | 16 February 2010 | 11:58 Dibaca: 581   Komentar: 1   0

Kekuasaan adalah sebuah hal yang pasti dipegang oleh segelintir orang, tidak bisa dipegang semua. Efektivitas dari sebuah kekuasaan adalah keharusan dalam mengorganisir kekuatan yang lebih besar. Kekuatan yang membidani lahirnya sebuah kepentingan masyarakat.

Ketika kekuasaan itu berada di tangan yang tepat, maka yang tercipta adalah sebuah impian untuk membangun bangsa bersama. Akan tetapi, ketika penguasa adalah orang yang dipilih hanya karena tampangnya saja, maka tunggu nsaja kehancurannya. Penguasa yang benar-benar menjalankan kekuasaannya dengan hati adalah yang tidak bergeming ketika terkena topan polemik. Tetap berkonsentrasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya dalam memajukan bangsa.

Melihat kondisi iklim pemerintahan saat ini, kita sebagai rakyat patut prihatin. Bahwa dalam perjalanan memajukan bangsa ini di berbagai seKtor, banyak pula kejahatan yang mengikutinya. Bahkan, aktornya adalah nama-nama besar yang telah kita kenal sebagai orang yang kompeten. Panggung demokrasi kita seperti panggung kesenian saja. Air mata dan kesungguhan hati tak lebih dari sekedar akting belaka.

Kita semua melihat, bahwa pemimpin-pemimpin bangsa yang kita percayai sebagai kepanjangan lidah rakyat telah mendustai. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yang sedang dialami bangsa ini. Sungguh tega ketika mereka rela menohok dari belakang, di depan terlihat manis dan simpatik untuk mengentaskan kemiskinan.

Ya, itulah mental inlander. Mental yang diwariskan dari penjajah bangsa kita dahulu. Nampaknya penguasa belum bias belajar dari sejarah kelam masa lalu. Sejarah akan mencatat track record perbaikan bangsa kita ini. Baik maupun buruk, semua tidak akan lepas dari catatan zaman, kita sebagai saksinya.

Korupsi menjadi sebuah keprihatinan kita bersama, bahwa ternyata budaya colonial masih merekat erat dalam pikiran para penguasa kita. Kita masih ingat betul, betapa kongsi dagang Eropa saat itu, VOC(Vereenigde Oostindische Compagnie) yang memiliki kekuatan organisasi kuat pun akhirnya runtuh karena para pengurusnya melakukan praktik korupsi.

Bukan hal yang mustahil jika sejarah tersebut akan terulang kembali. Bahwa korupsi tumbuh subur di negeri ini. KPK pun seperti laku keras dagangannya, terkait dengan banyaknya permintaan pengungkapan kasus dan penemuan praktik korupsi. Peristiwa ini telah mencoreng nama baik bangsa Indonesia. Negara ini mungkin tidak akan hancur karena perang, karena memang tak memiliki musuh fisik. Tetapi bisa hancur karena penggerogotan kekuasaan dari dalam. Penyalahgunaan kekuasaan ini telah mengkhianati rakyat.

Sudah sepantasnya pemerintah serius dalam menghadapi permasalah korupsi. Bahwa ini bukan permasalahan individual, tetapi masalah bersama dan terstruktur dengan rapi. Kejahatan kerah putih harus ditumpas demi mendukung kemajuan bangsa. Tidak hanya di bidang kemajuan yang bersifat materi, tetapi juga dalam hal yang bersifat moral.

Moral yang baik tidak mengajarkan pada kita bahwa korupsi adalah jalan cepat mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan sejati tidak didapat dari memepet saudara, memukul atau memeras. Tetapi mengembangkan kemajuan secara bersama-sama dan untuk kepentingan yang lebih luas.

Mental inlander yang bodoh, terjajah dan membokong bangsa sendiri sudah sepantasnya dimiliki olah setiap orang di negeri ini. Diperkenalkan mulai dari bangku sekolahan. Bahwa kejahatan sistemik terkait mafia kekuasaan telah menjadi agenda bangsa. Usaha perbaikan tidak akan ada efeknya jika tidak disertai dengan kaderisasi dari tingkat dini yang baik.

Kepribadian yang dibangun dengan keteladanan akan menjadi sebuah cara yang ampuh dalam memerangi pribadi korup. Kita semua sudah lelah dengan koar-kora tentang pemerintahan yang bersih, tanpa ada keteladanan. Mental inlander dapat ditumpas dengan keteladanan yang konsisten. Artinya, ketika seseorang berbicara dan mengecam korupsi, maka tindakannya pun harus linear dengan ucapannya.

Penumpasan yang besar dapat dilakukan dari pembersihan watak korup yang paling kecil. Perubahan yang efektif dilakukan dari dari diri sendiri, dari hal-hal yang terkecil dan mulailah dari sekarang, meminjam kata-kata AA’ Gym. Mudah-mudahan dengan membersihkan mental inlander, mental pembokong, kita telah berpartisipasi dalam menciptakan kemajuan bangsa yang bersih diiringi perbaikan moral. Wallau a’lam.

Isdiyono, Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Yogyakarta

Aktif di Gapura Trans-f UNY

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: