Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Florensius Marsudi

Lelaki sederhana, istri satu, anak satu, putri. Sedang belajar (lagi). Belajar menulis....

Optimis, Pesimis dan “ManTAP”

OPINI | 02 January 2010 | 09:21 Dibaca: 487   Komentar: 2   3

Tahun baru 2010 telah kita lewati beberapa hari. Menyimak komentar-komentar di media elektronik dan cetak, beberapa tulisan di facebook, ditambah ceramah - ceramah keagamaan ataupun harapan-harapan para petinggi negeri ini di tahun baru; aku dapat menyimak tipe-tipe manusia.

Pertama, tipe manusia yang optimis, manusia beruntung.

Manusia yang optimis, manusia beruntung adalah manusia yang dapat melihat bahwa hidup ini merupakan omset. Sebuah income, hidup sebuah masukan. Hidup seperti sebuah tabungan yang tidak setiap orang dapat mengisi dan mengalaminya. Manusia optimis memandang ke depan dengan cara pandang yang positif. Apapun yang terjadi selalu ada celah untuk mencari jalan keluar, dan menjadi lebih baik.

Kedua, tipe manusia pesimis, manusia yang rugi.

Manusia pesimis, manusia yang rugi, manusia yang senantiasa memandang bahwa tahun baru ini tak perlu memperbaiki diri. Tak ada waktu berbenah diri, atau berbaik diri atas kesalahan yang lalu. Manusia yang rugi adalah manusia yang tak dapat merawat apa yang telah diterima di tahun lalu dan disia-siakan pula. Pemikiran manusia pesimis adalah pemikiran negatif. Semua serba minus…minus…dan minus. Bagi manusia pesimis, tahun baru adalah tahun lama yang bergeser waktu dan sebutan saja. Isi sama saja. Seolah dunia ini tak ada celah untuk keluar. Buntu. Andaikan ada jalan keluar, ujung-ujungnya adalah kegagalan.

Tipe ketiga, adalah manusia “ManTAP”.

Tipe yang ketiga adalah tipe manusia “ManTAP”, yang berarti Manusia Tak Ambil Pusing. Tipe ini identik dengan tipe manusia cuek bebek. Masih lumayan bebek, digiring ke utara bebek akan ke utara, digiring ke selatan, dia akan ke selatan. Tipe manusia yang ketiga ini juga ada kecenderungan tak berinisiatif. Begitulah hidup, begitulah dijalani. Filosofinya adalah filosofi air mengalir. Pada hal ia tahu, air mengalir selalu ke tempat yang lebih rendah. Apa artinya air di tempat rendah?

Nah, untuk melihat secara sederhana, coba kita tengok apa reaksi segelintir orang Indonesia ketika Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) ASEAN - Cina diberlakukan per 1 Januari 2010. Ada yang mengatakan, “Bagus, Indonesia akan bersaing, dan perlu meningkatkan kualitas produknya”. Namun tak jarang yang komentar, “Waduh kita akan kolaps. Industri akan tutup. Kita akan mengubah pola dari pengusaha menjadi pedagang, kita akan kebanjiran produk Cina…dan lain sebagainya”.

Kita baru menghadapi masalah sosial ekonomi, belum masalah sosio kultur lingkungan hidup yang harus menurunkan 26 % emisi GRK pada tahun 2020. Belum listrik yang byar pet…byar pet…, belum Bahan Bakar Nabati-nya (ala Roy Hendroko) yang kurang terperhatikan…. Masih banyak yang baik sebagai pekerjaan rumah kita.

Kini kita dapat berkaca, kita manusia apa dan sudah berbuat apakah?

Sumber inspirasi, KOMPAS, 21 Desember 2009, hlm. 1; KOMPAS, 30 Desember 2009. hlm.1, 15, 17.

@Hari kedua, tahun baru; untuk Er Ha sahabatku, “selamat berjuang”

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Heritage Kereta Api, Memadukan Bisnis …

Akhmad Sujadi | | 20 August 2014 | 08:31

Kabar Gembira, Kini KPK Ada TVnya! …

Asri Alfa | | 20 August 2014 | 11:16

Kesadaran Berdaulat Berbuah Ketahanan dan …

Kusuma Wicitra | | 20 August 2014 | 12:38

Saonek Mondi Sebuah Sudut Taman Laut Raja …

Dhanang Dhave | | 20 August 2014 | 12:13

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 8 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 9 jam lalu

Massa ke MK, Dukungan atau Tekanan Politis? …

Herulono Murtopo | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: