Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Filsafat

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Zulfikar Akbar

Pegiat media, copy writer, content writer. Tertarik pada masalah-masalah sosial, sastra, juga budaya masyarakat nusantara. Selain juga berminat pada Sufistik dan Zen.

Teologi Pemimpin (untuk Rakyat dan Penguasa)

OPINI | 19 December 2009 | 05:22 366 22 6 dari 6 Kompasianer menilai Inspiratif

Bukan cahaya itu yang menjadi tujuan sayang (fickar09)

Bukan cahaya itu yang menjadi tujuan sayang (fickar09)

If you’re a queen,

never try to kill the king

Kalimat itu melintas begitu saja di pikiran. Lalu, sejenak kemudian, facebook menjadi sasaran untuk saya mencantumkan kalimat tersebut. Jika engkau adalah seorang ratu, jangan pernah mencoba untuk membunuh raja.

Jika kalimat tersebut disebut sebagai kalimat asal, saya kira juga memang sah karena jelas kalimat itu muncul saat saya sedang mencoba netralkan pikiran dari banyak hal yang sedang terpikir. Persoalan kehidupan keseharian, kondisi perut yang harus diikat kencang sampai dengan kondisi fisik yang sedang tidak begitu baik–kesehatannya–.

Jujur, tidak ada niat untuk menggurui siapa-siapa, saat kemudian saya memutuskan untuk menuliskan tulisan yang berhubungan dengan kalimat itu. Kenapa? Jelas, saya paling tahu ketololan yang saya miliki sendiri, kebodohan yang masih menyatu dengan diri saya.

Semakin jauh dari dari maksud yang ingin saya uraikan sebelumnya di pembuka, sepertinya. Tetapi memang benar seperti itu, hanya mencoba menyelam ke dalam.

***

Ratu adalah para perempuan. Ia adalah penguat yang menjadi energi–izinkan saya untuk pergunakan terlebih dahulu satu perspektif–, bagi lelaki sajakah? Tentu tidak, saat menjadi seorang ibu, ia menjadi nyawa untuk anak-anaknya. Apakah ratu lebih rendah dari seorang raja? Saya kira tidak. Dan memang aku sejak lama tidak setuju menempatkan mereka pada posisi lebih rendah. Alasan yang paling mungkin saya turunkan disini–tidak bisa berpikir terlalu dalam karena semalam penuh tidak tidur sama sekali–, lihat saja kursi para raja dan ratu, kukira tingkat ketinggiannya tidak berbeda. dan itu kesetaraan.

Lantas, apakah kesetaraan kemudian membuat kita menjadi manusia yang membiarkan kapal melaju di lautan hanya dengan elusan angin di kemudi? Kukira ini bukan sebuah kebijaksanaan. Tetap saja harus ada yang bersedia untuk maju kedepan menyentuh kemudi itu, mencermati navigasi, menentukan tujuan dengan tetap menyepakati terlebih dahulu seorang sahabat yang sama-sama mengisi kapal tersebut.

Sekali lagi maafkan saya, tidak hendak untuk menggurui siapa-siapa.

***

Seperti itulah aku mencoba menggambarkan negeri ini. Disaat, di berbagai sudut orang-orang berbincang untuk membicarakan kondisi negaranya, aku hanya bisa bisa diam. Dan aku berkeyakinan bahwa diamku adalah pilihan paling bijak, tentu ini hanya menurutku. Kenapa? Kembali pada bahwa hanya diriku yang paling tahu kebodohanku sendiri. Namun dalam diam itu tidak serta merta aku juga diam dari merenung. Dalam semua keterbatasanku, mencoba untuk memahami. Tetapi malah menjadi sebuah tanya, apakah memungkinkan tangan bisa bekerja dengan cepat jika pada saat yang sama mulut bergerak deras dengan alasan menasehati, meluruskan dan memperbaiki?


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012