Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ulul Rosyad

Lahir berbarengan dengan banjir bandang di kota kecil Tuban. Sangat gentar dengan cecak

Ketenangan Jiwa, di Situ Bahagia Bersemayam

OPINI | 17 December 2009 | 08:08 Dibaca: 1241   Komentar: 0   0

Siapa yang tidak mau bahagia? Kita semua ingin kebahagiaan. Dan anggapan letak kebahagiaan pun beragam. Umumnya adalah di ukur dengan harta, pangkat, jabatan dan kemewahan.
Bahagia tidak bisa di ukur dengan harta maupun pangkat atau jabatan yang kita sandang maupun kemewahan yang kita nikmati. Justru karena kekayaanlah yang sering menjauhkan bahagia pada manusia. Sudah menjadi kodrat manusia jika selalu merasa kurang. Begitupun urusan harta, pangkat atau nikmat dunia lainya. Seringkali apa yang kita punyai menjadikan hati kita tidak tenang. Takut kehilangan.

Ketenangan jiwa itulah kunci pembukanya. Sebab di hati yang tenanglah letak kebahagiaan yg hakiki.

“Kaya yang sebenarnya adalah ketenangan jiwa”.

Ketenangan jiwa adalah suatu anugerah Allah swt yang sangat berharga. Banyak manusia yang merindukanya, namun sedikit sekali yang dapat memperolehnya. Hal ini disebabkan banyak manusia lupa pada penciptanya, lupa pada Dzat yang memberi kebahagiaan.

Dalam mencari kebahagiaan manusiapun beragam dalam prosesnya.
Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yg terlalu bernafsu. Namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yg mereka cari.
Kita mungkin dapt mencarinya dengan menerjang kesana kemari, menabrak sana sini, atau mungkin menerobos sana sini untk mendapatkanya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, keseluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang kita dapat kita santap setelah mendapatkanya.

Kebahagiaan tidak bisa di dapat dg cara seperti itu. Bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yg dapat disimpan. Bahagia layaknya udara dan kebahagiaan adalah aroma dari udara tsb. Bahagia itu ada di dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pergi pula kebahagiaan itu dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin jauh pula itu dari jangkauan.

Cobalah temukan kebahagiaan itu didalam hati. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu di setiap langkah yg kita lakukan. Dalam bekerja, dlam belajar, dan dalam menjalani hidup. Dalam sedih maupun gmbira. Temukanlah bahagia itu perlahan, dengan tenang, dan dengan ketulusan hati.

Tangkaplah kupu-kupu itu scara perlahan, lihatlah kepakan sayapnya yg memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yg mengayun perlahan, layaknya kebahagian yg hadir dalam hati kita. Warnanya yg begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka atau kita yg mampu menyelaminya.

Bahagia itu ada dimana tempat kita berada, rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikanya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan disekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya..
Telusuri rasa itu dalam kalbu kita. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, terkadang tanpa kita sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri..
Marilah kita berusaha dan berdoa agar hati selalu diberi ketenangan oleh-Nya. Dia lah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati orang-orang mu’min. Allahu Yaa Rabb..

Tags: bahagia

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Google Street View, Akankah Disalahgunakan? …

Deliana Setia | | 21 August 2014 | 23:02

Pembantu Kalahkan Mahasiswa, Apa Bisa? …

Seneng Utami | | 22 August 2014 | 01:24

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Hati-hati Minum Jamu Pemberian Paranormal …

Mas Ukik | | 21 August 2014 | 20:15

Mau Ikutan Diskusi Bareng Anggota DPR Komisi …

Redaksi Kompas.com | | 21 August 2014 | 13:59


TRENDING ARTICLES

Pernyataan Politik Bermata Banyak …

Hendra Budiman | 10 jam lalu

Ikhlas Menerima Jokowi-JK Sebagai Pemimpin …

Topik Irawan | 11 jam lalu

Belum Ada Ucapan Selamat dari Prabowo-Hatta …

Revaputra Sugito | 11 jam lalu

Rusuh MK, Sudirman-Thamrin Mencekam …

Mawalu | 13 jam lalu

Ditolak MK, Pendukung Prabowo Berduka …

Samandayu | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: