Artikel

Filsafat

Katedrarajawen

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Menulis seadanya dan sebisanya. Berharap dapat menginspirasi. Menulis sebagai pembelajaran... Terlalu banyak hal yang dapat dituangkan dalam tulisan. Menulis itu ada selaksa nikmat. Sesuatu banget. Ya, mendatangkan hari yang cerah dan bahagia. Menulis untuk menjadikan dunia lebih berwarna. Di atas segalanya menulis untuk instropeksi diri dan melatih kesadaran. Menulis pun dapat menjadi doa. Menggali mutiara-mutiara jiwa yang berharga untuk memberi makna kehidupan. Menulis itu...

Tuhan Pun Menangis!


OPINI | 20 December 2009 | 04:29 Dibaca: 427   Komentar: 27   3 dari 3 Kompasianer menilai Inspiratif

ooo0ooo

Diam-diam saling menghujat
Masih kurang,
tak segan juga terang-terangan berdebat

Katanya mengerti agama
dan memahami kitab suci

Kalau bicara selalu membawa-bawa,
ini kata Tuhan saya


Orang lain sedikit saja membahas
Masalah agama untuk mencerahkan,

Akan disalah artikan,
padahal maknanya belum dipahami benar

Matanya terang selalu mengawasi
Melihat kesalahan orang lain
Untuk dijadikan kesempatan merendahkan
Lepas tertawa dengan kebanggaan
Bahwa saya adalah yang paling benar

Saya jadi bertanya,
mengapa harus begini?
Bukankah sesungguhnya dengan demikian
Telah menunjukkan kepada kita

Bahwa ia sendiri
Selain menghujat orang
yang berbeda agama dengannya

Telah tanpa sadar merendahkan agamanya sendiri

Coba tanyakan kepada para pemuka agama
Yang mengerti dan berhati suci

Apakah dalam agama itu diajarkan untuk menghina
dan menghujat agama orang lain ?

Agamamu agamamu, agamaku agamaku
Sudah begitu jelas dan tepat, sebagai pengingat
Namun sikap seperti ini
Masih bebas berkeliaran disekitar kita

Tetapi kitapun tak boleh menyalahkan
Haruslah mencoba untuk mengerti
Mengapa bisa demikian?

Mengatasnamakan untuk mengajari,
Akan tetapi hati penuh benci

Mengapa tidak sedikit saja untuk membuka hati ?
Untuk memahami dan bisa menerima perbedaan
Biarkan orang lain untuk menikmati
Kebenaran yang ia pahami


Buat apa tiada henti menghujat dan memaki

Yang mungkin saja bisa menyakiti
Baik hati orang lain dan diri sendiri

Namun yang paling menyedihkan

Adalah hal ini akan membuat Tuhan bersedih
Menangis diujung langit
Melihat umatnya tak bisa untuk saling mengasihi
Mengapa benih kasih yang tertanam dihati
Tidak berfungsi lagi?

Yang ada dengan dengan tinggi hati
Merendahkan orang yang berbeda pandang
Maafkan ya Tuhan hambamu ini,
Bila telah membuatMU bersedih

Meributkan apa yang kami tidak mengerti

Sesungguhnya , diujung malam
HambaMU pun diam - diam menangisi
Engkau pasti mengetahui akan isi hati ini
Yang ingin selalu berdamai dan saling mengasihi

Semoga Engkau selalu memayungi hati kami
Dengan kasih untuk mengusir rasa benci
Yang telah menyelimuti berhari-hari

Semoga kami bisa saling mengerti
Untuk tetap selalu menghormati

Biarkan benci itu pergi dan
Menjadikan kami untuk terus saling mengasihi….

Damai, damai, dan damai

Datanglah damai
Menciptakan sebuah surga yang indah di dunia ini

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: