Artikel

Filsafat

Wijaya Kusumah

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Teacher, Motivator, Trainer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Wijaya adalah Dosen STMIK Muhammdiyah Jakarta, dan Guru TIK SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan ...

Menangis di Malam Sunyi


OPINI | 01 February 2010 | 03:08 Dibaca: 1042   Komentar: 10   2 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat

Google

Menangis di Malam Sunyi, Sumber: Google

Bila kau terbangun dari mimpi di malam hari. Ambillah segera air wudhu dan lakukanlah sholat tahajud. Dalam sholatmu itu berkomunikasilah dengan Tuhan pemilik langit dan bumi. Sadarilah dirimu adalah makhluknya yang lemah. Sangat lemah. Ketika kau menyadari itu, maka akan kau rasakan tetasan air mata keluar deras dari pipimu. Menangis di malam sunyi.

Tak semua orang bisa melakukan itu. Karena kegiatan tahajud adalah bagian dari obat hati. Dia bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki hati yang bersih dan terpanggil untuk menghadap Tuhannya. Di sanalah kadar keimananmu teruji dan bila imanmu sedang turun, maka kau tak bisa melakukan itu. Bahkan kau mungkin akan terlenakan dengan kehidupan dunia yang fana ini. Kau akan katakan pada dirimu, lebih baik tidur daripada sholat”. Tapi tidak bagi mereka orang-orang  yang sholeh.

Itulah fenomena sehari-hari yang seharusnya bisa kita lakukan kalau kita komitmen dan konsisten. Bangun di tengah malam. Segera melapor kepada sang penguasa dan memohon ampun dari segala dosa. Sesunggukan mengakui segala kesalahan dan kehilafan. Berusaha terus untuk memperbaiki diri menjadi insan yang TAKWA.

Akhirnya, menangis di malam sunyi harus membuatmu menyadari, bahwa kita cuma pengembara yang singgah sebentar lalu pergi kembali. Menyadari akan hakekat hidup ini. Darimana mau kemana. Tidak terus menerus terjebak dalam dosa dan sedikit demi sedikit mengumpulkan tabungan pahala untuk bekal ke rumah masa depan. Rumah yang akan kau tempati ketika ajal menjemput.

Awali pekan ini dengan keyakinan bahwa saya HARUS LEBIH BAIK DARI HARI KEMARIN. Mari kita tegakkan sholat tahajud untuk berpasrah diri agar dimudahkan oleh Allah dari semua urusan. Lalu menangislah di malam sunyi memohon ampun dari segala dosa.

Sudahkah engkau melakukannya?

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: