Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Yunk Gan

“dalam kehidupan kita sehari-sehari, kita dpt melihat bahwa bukan kebahagiaan yang membuat kita berterima kasih. selengkapnya

Nabi Muhammad SAW Pernah di Tegur..

OPINI | 04 February 2010 | 17:51 Dibaca: 1131   Komentar: 98   6

Nabi Muhammad SAW sedang duduk-duduk di rumahnya, saat Salman Alfarisi,

sahabat dekatnya yang bukan dari etnis Arab, yang telah kenyang bongkar

pasang agama dan cara memuja Tuhan sebelum akhirnya bertemu dengan Rasulullah

dan memeluk Islam, datang mendekat. Lelaki cerdas yang selalu bertanya

tentang segala hal dalam pikirannya itu sedang galau. Apalagi kalau

bukan dikepung sebuah tanya.

“Assalamu ‘alaikum, yaa Rasulullah”.

“Wa ‘alaikum salam”.

Tak banyak basa-basi, ia langsung bercerita tentang orang-orang

nonmuslim, yang percaya kepada Tuhan dan melakukan pekerjaan yang

baik, (amalan shalihah). Tapi itu tadi, mereka nonmuslim.

“Akan bagaimanakah nasib mereka kelak, ya Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “Mereka akan mati dalam keadaan tidak Islam,

kafir, dan mereka akan menjadi penghuni neraka.”Salman sungguh sedih

mendengar jawaban itu. Terbayang di benaknya, bagaimana teduhnya

wajah- wajah orang yang percaya dan menyembah Tuhan itu, kepatuhan

mereka kepada Tuhan, dan kasih sayangnya kepada sesama. Setelah pamit,

dia melangkah. Makin gundah, tapi tak kuasa membantah utusan Allah.

Di belakangnya, tubuh Rasulullah sedikit bergetar. Malaikat Jibril, atau

Gabriel, datang berkelebat, membawa kata-kata milik Sang Kebenaran

Sejati. Firman Allah SWT yang kemudian tercatat dalam Al-Qur’an, pada

Surat Albaqarah (2:62) itu sungguh indah, meneduhkan hati.

“Sesungguhnya orang-orang yang percaya, orang-orang Yahudi,

orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin*), siapa saja di antara

mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan

berbuat baik, mereka akan menerima pahala dari Tuhan. Tidak ada

kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Rasulullah memanggil Salman, menyampaikan firman Tuhan yang baru saja

turun itu, dan mengimbuhinya sembari tersenyum lembut, “Ayat itu untuk

teman-temanmu”.

Kisah turunnya (asbabun nuzul) ayat ini menunjukkan kemuliaan dan kerendahan hati

Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Sebagai manusia biasa, Rasulullah

pun ternyata pernah “terjebak” pada cara berpikir yang cenderung

eksklusif. Cara berpikir yang, sayangnya, justru banyak dipelihara

saudara-saudara kita saat ini, di semua agama dan keyakinan.Namun

begitu datang kata kebenaran sejati dari Tuhan, tanpa harus merasa

malu atau enggan, Rasullullah mencabut sendiri ungkapannya beberapa menit

sebelumnya. Sekali lagi, kita tidak akan membahas itu. Tetapi pesan

ayat ini jelas, yang paling dilihat Allah adalah dua hal: PERCAYA dan

BERBUAT BAIK.

Hal ini ada dijelaskan di puluhan ayat Al-Qur’an, dan tertera pula di

Alkitab, Mazmur (37:3). Seperti bersepakat dengan Shakespeare, Tuhan

seolah membisikkan dengan penuh kasih sayang dan pengampunan, “What’s

a name”. Apalah arti sebuah nama, label, karena Tuhan melihat ke dasar

hati.

Seperti Muhammad SAW, Nabi Musa AS pun pernah mendapat teguran karena

memvonis orang lain, seorang gembala yang ingin menunjukkan cinta

kepada Tuhan dengan cara menyisir rambut dan mencabut uban-Nya, telah

salah cara dalam menyembah Tuhan.Musa, engkau telah memisahkan

hamba-Ku dari Aku. Aku telah anugerahkan kepada setiap manusia cara

berdoa masing-masing; Aku telah berikan cara khusus kepada

masing-masing untuk menunjukkan cinta. Aku tidak melihat pada ucapan

lidah, tetapi Aku melihat ke dalam sanubari dan perasaan terdalam hati

manusia. Aku melihat ke dalam hati manusia untuk melihat apakah ada

kerendahhatian, walaupun ucapannya tidak menunjukkan demikian.

Cukuplah sudah segala macam ungkapan dan metofora! Aku menginginkan

hati yang membara dengan api cinta, hati yang membara.”
Salam damai selalu

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 11 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 8 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Ditunggu Kehadiran Buku Berkualiatas Untuk …

Thamrin Dahlan | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: