Artikel

Filsafat

Rukyal Basri

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Anak bangsa yang sedang dalam perjalanan, berdomisili di Pennsylvania. Link: Berita Indonesia (www.beritaindonesia.co.id).

Adam dan Iblis


OPINI | 15 January 2010 | 04:24 Dibaca: 380   Komentar: 59   7 dari 12 Kompasianer menilai Bermanfaat

Nun, di suatu masa, ketika wacana kepemimpinan menggelinding di floor al-malaikah. Suasana kontra aklamasi mencatat kemungkinan terbelahnya opini, hakekat dan posisi hambaNya.

Forum demokrasi Ilahiyah, yang membahas agenda pokok kepemimpinan manusia, menerima umpan balik berupa nota pertanyaan dari makhluk yang senantiasa bertasbih, memuji dan mensucikan Rabbnya itu.

“Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi, orang yang akan membuat kerusakan padanya, dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?” (QS. Al Baqarah :30)

Tanggapan dalam nuansa under estimate, sengaja merendahkan,  terhadap seorang yang kemudian dikenal sebagai Adam itu telah melahirkan fenomena dan kenyataan yang kontadiktif atas pemahaman status dan eksistensi para malaikat, yang di akhir ayat itu memuat nota jawaban Allah: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui “. Para Malaikat yang berimanpun bersujud.

Adalah realita al-haq, jika kemudian  - dengan izin Allah tentunya - Adam mampu dan lulus melewati fit and proper test-Nya. Kelulusan  yang juga adalah  simbol kemenangan dari simplifikasi ‘diam emas’ Adam, atas protes ketidak setujuan dari sebagian al malaikah. Atas hidayahNya jua, Malaikat  ikhlas mengakui kepemimpinan Adam.

Legitimasi kepemimpinan Adam, ternyata pada sisi yang berseberangan, telah menandai berdirinya barisan pembangkang yang dikomandani Iblis, yang membakar pengikutnya dengan sebuah deklarasi umum : “Saya lebih baik dari dia, ana khairu minhu“. Tak kurang pula dalil feodalistikpun dijadikan jurus pamungkas: “Khalaqtani min naar, wakhalaqtahu min thin“. ” Saya dibuat dari api, sedangkan dia ‘hanya’ dari tanah”.

Iblis merasa   lebih  berhak atas amanah kepemimpinan itu, karenanya mereka engkar atas perintah sujud.  Sikap yang dikompori oleh egosentrisme feodalistik ini kemudian melahirkan kufur yang maha dahsyat dengan  segala tipu dayanya, menghanguskan  norma hukum yang semestinya sportif, santun dan sehat berintelektual. Padahal tidak ada sepotong ayat Allahpun yang mengatakan bahwa api lebih baik dari tanah. Taqwalah faktor penentunya.                                                       

Iblis kemudian menyebarkan virus prilaku syaythoniyah, dengan cara  menumpahkan racun perpecahan kedalam madaniyah yang mulai mekar berkembang, di seluruh jagad Allah. Juga di bumi pertiwi tercinta ini, tak terkecuali. Bahkan sampai hari ini.

Salam Persatuan.

*Foto / illustrasi :Google.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: