Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Katedrarajawen

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis" ______________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan selengkapnya

Orang Lain Boleh Menghina Diriku, Namun Aku Tak Boleh Menghina Diriku Sendiri!

OPINI | 21 December 2009 | 05:22 Dibaca: 6197   Komentar: 40   4

Kata-kata Hinaan dan Makian Tak Akan Membuat Aku Terhina atau Termaki. Begitu Juga, Sebuah Kata Anjing Tak Akan Segera Merubah Aku Menjadi Anjing. Namun Saat Aku Mencoba Membalas, Dengan Berkata Kamu Anjing, Maka Pada Saat Itu Tak Ubahnya Aku Sudah Seperti Anjing!

katedra, dasar kamu bodoh,oon,banyak ngomong, dasar monyet, gak tahu diri, biar cepat mati....ehmmm, amin...amin. wordpress.com

katedra, dasar kamu bodoh,oon,banyak ngomong, dasar monyet, gak tahu diri, biar cepat mati….ehmmm, amin…amin. wordpress.com

Judul tulisan ini adalah Kata-kata kekuatan yang selalu saya katakan pada diri sendiri, istri, atau teman-teman yang merasa dihina , diremehkan atau direndahkan orang lain karena kesombongannya. Memang menyakitkan dan menimbulkan rasa marah bahkan mungkin dendam yang berkepanjangan. Akan tetapi semua itu tak perlu untuk disimpan menjadi sampah yang terpendam . Sakit dan marah cukup dirasakan saat itu saja, kalau dendam sampai dipendam justru akan semakin menyakitkan, merugikan kesehatan dan beban yang menyesakan dada.

Prinsipnya adalah, orang lain mau menghina atau memaki itu hak mereka, namun kitapun punya hak untuk tidak merasa terhina dan termaki.
Kata-kata anjing, bukan manusia, bahkan air ludah sudah pernah saya rasakan atas sebuah penghinaan dan penghakiman.

Tapi kata-kata dan penghinaan itu justru untuk mengingatkan dan menyadarkan seketika, bahwa saya tidak boleh melakukan hal yang demikian kepada orang lain. Karena saya sendiri sudah merasakan kejadian ini sungguh menyakitkan. Jangan rasa sakit hati yang saya dapatkan lantas diberikan kepada orang lain sebagai pelampiasan. Biarkan saja rasa sakit hati itu diolah menjadi hati yang pengertian dan mengasihi.
Adakah saya akan merugi kalau demikian? Ya, mungkin merugi dalam pemikiran dalam kepintaran saya, namun akan menjadi kaya dalam penilaian hati nurani yang selalu waspada.

Hinaan dan caci maki tidak akan sampai menyakitkan kalau kita bisa mengganggap itu bukan caci maki dan hinaan, tapi sebagai mutiara yang indah dan berharga. Yang kita perlukan saat menghadapi permasalahan hidup hanyalah bagaimana merubah sudut pandang. Teorinya gampang pelaksanaannya yang perlu perjuangan. Itulah gunanya kita selalu menjadikan setiap peristiwa hidup, apapun itu sebagai pembelajaran. Sehingga setiap peristiwa kehidupan itu bagaikan permata yang akan membuat kita menjadi kaya raya.

Yang seringkali kita lakukan saat menghadapi caci maki dan penghinaan adalah selain membela diri kita secara langsung atau tak langsung akan melakukan serangan balik berupa hinaan atau caci maki juga. Kalau tidak bisa atau merasa takut untuk membalas, kita akan jadikan sebagai dendam. Tapi coba sejenak kita pikirkan dan renungkan, dengan cara demikian bukankah tanpa kita sadari telah meremehkan dan menghina atau merendahkan diri sendiri?

Saat orang lain menghina kita dengan kata anjing, monyet, babi atau csnya yang lain, lalu kita membalas dengan kata-kata binatang seperti itu , bukankah kita telah menunjukkan bahwa kita juga tak ubahnya sepeti seekor binatang?

Mungkin saja saya salah, oleh sebab itu saya hanya bisa bilang, coba renungkan! Kalau kita memang masih manusia pasti masih bisa merenung, tapi kalau sudah jadi binatang, wah, masih bisakah merenung?

Mau merenung atau marah?
Semoga pada saat merenungi, kita tidak menemukan bahwa kita pernah menjadi seekor binatang?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 5 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 6 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 7 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 12 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Cacat Kusta Turun ke Jalan …

Dyah Indira | 9 jam lalu

Sayin’ “I Love to Die” …

Rahmi Selviani | 10 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Andrias Bukaleng Le... | 10 jam lalu

Ratapan Bunga Ilalang …

Doni Bastian | 10 jam lalu

Mulut, Mata, Telinga dan Manusia …

Muhamad Rifki Maula... | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: