Kompasiana
Rabu, 08 Pebruari 2012

Filsafat

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Andika

orang biasa, menulis bagi saya ternyata sudah menjadi sesuatu yang terasa hilang jika tidak dikerjakan, selain "belajar me-rekonstruksi" apa yang di lihat (di baca dan di alami), di dengar dan (pernah) di ucapkan, juga "melukiskan" dalam bentuk tulisan apa yang di bayangkan dan atau di inginkan, 31 januar1 2012

Noda Setitik Rusak Susu Sebelanga

OPINI | 10 February 2010 | 21:12 682 12 Nihil

ilustrasi saja

ilustrasi saja

Saya   melihat  banyak anggota dewan  seperti bertengkar pada  siaran langsung sidang sidang pansus century,  termasuk sidang hari ini,  tampak para anggota dewan yang terhormat  sudah mengabaikan sopan santun  cita rasa orang Indonesia yang saling hormat menghormati, hormat kepada sesama, hormat kepada orang tua, hormat kepada orang yang lebih tua, hormat kepada ibu bapa, hormat kepada mertua, hormat kepada pemimpin kita, hormat kepada peminpin sidang.   Paling tidak saya melihat  sudah kendur kawan.

Saya jadi ingat lagi pepatah Indonesia, gara gara nila setitik rusak susu sebelanga.

Saya tanya kepada anak lelaki saya yang sekarang kelas sembilan,   Adek, bapak lupa,  kamu tahu  arti pepatah “nila setitik rusak susu sebelanga”

Ah bapak,  ada ada saja,   enggak tahu ah.

Ini bapak kasih tahu “nila setitik rusak susu sebelanga” atinya ( dikutip dari wikiquote ) hanya karena kesalahan kecil yang tampak tidak ada artinya, seluruh persoalan menjadi kacau dan berantakan.

Salam dari Kuala Lumpur


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012